23 September 2013 RUSLAN JUSUF
Ilustrasi/Admin (Kompas.com)
SETELAH sekian lama vakum dari dunia literasi, kembali terbesit dalam benak saya akan nasib situs-situs artefak peninggalan Kerajaan Lamuri yang berada di Aceh Besar. Untuk itulah, saya kembali mengangkat cagar budaya Lamuri dalam tulisan ini. Sebagai salah seorang putra Aceh, sudah seharusnya salah satu bukti sejarah endatu (leluhur), kami selamatkan dari pemusnahan secara sistematis oleh orang-orang munafik. Pada tahun 2012, gaung penyelamatan bekas Kerajaan Lamuri banyak menghiasi berbagai media cetak dan elektronik di Aceh. Mulai dari aktivis, budayawan, sejarawan hingga politisi, ”berebut” memberikan argumen yang berkeinginan agar situs Lamuri tetap dipertahankan keberadaanya serta menolak dengan keras pembangunan lapangan golf, yang rencananya akan dibangun di kawasan tersebut.
Setahun atau bahkan lebih, heboh kasus Lamuri telah berlalu. Namun, bagaimana kabarnya kini? Masih suatu tanda tanya besar. ”Angin surga” yang pernah dihembuskan oleh beberapa anggota DPR Aceh, ternyata hanyalah isapan jempol belaka. Konkritnya, hingga kini banyak peninggalan sejarah dan budaya Kerajaan Lamuri masih terbengkalai. Lokasinya ditutupi semak belukar, artefak-artefak sisa kejayaan Lamuri berserakan hingga pemugaran yang belum dilaksanakan sebagaimana janji yang pernah disampaikan oleh orang nomor satu di Aceh Besar.
1379914178872665939
Makam Maulana Qadhi Sadrul Islam Isma
Embrio Kerajaan Aceh Darussalam
Menurut salah seorang peneliti sejarah Aceh, Teungku Taqiyuddin Muhammad, Kerajaan Lamuri merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Kerajaan Aceh Darussalam merupakan salah satu dari 5 (lima) besar kekuatan Islam yang tangguh pada masanya. Kelimanya terikat dalam suatu kerja sama ekonomi, politik, militer dan kebudayaan. Antara lain, terdiri dari, 1) Kerajaan Turki Usmaniyah, yang berpusat di Istambul; 2) Kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara; 3) Kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah; 4) Kerajaan Akra di India; 5) Kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara, [lihat A. Hajsmy, "Banda Aceh Darussalam Pusat Kegiatan Ilmu dan Kebudayaan", dalam Ismail Suny (ed.), Bunga Rampai tentang Aceh, (Jakarta: Bhrata Karya Aksara, 1980), 208]. Puncak kejayaan dari Kerajaan Aceh Darussalam adalah di masa kepemimpinan Sulthan Iskandar Muda (1607-1636 M).
Mengingat jejak sejarahnya yang memberikan andil besar terhadap kemunculan Kerajaan Aceh Darussalam, maka sangat penting menjaga sisa-sisa warisan kerajaan Lamuri agar tidak lenyap. Sebab, ini merupakan bukti konkret kekayaan sejarah dan budaya Aceh.
Senada dengan Taqiyuddin, pemerhati sejarah Aceh lainnya, M Adli Abdullah, yang banyak menuliskan topik-topik mengenai budaya dan sejarah, juga mengungkapkan keprihatinan yang sama. Ia menuturkan bahwa ketidakpedulian pemerintah terhadap situs Lamuri telah menyebabkan timbulnya klaim bahwa Kerajaan Lamuri dahulunya terletak di Jambi. ”Padahal bukti-bukti sejarah menunjukkan Lamuri berada di Aceh. Maka hal ini perlu dijaga sebagai pembuktian sejarah”, pungkasnya. (tgj.co.id)
ForLamuri
Kekhawatiran akan nasib situs Lamuri yang terancam oleh pembangunan lapangan golf, maka beberapa LSM dan Ormas berinisiatif untuk mengadvokasi bekas kawasan Kerajaan Lamuri tersebut. Karena itu, dibentuklah Forum Penyelamatan Lamuri (ForLamuri).
Dalam pernyataannya, ForLamuri menegaskan bahwa pembangunan lapangan golf di kawasan seluas 300 Ha itu harus segera dihentikan. Sebab, dapat memusnahkan warisan sejarah dan budaya Kerajaan Lamuri.
ForLamuri meminta agar pemerintah Aceh Besar melindungi cagar budaya Lamuri. Khusus untuk investor pembangunan lapangan golf, ForLamuri mendesak agar lokasi pembangunan dipindahkan ke wilayah lain yang tidak menyimpan warisan sejarah Aceh. Ini dikarenakan, jika pembangunan lapangan golf dianggap ”sangat penting”, maka carilah kawasan yang cocok, tapi tidak menganggu peninggalan budaya dan sejarah Aceh serta masyarakat di sekitarnya.
Masih terbengkalai
Walau telah mendapat perhatian dan desakan yang luas agar situs Lamuri dipugar dan dijadikan cagar budaya, tapi kenyataannya hingga kini belum ada reaksi cepat dari pihak-pihak terkait. Sisa-sisa Kerajaan Lamuri seperti, makam, nisan plak-pling dan artefak-artefak, masih saja berserakan dan terbengkalai. Semak belukar masih terlihat ”mengepung” area tersebut. Bagaimanakah kelanjutannya? Belum ada jawaban yang pasti.
Masyarakat yang pro dan kontra pembangunan lapangan golf sama-sama teguh dengan pendiriannya masing-masing. Pemerintah Aceh Besar terkesan lepas tangan dalam hal ini. Mediasi yang pernah digagas di HOTEL The Pade, layaknya ”gencatan senjata”. Penetapan kawasan bekas berdirinya Kerajaan Lamuri masih harus ”menunggu” hasil penelitian yang mendalam. Kapankah penelitian itu akan selesai? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Semoga kepentingan pihak tertentu untuk meraup rupiah, tidak menyebabkan warisan sejarah dan budaya Lamuri musnah dari bumi Aceh. Karena, bila ini terjadi, ke manakah generasi Aceh akan pergi untuk menelusuri jejak sejarah endatunya?
Ruslan
Rabu, 22 Oktober 2014
Sejarah (Aceh) Nisan Lamuri, Saksi Kejayaan Masa Lalu
28 Januari 2014 RUSLAN JUSUF
13909276671910327192
Salah satu Nisan Plak pling sisa Kerajaan Lamuri (Sumber: http://seputaraceh.com/wp-content/uploads/2012/11/Nisan-Lamreh.jpg)
BERADA di Lamreh, Aceh Besar, atau sekitar 30 km dari Banda Aceh; Dahulu berdiri suatu Kerajaan yang dinamakan Lamuri. Banyak versi tentang nama Kerajaan tersebut. Ada yang menyebutnya Ramni, Lambri, Lan-li, Lan-wu-li, dan tentu saja Lamuri.
Masa lalu tentang Kerajaan ini, dapat dilihat lebih jelas melalui batu nisan makam pembesarnya, benteng pertahanan dan sisa-sisa keramik yang tersebar luas tak beraturan, pada bekas wilayah Kerajaan tersebut. Ada beberapa literatur dan catatan yang membahas tentang sejarah Kerajaan Lamuri. Khususnya, dituliskan oleh para penjelajah yang pernah singgah dan tinggal di sana.
Kerajaan Lamuri, juga pernah di invasi oleh Kerajaan Chola (300 SM – 1279 M) yang pusatnya berada di wilayah Selatan anak benua India – kini masuk dalam wilayah administrasi Negara Federal India, di bagian Selatan yang banyak di huni oleh etnis Tamil – untuk memperluas wilayahnya.
Wilayah tempat dahulunya menjadi pusat Pemerintahan Lamuri yang luasnya sekitar 300 Ha, kondisinya sungguh memprihatinkan. Banyak artefak nisan-nisan yang menjadi saksi kejayaan masa lalu Lamuri, terbengkalai dan berserakan begitu saja. Tanpa ada perhatian yang memadai dari pihak pembuat kebijakan di Pemerintahan. Bahkan sebelumnya, hendak dijadikan sebagai lapangan golf. Walaupun akhirnya tidak terlaksana. Kondisi ini juga ditayangkan oleh salah satu media swasta tersohor di Indonesia, dalam acara MELAWAN LUPA: LAMURI, KEJAYAAN YANG TERLUPAKAN (1, 2, 3) – [metrotvnews.com, 08/01/2014].
Informasi awal tentang keberadaan Lamuri dapat dijumpai pada catatan Cina, oleh seorang perantau Muslim, Ma-Huan dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan disebutkan terdapat nama Lam-Poli. De Casparis menyatakan nama Poli dapat disamakan dengan Puri, lengkapnya Lam-Poli atau Lam-puri—Dalam-Puri — Lamri, namun sampai sejauh mana persamaan Poli dengan Lamuri belum dapat dipastikan. Dalam catatan lain yang berasal dari tahun 960 M, tersebut nama Lanli sebagai sebuah tempat persinggahan utusan-utusan dari Persia saat kembali dari Cina setelah menempuh perjalanan selama 40 hari menunggu musim yang baik untuk melanjutkan perjalanan pulang ke negerinya (Montana, 1996/1997:84).
Edwards Mc. Kinnon menulis tentang kepopuleran Lambri, yang terletak di ujung utara Aceh. Mengutip dari berbagai tulisan tentang Lambri, ia menyebutkan bahwa pada tahun 916 M, Lambri telah disebut oleh Abu Zaid Hasan sebagai Rami/Ramni. Kepopuleran Ramni banyak diperbincangkan oleh para ahli, termasuk Tome Pires dalam bukunya “The Suma Oriental of Tome Pires”. Berdasarkan temuan arkeolgis berupa keramik Cina dan studi geologi, Mc. Kinnon berkesimpulan bahwa Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc. Kinnon menduga terjadi pergeseran ucapan menjadi Lambri (Kinnon,1988:103-121).
Codier yang mengutip pandangan Groeneveldt, yang berpendapat bahwa Lambri dekat dengan Aceh. Selanjutnya Codier memperkirakan Lambri terletak di suatu tempat yang bernama Lamreh dekat dengan Tungkop. Pendapat Codier ini kemungkinan lebih tepat, mengingat dalam bahasa-bahasa nusantara, vokal i dan e lebih mungkin mengalami pergeseran artikulasi, demikian juga dengan vokal u dan o, sehingga ucapan Lamreh lebih mungkin bergeser menjadi Lamri, Lamuri ataupun Lambri (Montana,1996/1997:85).
Dari catatan lain disebutkan, bahwa “penduduk Lan-wu-li sebagian berdiam di bukit-bukit dan jumlah mereka sedikit”. Hal ini menunjukkan bahwa Lamuri tidaklah terletak di lembah Aceh, tetapi pada sejalur pantai kecil yang diperkirakan berada di daerah sekitar Krueng Raya. Meskipun pusat kerajaannya sempit namun wilayah kekuasaannya meluas sampai ke sebagian lembah Aceh (Iskandar,1973: 28-30).
Beberapa peninggalan arkeologis sampai saat ini masih dapat kita temukan di sekitar Krueng Raya. Peninggalan-peninggalan arkeologis tersebut, tampak cukup megah di sepanjang daratan sempit di daerah yang saat ini disebut gampong (desa) Lamreh.
Nisan Plak Pling, Sebagian Bukti Arkeologis Lamuri
Gampong Lamreh terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Di Lamreh ini, tepatnya berada ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubok dengan Benteng Inong Balee, terdapat beberapa buah nisan yang memiliki bentuk unik. Batu nisan tersebut secara umum berbentuk batu tegak atau tugu persegi empat yang makin keatas makin meruncing, membentuk piramida. Berdasarkan informasi penduduk, batu nisan tersebut dinamakan nisan Plak pling. Beberapa peneliti sependapat bahwa nisan-nisan tersebut digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad ke-16 atau lebih awal dari itu (Montana,1996/1997: 90).
Bentuk nisan ini cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir. Nisan-nisan tersebut memiliki bentuk yang bersumber pada tradisi sebelumnya, pra-sejarah dan klasik. Nisan tersebut dilengkapi dengan pola hias, berupa pahatan flora, geometris atau kaligrafi.
Salah satu penyebab munculnya nisan tipe-tipe lokal (plakpling) adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisive terhadap anasir yang datang dari luar. Kreativitas mengubah dan menggubah anasir asing menjadi anasir nusantara merupakan strategi adaptasi. Corak lokal merupakan wujud dari kebebasan seniman ataupun model yang berkembang dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. Perkembangan bentuk dari yang sederhana sampai pada yang rumit adalah sebagai respon dari pengetahuan, teknologi yang mereka peroleh (Ambary,1991:1–21).
Nisan plak pling terdapat hampir diseluruh wilayah Aceh, dengan populasi terbanyak di Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Menilik bentuk dari nisan-nisan tipe ini, kemungkinan nisan ini merupakan tipe nisan yang dipakai berkelanjutan, mulai dari masa-masa awal kedatangan Islam sampai pada beberapa abad sesudahnya. Nisan tipe ini masih digunakan berdampingan dengan periode sesudahnya, walaupun pada masa itu telah terjadi perubahan trend tipe nisan, yaitu nisan tipe Gujarat atau tipe-tipe “Batu Aceh” lainnya.
Keberadaan nisan – nisan plak pling di Aceh adalah bukti bahwa kejayaan masa lalu Aceh sangat mengagumkan. Namun, jangan membandingkannya dengan kondisi saat ini. Sebab, jangankan meraih kembali kejayaan yang telah hilang, merawat warisan sejarah pun Pemerintah masih belum mampu.
Ruslan Jusuf
13909276671910327192
Salah satu Nisan Plak pling sisa Kerajaan Lamuri (Sumber: http://seputaraceh.com/wp-content/uploads/2012/11/Nisan-Lamreh.jpg)
BERADA di Lamreh, Aceh Besar, atau sekitar 30 km dari Banda Aceh; Dahulu berdiri suatu Kerajaan yang dinamakan Lamuri. Banyak versi tentang nama Kerajaan tersebut. Ada yang menyebutnya Ramni, Lambri, Lan-li, Lan-wu-li, dan tentu saja Lamuri.
Masa lalu tentang Kerajaan ini, dapat dilihat lebih jelas melalui batu nisan makam pembesarnya, benteng pertahanan dan sisa-sisa keramik yang tersebar luas tak beraturan, pada bekas wilayah Kerajaan tersebut. Ada beberapa literatur dan catatan yang membahas tentang sejarah Kerajaan Lamuri. Khususnya, dituliskan oleh para penjelajah yang pernah singgah dan tinggal di sana.
Kerajaan Lamuri, juga pernah di invasi oleh Kerajaan Chola (300 SM – 1279 M) yang pusatnya berada di wilayah Selatan anak benua India – kini masuk dalam wilayah administrasi Negara Federal India, di bagian Selatan yang banyak di huni oleh etnis Tamil – untuk memperluas wilayahnya.
Wilayah tempat dahulunya menjadi pusat Pemerintahan Lamuri yang luasnya sekitar 300 Ha, kondisinya sungguh memprihatinkan. Banyak artefak nisan-nisan yang menjadi saksi kejayaan masa lalu Lamuri, terbengkalai dan berserakan begitu saja. Tanpa ada perhatian yang memadai dari pihak pembuat kebijakan di Pemerintahan. Bahkan sebelumnya, hendak dijadikan sebagai lapangan golf. Walaupun akhirnya tidak terlaksana. Kondisi ini juga ditayangkan oleh salah satu media swasta tersohor di Indonesia, dalam acara MELAWAN LUPA: LAMURI, KEJAYAAN YANG TERLUPAKAN (1, 2, 3) – [metrotvnews.com, 08/01/2014].
Informasi awal tentang keberadaan Lamuri dapat dijumpai pada catatan Cina, oleh seorang perantau Muslim, Ma-Huan dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan disebutkan terdapat nama Lam-Poli. De Casparis menyatakan nama Poli dapat disamakan dengan Puri, lengkapnya Lam-Poli atau Lam-puri—Dalam-Puri — Lamri, namun sampai sejauh mana persamaan Poli dengan Lamuri belum dapat dipastikan. Dalam catatan lain yang berasal dari tahun 960 M, tersebut nama Lanli sebagai sebuah tempat persinggahan utusan-utusan dari Persia saat kembali dari Cina setelah menempuh perjalanan selama 40 hari menunggu musim yang baik untuk melanjutkan perjalanan pulang ke negerinya (Montana, 1996/1997:84).
Edwards Mc. Kinnon menulis tentang kepopuleran Lambri, yang terletak di ujung utara Aceh. Mengutip dari berbagai tulisan tentang Lambri, ia menyebutkan bahwa pada tahun 916 M, Lambri telah disebut oleh Abu Zaid Hasan sebagai Rami/Ramni. Kepopuleran Ramni banyak diperbincangkan oleh para ahli, termasuk Tome Pires dalam bukunya “The Suma Oriental of Tome Pires”. Berdasarkan temuan arkeolgis berupa keramik Cina dan studi geologi, Mc. Kinnon berkesimpulan bahwa Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc. Kinnon menduga terjadi pergeseran ucapan menjadi Lambri (Kinnon,1988:103-121).
Codier yang mengutip pandangan Groeneveldt, yang berpendapat bahwa Lambri dekat dengan Aceh. Selanjutnya Codier memperkirakan Lambri terletak di suatu tempat yang bernama Lamreh dekat dengan Tungkop. Pendapat Codier ini kemungkinan lebih tepat, mengingat dalam bahasa-bahasa nusantara, vokal i dan e lebih mungkin mengalami pergeseran artikulasi, demikian juga dengan vokal u dan o, sehingga ucapan Lamreh lebih mungkin bergeser menjadi Lamri, Lamuri ataupun Lambri (Montana,1996/1997:85).
Dari catatan lain disebutkan, bahwa “penduduk Lan-wu-li sebagian berdiam di bukit-bukit dan jumlah mereka sedikit”. Hal ini menunjukkan bahwa Lamuri tidaklah terletak di lembah Aceh, tetapi pada sejalur pantai kecil yang diperkirakan berada di daerah sekitar Krueng Raya. Meskipun pusat kerajaannya sempit namun wilayah kekuasaannya meluas sampai ke sebagian lembah Aceh (Iskandar,1973: 28-30).
Beberapa peninggalan arkeologis sampai saat ini masih dapat kita temukan di sekitar Krueng Raya. Peninggalan-peninggalan arkeologis tersebut, tampak cukup megah di sepanjang daratan sempit di daerah yang saat ini disebut gampong (desa) Lamreh.
Nisan Plak Pling, Sebagian Bukti Arkeologis Lamuri
Gampong Lamreh terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Di Lamreh ini, tepatnya berada ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubok dengan Benteng Inong Balee, terdapat beberapa buah nisan yang memiliki bentuk unik. Batu nisan tersebut secara umum berbentuk batu tegak atau tugu persegi empat yang makin keatas makin meruncing, membentuk piramida. Berdasarkan informasi penduduk, batu nisan tersebut dinamakan nisan Plak pling. Beberapa peneliti sependapat bahwa nisan-nisan tersebut digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad ke-16 atau lebih awal dari itu (Montana,1996/1997: 90).
Bentuk nisan ini cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir. Nisan-nisan tersebut memiliki bentuk yang bersumber pada tradisi sebelumnya, pra-sejarah dan klasik. Nisan tersebut dilengkapi dengan pola hias, berupa pahatan flora, geometris atau kaligrafi.
Salah satu penyebab munculnya nisan tipe-tipe lokal (plakpling) adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisive terhadap anasir yang datang dari luar. Kreativitas mengubah dan menggubah anasir asing menjadi anasir nusantara merupakan strategi adaptasi. Corak lokal merupakan wujud dari kebebasan seniman ataupun model yang berkembang dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. Perkembangan bentuk dari yang sederhana sampai pada yang rumit adalah sebagai respon dari pengetahuan, teknologi yang mereka peroleh (Ambary,1991:1–21).
Nisan plak pling terdapat hampir diseluruh wilayah Aceh, dengan populasi terbanyak di Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Menilik bentuk dari nisan-nisan tipe ini, kemungkinan nisan ini merupakan tipe nisan yang dipakai berkelanjutan, mulai dari masa-masa awal kedatangan Islam sampai pada beberapa abad sesudahnya. Nisan tipe ini masih digunakan berdampingan dengan periode sesudahnya, walaupun pada masa itu telah terjadi perubahan trend tipe nisan, yaitu nisan tipe Gujarat atau tipe-tipe “Batu Aceh” lainnya.
Keberadaan nisan – nisan plak pling di Aceh adalah bukti bahwa kejayaan masa lalu Aceh sangat mengagumkan. Namun, jangan membandingkannya dengan kondisi saat ini. Sebab, jangankan meraih kembali kejayaan yang telah hilang, merawat warisan sejarah pun Pemerintah masih belum mampu.
Ruslan Jusuf
Selasa, 12 Maret 2013
Anggota DPRK Aceh Besar : Selamatkan Lamuri
Afifuddin Acal | The Globe Journal Selasa, 12 Maret 2013 17:27 WIB
Aceh Besar - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh
Besar mengatakan situs Lamuri yang terletak di Kecamatan Krueng Raya
Aceh Besar mesti diselamatkan dari kerusakan dan pengalihan fungsi
lahan. Apa lagi ada rencana pembangunan lapangan golf, tentunya akan
merusak beberapa situs yang masih tersisa di kawasan itu.
Hal tersebut disampaikan oleh salah seorang anggota DPRK Aceh Besar,
Nourman Hidayat pada The Globe Journal Selasa (12/3/2013) di Lambaro,
Aceh Besar.
"Lamuri itu harus diselamatkan. Itu cagar budaya dan juga bukti peradaban Islam di Aceh," katanya.
Rencana Pemerintah Kabupaten Aceh Besar membangun lapangan golf di kawasan situs Lamuri mendapatkan sorotan dan kritikan tajam dari Norman, yang tak lain politisi Partai Keadilan Sejahtera.
Menurut Nourman, pembangunan lapangan golf di kawasan situs Lamuri akan menghapuskan jejak Islam di Aceh. Bahkan, Nourman menuding rencana pembangunan lapangan golf di situs Lamuri merupakan rencana pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin menghilang jejak peradaban Islam yang ada di Aceh.
Lebih lanjut Nourman katakan, membuka lapangan pekerjaan merupakan dalih tanpa alasan yang tepat. "Lamuri itu kan bisa juga dibuat tempat wisata tanpa harus menghilangkan keasliannya, kan tetap membuka lapangan pekerjaan," tukasnya.
Oleh sebab itu, ia sangat berharap pembangunan lapangan golf di kawasan situs Lamuri agar segera dihentikan. Situs tersebut mesti dijaga dan dirawat dengan baik.
"Kalau situs Lamuri rusak, jejak sejarah di Aceh itu akan terkubur dan hilang," imbuhnya. [005]
"Lamuri itu harus diselamatkan. Itu cagar budaya dan juga bukti peradaban Islam di Aceh," katanya.
Rencana Pemerintah Kabupaten Aceh Besar membangun lapangan golf di kawasan situs Lamuri mendapatkan sorotan dan kritikan tajam dari Norman, yang tak lain politisi Partai Keadilan Sejahtera.
Menurut Nourman, pembangunan lapangan golf di kawasan situs Lamuri akan menghapuskan jejak Islam di Aceh. Bahkan, Nourman menuding rencana pembangunan lapangan golf di situs Lamuri merupakan rencana pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin menghilang jejak peradaban Islam yang ada di Aceh.
Lebih lanjut Nourman katakan, membuka lapangan pekerjaan merupakan dalih tanpa alasan yang tepat. "Lamuri itu kan bisa juga dibuat tempat wisata tanpa harus menghilangkan keasliannya, kan tetap membuka lapangan pekerjaan," tukasnya.
Oleh sebab itu, ia sangat berharap pembangunan lapangan golf di kawasan situs Lamuri agar segera dihentikan. Situs tersebut mesti dijaga dan dirawat dengan baik.
"Kalau situs Lamuri rusak, jejak sejarah di Aceh itu akan terkubur dan hilang," imbuhnya. [005]
Kamis, 28 Februari 2013
"SALAM DARI LAMREH, TANAH PARA RAJA LAMURI (لامري)"
"SALAM DARI LAMREH, TANAH PARA RAJA LAMURI (لامري)"
Saya tengah dalam penelaahan terhadap inskripsi-inskripsi batu nisan yang berhasil didokumentasikan Tim CISAH dan MAPESA dari situs sejarah Lamreh pada awal bulan ini. Namun saya tidak dapat menahan diri untuk memberitakan seuntai kalimat yang terukir dengan kaligrafi Arab indah di salah satu batu nisan tersebut, yang berbunyi:
والبحر عميق
بلا سفن فكيف
تعبرون
(DAN LAUT TERAMAT DALAM
JIKA TANPA BAHTERA
BAGAIMANA ENGKAU AKAN MELAYARINYA)
Suatu ungkapan indah dan sangat bermakna dengan menggunakan kosakata kemaritiman. Di sini, terlihat bagaimana laut dan dunia maritim telah mengilhami suatu pengungkapan yang ditujukan sebagai pesan bahwa perjalanan hidup menuju suatu cita-cita tidak akan pernah tercapai apabila kita tidak mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam perjalanan. Dan ungkapan ini juga dapat bermakna bahwa kebahagiaan akhirat juga tidak akan diperoleh apabila kita tidak menyediakan perbekalaan yang cukup untuk itu, yakni amal.
BUKANKAH SEBUAH PESAN YANG BERGAUNG MELINTASI MASA-MASA?!
Oleh : Tgk. Taqiyuddin Muhammad
Poto di ambil dari atas bukit Lamreh,Masjid Raya, Aceh Besar 24/2/2013
— di Krueng Raya.
Saya tengah dalam penelaahan terhadap inskripsi-inskripsi batu nisan yang berhasil didokumentasikan Tim CISAH dan MAPESA dari situs sejarah Lamreh pada awal bulan ini. Namun saya tidak dapat menahan diri untuk memberitakan seuntai kalimat yang terukir dengan kaligrafi Arab indah di salah satu batu nisan tersebut, yang berbunyi:
والبحر عميق
بلا سفن فكيف
تعبرون
(DAN LAUT TERAMAT DALAM
JIKA TANPA BAHTERA
BAGAIMANA ENGKAU AKAN MELAYARINYA)
Suatu ungkapan indah dan sangat bermakna dengan menggunakan kosakata kemaritiman. Di sini, terlihat bagaimana laut dan dunia maritim telah mengilhami suatu pengungkapan yang ditujukan sebagai pesan bahwa perjalanan hidup menuju suatu cita-cita tidak akan pernah tercapai apabila kita tidak mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam perjalanan. Dan ungkapan ini juga dapat bermakna bahwa kebahagiaan akhirat juga tidak akan diperoleh apabila kita tidak menyediakan perbekalaan yang cukup untuk itu, yakni amal.
BUKANKAH SEBUAH PESAN YANG BERGAUNG MELINTASI MASA-MASA?!
Oleh : Tgk. Taqiyuddin Muhammad
Poto di ambil dari atas bukit Lamreh,Masjid Raya, Aceh Besar 24/2/2013
Rabu, 27 Februari 2013
Makam Asy-Syahid Sultan Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad bin Sulthan Al-Malik Ash-Shalih (W. 726 H/1326 M
kan kuangkat engkau kembali ke tahtamu, rajaku
engkau penegak syariat Tuhan
engkau pencinta junjungan alam
kautebarkan cahaya dalam kegelapan
kauikuti langkah sang utusan
sampai nyawa pun tlah kaupersembahkan
lalai zamanku lupakan harimu
lalai zamanku biarkan musuh tertawa di pusaramu
tapi aku abdimu yang kan setia selalu
kan kutayangkan kembali harimu
agar jadi peringatan dan renungan
hidup, hiduplah rajaku, dalam kalbu dan pikirku
kan kuangkat tinggi-tinggi 'alammu
'alam ketauhidan dan kebenaran
'alam yang kaubela sampai nafas penghabisan
hidup, hiduplah rajaku, dalam sadar anak negeriku
hidup, hiduplah rajaku..
kan kuangkat engkau kembali ke tahtamu
dengan seizin Tuhan Yang Maha Sayang
(oleh : Paduka Raja Meugat Seukandar).
Gambar : Makam Asy-Syahid Sultan Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad bin Sulthan Al-Malik Ash-Shalih (W. 726 H/1326 M). Makam ini terbuat dari batu granit berwarna gelap. Pada nisan sebelah kepala terdapat inskripsi ayat 21 Surah At-Taubah.
Gampong Beuringen, Samudera, Aceh Utara.
Doc cisah 2010.
Nisan bersurat Kaligrafi lafadz Allah tinggalan Aceh Darussalam
Sungguh akar akan tersisa
walau pohon sudah tercabut
maka dari akarlah akan mulai tumbuh kembali
Tunas-tunas baru yang akan menjadi pohon besar
tempat menaungi berbagai hewan dan tumbuhan
Sungguh asa masih ada
Menyongsong zaman kembalinya kejayaan
Panji kan berkibar seantero Nusantara
Sebagaimana zaman telah membuktikan
Samudera Pasai dan Aceh Darussalam yang diabadikan
Akan datang masa
Bibit-bibit yang disemai kan tumbuh
menjadi pohon besar yang menjulang tinggi
Maka janganlah berputus asa untuk berharap
panji itu pasti akan berkibar kembali
Sebagaimana zaman telah membuktikan
Samudera pasai dan Aceh Darussalam yang diabadikan.
Gambar :
Nisan bersurat Kaligrafi lafadz Allah tinggalan Aceh Darussalam
walau pohon sudah tercabut
maka dari akarlah akan mulai tumbuh kembali
Tunas-tunas baru yang akan menjadi pohon besar
tempat menaungi berbagai hewan dan tumbuhan
Sungguh asa masih ada
Menyongsong zaman kembalinya kejayaan
Panji kan berkibar seantero Nusantara
Sebagaimana zaman telah membuktikan
Samudera Pasai dan Aceh Darussalam yang diabadikan
Akan datang masa
Bibit-bibit yang disemai kan tumbuh
menjadi pohon besar yang menjulang tinggi
Maka janganlah berputus asa untuk berharap
panji itu pasti akan berkibar kembali
Sebagaimana zaman telah membuktikan
Samudera pasai dan Aceh Darussalam yang diabadikan.
Gambar :
Nisan bersurat Kaligrafi lafadz Allah tinggalan Aceh Darussalam
Gambar : Makam Maulana Qadhi Sadrul Islam Isma'il (w. Jum'at 7 Syawwal 852 H/1448 M)
Gambar : Makam Maulana Qadhi Sadrul Islam Isma'il (w. Jum'at 7 Syawwal 852 H/1448 M), diantara beberapa syair yang terpahat pada nisan ini sekaligus menjadi pesan berharga untuk generasi, "Dunia adalah tempat bercocok tanam Akhirat, Dunia hanya sesaat, maka jadikanlah ia sebagai waktu ketaatan"
Bukit Lamreh, Kec. Masjid Raya, Kab. Aceh Besar 4/3/2012
Bacaan Inskripsi oleh : Tgk. Taqiyuddin Muhammad, Lc.
Nisan tinggalan di bukit Lamreh
Perlu ditegaskan bahwa Bukit Lamreh itu sangat penting...
setelah 10 raja dan beberapa Ulama terungkap lewat inskripsi pada Nisan tinggalan di bukit Lamreh yang berhasil di teliti oleh peneliti dari Central Information for Samudra Pasai Heritage Tgk. Taqiyuddin Muhammad. hari ini kembali menemukan puluhan nisan, diantara nisan-nisan penting tersebut, diantaranya ditemukan nisan yang kebanyakan tersebar di kawasan tinggalan Kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara.
Gambar : Arkheolog Deddy Satria tampak serius merubing nisan temuan hari ini, menurut beliau nisan bercorak Antropomorfik (motif dengan figur topeng atau wajah manusia) ini merupakan adanya masyarakat pendukung kebudayaan Dong Son (kebudayaan dari Vietnam Utara atau Cina Selatan), wallahu'alam
Lamreh Krueng Raya Aceh Besar 25 Januari 2013
— setelah 10 raja dan beberapa Ulama terungkap lewat inskripsi pada Nisan tinggalan di bukit Lamreh yang berhasil di teliti oleh peneliti dari Central Information for Samudra Pasai Heritage Tgk. Taqiyuddin Muhammad. hari ini kembali menemukan puluhan nisan, diantara nisan-nisan penting tersebut, diantaranya ditemukan nisan yang kebanyakan tersebar di kawasan tinggalan Kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara.
Gambar : Arkheolog Deddy Satria tampak serius merubing nisan temuan hari ini, menurut beliau nisan bercorak Antropomorfik (motif dengan figur topeng atau wajah manusia) ini merupakan adanya masyarakat pendukung kebudayaan Dong Son (kebudayaan dari Vietnam Utara atau Cina Selatan), wallahu'alam
Lamreh Krueng Raya Aceh Besar 25 Januari 2013
Nisan Plakpling (nisan tinggalan khas Kerajaan Islam Lamuri)
Buah Peradaban yang menentramkan jiwa.
Setelah merentang waktu 6 abad lamanya, akankah tetap betahan???
Gambar : Nisan Plakpling (nisan tinggalan khas Kerajaan Islam Lamuri)
Lamreh Krueng Raya Aceh Besar 25 Januari 2013
Peninggalan Lamuri
Masih dari Lamreh
Saya diherankan satu hal:
Perguruan-perguruan tinggi yang hebat dan megah di pusat Aceh, mengapa seperti tidak ada respon apa-apa mengenai situs Lamreh ini? Atau mungkin saya yang kurang informasi? Agaknya yang kedua lebih benar; saya kurang informasi. Saya akan mendamaikan diri saya dengan "agak" yang kedua ini.
Tapi tetap akan saya sarankan kepada Fakultas-fakultas di berbagai perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu-ilmu berkaitan dengan sejarah dan juga kesenian Islam agar menjadikan tapak-tapak tinggalan sejarah di Aceh sebagai lahan untuk kajian dan penelitian. Diharapkan, beberapa tahun ke depan, kita akan memperoleh data-data yang terpercaya untuk rekonstruksi sejarah Aceh, sehingga identitas yang sesungguhnya dapat dikembalikan dan dijalankan sebagai fondasi dari suatu gerak yang akan membawa Aceh kepada yang kondisi yang lebih baik. (Tgk. Taqiyuddin Muhammad)
Gambar : Arkheolog Deddy Satria sedang menjelaskan motif-motif dekorasi hasil rabingnya pada batu nisan dalam ekspedisi singkat hari ini dengan Mapesa di pesisir Lampanah Aceh Besar 01/02/2013
Nisan tinggalan Kerajaan Islam Lamuri
Soal
pecundang, selalu membuatku berang, ada saja hal-hal yang mereka
pertimbangkan demi bisa keluar dari permasalahan komplek bangsanya,
mereka dengan ego tingginya berusaha meninggalkan misi mulia, lalu buat
siapa mereka berjuang? Apa keuntungannya? Aku tak tahu...
Satu dariku sebelum pergi, merasa malu memang lebih baik, tapi perhatikan! Tanah Lamuri tak butuh siapa-siapa, tapi siapa juga yang butuh Lamuri? Siapa yang akan melihatnya dengan mata hingga rela menyisihkan lengan bajunya demi tanah yang di muliakan. Adakah disana sekelompok anak kecil? Adakah disana mereka yang berpangkat, maaf! Saatnya pecundang malu! sebuah hikayat dari Raja-Raja Pasai.
Gambar : Arkheolog Deddy Satria sedang memperhatikan sebuah nisan tinggalan Kerajaan Islam Lamuri. Ratusan nisan yang tersebar di kawasan bukit Lamreh kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal nisan-nisan ini tidak lain dan tidak bukan adalah milik para pembesar Kerajaan Lamuri yang merupakan tokoh-tokoh penyebar dan pengembang Islam tertua di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.
Bukit Lamreh Krueng Raya, Mesjid Raya, Aceh Besar (02/02/2013).
Satu dariku sebelum pergi, merasa malu memang lebih baik, tapi perhatikan! Tanah Lamuri tak butuh siapa-siapa, tapi siapa juga yang butuh Lamuri? Siapa yang akan melihatnya dengan mata hingga rela menyisihkan lengan bajunya demi tanah yang di muliakan. Adakah disana sekelompok anak kecil? Adakah disana mereka yang berpangkat, maaf! Saatnya pecundang malu! sebuah hikayat dari Raja-Raja Pasai.
Gambar : Arkheolog Deddy Satria sedang memperhatikan sebuah nisan tinggalan Kerajaan Islam Lamuri. Ratusan nisan yang tersebar di kawasan bukit Lamreh kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal nisan-nisan ini tidak lain dan tidak bukan adalah milik para pembesar Kerajaan Lamuri yang merupakan tokoh-tokoh penyebar dan pengembang Islam tertua di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.
Bukit Lamreh Krueng Raya, Mesjid Raya, Aceh Besar (02/02/2013).
Nisan tinggalan dari Kerajaan Islam Lamuri di bukit Lamreh.
Tinjauan
awal: Lamreh, Mesjid Raya, Aceh Besar, menyajikan tinggalan batu nisan
bersejarah yang unik, sekaligus juga "misteri" yang sulit dipecahkan.
Batu-batu nisan di perbukitan Lamreh yang diketahui secara umum
merupakan milik para raja dan
tokoh-tokoh agama ini rata-rata merujuk ke pertengahan abad ke-9 H/
ke-15 M, dan saya belum menemukan penanggalan lebih awal dari abad
tersebut.
Namun bagaimanapun, tinggalan sejarah itu dapat memastikan
akan adanya sebuah pusat pemerintahan Islam di pertengahan awal abad
ke-15 M yang berlokasi di kawasan situs tersebut. Saya menduga,
pemerintahan Islam di kawasan ini terkadang merupakan wilayah bagian
dari suatu pemerintahan regional kerajaan Islam lain tapi terkadang juga
merupakan wilayah yang memerintah secara mandiri di bawah seorang
sultan.
Melihat batu nisan tinggalan sejarah yang sudah begitu mapan pengerjaannya dari berbagai aspek, saya tidak meyakini bahwa batu nisan yang lumrah disebut dengan Plakpling ini merupakan batu nisan masa peralihan dari Hindu ke Islam. Saya justeru melihat bahwa warisan sejarah tersebut sebagai hasil dari suatu proses kebudayaan yang sudah berlangsung relatif lama, dan karena itu pula saya meyakini, Islam telah datang ke kawasan tersebut jauh lebih awal dari abad ke-15 M sampai kemudian berhasil mendirikan sebuah pemerintahan Islam.
Melihat batu nisan tinggalan sejarah yang sudah begitu mapan pengerjaannya dari berbagai aspek, saya tidak meyakini bahwa batu nisan yang lumrah disebut dengan Plakpling ini merupakan batu nisan masa peralihan dari Hindu ke Islam. Saya justeru melihat bahwa warisan sejarah tersebut sebagai hasil dari suatu proses kebudayaan yang sudah berlangsung relatif lama, dan karena itu pula saya meyakini, Islam telah datang ke kawasan tersebut jauh lebih awal dari abad ke-15 M sampai kemudian berhasil mendirikan sebuah pemerintahan Islam.
Tapi hal yang
membingungkan adalah darimana kesenian rupa yang diperagakan batu nisan
Plakpling ini berasal? Boleh jadi dari kebudayaan India
Selatan--sebagaimana pendapat sebagian orang--tapi saya belum yakin, dan
saya belum pernah melihat bukti konkrit untuk itu. Saya pun belum
pernah menjumpai bukti terhadap adanya kebudayaan awal yang telah
melatarbelakangi kesenian yang demikian rupa di Aceh, atau dengan kata
lain: apa sebenarnya yang telah menginspirasi seniman Muslim kala itu
untuk memahat batu nisan yang begitu rupa?
Ada yang mau membantu memberikan alternatif jawaban?
Oleh : Tgk Taqiyuddin Muhammad.
Gambar: Arkheolog Deddy Satria tampak sedang membersihkan nisan Plakpling (nisan tinggalan dari Kerajaan Islam Lamuri) di bukit Lamreh.
Krueng Raya Aceh Besar, 08/02/2012
Ada yang mau membantu memberikan alternatif jawaban?
Oleh : Tgk Taqiyuddin Muhammad.
Gambar: Arkheolog Deddy Satria tampak sedang membersihkan nisan Plakpling (nisan tinggalan dari Kerajaan Islam Lamuri) di bukit Lamreh.
Krueng Raya Aceh Besar, 08/02/2012
Nisan Peninggalan Lamuri
Soal
pecundang, selalu membuatku berang, ada saja hal-hal yang mereka
pertimbangkan demi bisa keluar dari permasalahan komplek bangsanya,
mereka dengan ego tingginya berusaha meninggalkan misi mulia, lalu buat
siapa mereka berjuang? Apa keuntungannya? Aku tak tahu...
Satu dariku sebelum pergi, merasa malu memang lebih baik, tapi perhatikan! Tanah Lamuri tak butuh siapa-siapa, tapi siapa juga yang...Lihat Selengkapnya
Satu dariku sebelum pergi, merasa malu memang lebih baik, tapi perhatikan! Tanah Lamuri tak butuh siapa-siapa, tapi siapa juga yang...Lihat Selengkapnya
Senin, 04 Februari 2013
Kerajaan Tua di Bukit Lam Reh
Lam Reh adalah nama sebuah gampong (kampung) di Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Tempat ini dikenal di dunia internasional, karena terdapat peninggalan sejarah berupa benteng dan kompleks makam tua.
Kerajaan Lamuri
Nisan plak pling di Lam Reh.
Dari isi tulisan (kaligrafi) batu nisan di kompleks makam, para peneliti arkelogi menduga, di tempat ini pernah berdiri sebuah kerajaan Islam yang umurnya lebih tua dari Kesultanan Samudera Pasai. Namanya Kerajaan/Kesultanan Lamuri.
Peneliti sejarah dan antropologi mengetahui adanya Kerajaan Lamuri dari catatan perjalanan penjelajah Cina bernama Ma-Huan yang menyebutkan nama Lam Poli. Catatan perjalanan lain yang berasal tahun 960, juga menyebutkan sebuah tempat bernama Lanli. Dalam Prasasti Tanjore yang ditulis tahun 1030, juga disebutkan nama IIamuri-Desam yang menjadi wilayah taklukan Kerajaan Sriwijaya. Dalam Kitab Nagarakrtagama yang ditulis Mpu Prapanca pada tahun 1365, disebutkan nama Lamuri sebagai taklukan Kerajaan Majapahit.
Nisan Plak Pling
Apakah Lam Poli, Lanli, Lamuri, dan IIamuri-Desam yang disebutkan di atas sama dengan Lam Reh ?
Itu sangat mungkin, karena di daerah Lam Reh terdapat situs arkeologi berupa reruntuhan benteng, jejak hunian berupa pecahan keramik, dan kompleks makam tua yang memiliki nisan bertuliskan huruf arab.
Menurut penelitian, dari sekitar 84 batu nisan yang ditemukan di 17 kompleks pemakaman, terdapat 28 batu nisan yang memiliki catatan sejarah. Dari kaligrafi di batu nisan, berhasil diungkap 10 nama orang yang diduga adalah raja.
Batu nisan di Lam Reh sangat unik. Penduduk setempat menyebutnya plak pling . Nisan plak pling biasanya digunakan pada makam penguasa atau ulama ternama pada awal penyebaran Islam di Aceh. Nisan ini bentuknya menyerupai tiang batu yang disebut lingga atau pun menhir . Nisan plak pling dihiasi relief bergambar flora, sudut geometris, dan kaligrafi arab.
Di Lam Reh terdapat makam Sultan Sulaiman bin Abdullah , yang wafat tahun 607 H (atau tahun 1211). Makam ini lebih tua dibandingkan makam Sultan Malikussaleh di Samudera Pasai yang wafat tahun 696 H (atau tahun 1296).
Kesultanan Samudera Pasai dikenal sebagai daerah asal mula penyebaran Islam di Indonesia. Dengan penemuan batu nisan di Lam Reh yang lebih tua dari Samudera Pasai, apakah itu artinya awal peradaban Islam di Indonesia dimulai dari Lam Reh?
Tak Terawat
Benteng Kuta Lubok di Lam Reh.
Keadaan situs Lam Reh ini tidak terawat. Padahal, situs arkeologi yang diduga berasal pada abad 9 ini merupakan situs sejarah yang sangat berharga.
Karena situs ini luput dari perhatian pemerintah, upaya melestarikan dan menggali sejarah peninggalan di Lam Reh pun terabaikan. Malah akhir-akhir ini, tempat ini pun terancam rusak dengan rencana investor dari Cina yang tertarik mengelola daerah Lam Reh untuk dijadikan lapangan golf.
Ya, Lam Reh memang indah dan strategis. Daerah ini memiliki pantai Ujoeng Batee (ujung batu) yang indah dan langsung menghadap Laut Malaka. Bisa jadi, pada zaman dulu kala, Lam Reh memiliki pelabuhan yang sering disinggahi kapal-kapal dagang dari India, Persia, Cina, dan Eropa.
Bagi orang biasa seperti kita, Lam Reh hanya dikenal sebagai tempat bersejarah. Tetapi bagi peneliti sejarah dan arkelologi, Lam Reh adalah tempat yang sangat berharga yang harus dilindungi karena menyimpan artefak atau benda-benda arkelogi yang bernilai sejarah.
Kalau tidak diurus dan dibiarkan begitu saja tak dirawat, sangat mungkin artefak yang usianya sudah ratusan tahun itu dijarah dan dijual ke kolektor benda antik di luar negeri.
Penelitian tentang sejarah Lam Reh masih panjang. Apakah kamu berminat menelitinya?
Editor: Sigit Wahyu, Sumber foto: ikhwanuzair.blogspot.com, wikipedia.com
Senin, 28 Januari 2013
Nisan di kompleks makam Ratu Nahrisyah
Dasarnya tertanam dalam tanah. Badan bagian bawah persegiempat, di tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi, sementara pada Badan bagian atas terdapat hiasan dengan sulur-suluran sederhana dengan motif bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan awan).
Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong. Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran bungong aneu abie (berudu). Kepalanya menyerupai bentuk bawang (ojief) persegi empat.
Terakhir, atapnya berbentuk persegi empat, bersusun tiga, semakin ke atas semakin mengecil.
Salah satu penyebab munculnya nisan plakpling adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisif terhadap unsur luar, meski harus melewati pengolahan, sebagai sebuah bentuk adaptasi dan seleksi.
Ingin tahu lebih lanjut tentang jenis nisan plakpling bisa kunjungi laman balarmedan.wordpress.com atau tulisan dari Jurnal LIPI.
(*/apakabarsejarah.blogspot.com)
Nisan Plakpling, Warisan Unik Leluhur Aceh
Nama
Lamuri telah dikenal pada awal-awal penyebaran Islam dan cukup
diperhitungkan mengingat hasil alamnya yang sangat penting dan amat laku
di pasaran internasional.
Berdasarkan temuan arkeologis dan studi geologi, Edwards Mc Kinnon yang menulis kepopulerar Lambri sebagaimana disebut oleh Tome Pires, memperkirakan jika Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc Kinnon menduga terjadi pergeseran ucapan dari Lambaro menjadi Lambri.
Lain halnya dengan Codier yang berpendapat bahwa Lambri dekat dengan Aceh. Codier memperkirakan Lambri berada di suatu tempat yang bernama Lamreh di dekat Tungkup. Pendapat ini kemungkinan lebih tepat mengingat dalam bahasa-bahasa Nusantara huruf vocal i, e, u dan o seringkali mengalami pergeseran artikulasi.
Oleh karena itu, Lamreh lebih mungkin bergeser menjadi Lambri atau Lamuri. Sekarang, daerah yang disebut Lamreh tersebut menjadi bagian dari Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.
Di Lamreh inilah dapat dijumpai beberapa peninggalan sejarah, di antaranya Benteng Indrapatra, Benteng Kuta Lubuk dan Benteng Inong Balee (Benteng Malahayati).
Peninggalan lainnya berupa nisan-nisan berbentuk unik yang berlokasi di ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubuk dan Benteng Inong Balee.berdasarkan kebiasaan penduduk setempat, nisan-nisan itu disebut nisan Plakpling.
Nisan Plakpling kemungkinan merupakan bentuk peralihan dari praIslam ke Islam. Beberapa peneliti sependapat jika nisan Plakpling digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad XVI atau lebih awal. Salah satu nisan bahkan berangka tahun 680 H (1211 M).
Nisan-nisan tipe ini banyak tersebar di hampir semua tempat di Aceh. Bentuknya cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir dan dilengkapi pola hias berupa pahatan flora, geometris dan kaligrafi. Nisan-nisan tersebut merupakan kelanjutan atau bersumber pada tradisi prasejarah dan klasik. Berikut ini beberapa contoh nisan Plakpling yang terdapat di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Besar.
Kompleks makam ini berada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Bagian bawah nisan berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian mencapai 80 cm. Dasarnya tertanam dalam tanah. Badan bagian bawah persegiempat, di tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi, sementara pada Badan bagian atas terdapat hiasan dengan sulur-suluran sederhana dengan motif bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan awan).
Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong. Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran bungong aneu abie (berudu). Kepalanya menyerupai bentuk bawang (ojief) persegi empat. Terakhir, atapnya berbentuk persegi empat, bersusun tiga, semakin ke atas semakin mengecil.
Minggu, 27 Januari 2013
Kamis, 24 Januari 2013
Situs Kerajaan Lamuri Nyaris Musnah
Kamis, 3 Januari 2013 | 21:46 WIB
BANDA ACEH, KOMPAS.com - Situs Kerajaan Lamuri di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, kini tidak terurus dan berserakan. Situs bekas cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam seluas 300 hektar itu kini terancam musnah seiring rencana pembangunan lapangan golf di area tersebut.
Pengamatan di Bukit Lamreh, Rabu (2/1/2012), tak tampak upaya pelestarian dari badan atau dinas terkait. Padahal, dalam setengah tahun terakhir, desakan agar kawasan itu dilestarikan menguat dari sejumlah elemen masyarakat di Aceh seiring rencana pembangunan lapangan golf.
Batu-batu nisan berhias tulisan Arab Jawi tampak berserakan. Ada pula tumpukan batu-batu yang diduga bekas fondasi bangunan kuno kompleks Kerajaan Lamuri, yang sebagian telah tertimbun tanah di areal perbukitan tersebut.
Kumpulan-kumpulan manuskrip batu itu lokasinya tak jauh dari Benteng Inong Balee, yang menjadi saksi sejarah perlawanan perempuan Aceh melawan penjajah Barat di bawah pimpinan Laksamana Malahayati. Bahkan, kondisi benteng tersebut juga tak lebih baik. Sejumlah sisi bangunan tampak rusak dan tidak ada penunjuk jalan.
Abdullah (40), warga Desa Lamreh, mengaku, pada tahun 2009, investor datang ke lokasi itu dan berencana menjadikan kawasan seluas 110 hektar di perbukitan Lamreh ini sebagai lapangan golf. Abdullah, misalnya, merelakan lahan seluas 5 hektar untuk diganti rugi sebesar Rp 500 juta.
Peneliti sejarah Aceh, Teungku Taqiyyuddin, menegaskan Lamuri merupakan sebuah peninggalan Kerajaan Islam Pra-Aceh Darussalam, baik cikal-bakal dari segi nasab maupun pengaruhnya. Sejumlah nisan di kawasan itu ternyata memiliki hubungan pengaruh dengan Kompleks Makam Tuan Di Kandang yang berada di Kampong Pande, Banda Aceh, ataupun dengan beberapa makam di Pango Raya, Ulee Kareng, Neusu, Kandang-Pidie, dan Meureuhom Daya.
”Ini merupakan petunjuk bahwa pengaruh Lamuri itu meluas dan melebur menjadi Aceh Darussalam,” lanjutnya.
Pakar sejarah Aceh dari Universitas Syiah Kuala, Adli Abdullah, meminta Pemerintah Aceh Besar menghentikan pembangunan lapangan golf di lokasi situs Kerajaan Lamuri di Lamreh. Pemerintah juga harus cepat tanggap menyelamatkan kawasan itu dan menetapkannya dalam kawasan aset sejarah yang dilindungi sebagai bukti kejayaan sejarah Aceh masa lalu. (HAN)
BANDA ACEH, KOMPAS.com - Situs Kerajaan Lamuri di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, kini tidak terurus dan berserakan. Situs bekas cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam seluas 300 hektar itu kini terancam musnah seiring rencana pembangunan lapangan golf di area tersebut.
Pengamatan di Bukit Lamreh, Rabu (2/1/2012), tak tampak upaya pelestarian dari badan atau dinas terkait. Padahal, dalam setengah tahun terakhir, desakan agar kawasan itu dilestarikan menguat dari sejumlah elemen masyarakat di Aceh seiring rencana pembangunan lapangan golf.
Batu-batu nisan berhias tulisan Arab Jawi tampak berserakan. Ada pula tumpukan batu-batu yang diduga bekas fondasi bangunan kuno kompleks Kerajaan Lamuri, yang sebagian telah tertimbun tanah di areal perbukitan tersebut.
Kumpulan-kumpulan manuskrip batu itu lokasinya tak jauh dari Benteng Inong Balee, yang menjadi saksi sejarah perlawanan perempuan Aceh melawan penjajah Barat di bawah pimpinan Laksamana Malahayati. Bahkan, kondisi benteng tersebut juga tak lebih baik. Sejumlah sisi bangunan tampak rusak dan tidak ada penunjuk jalan.
Abdullah (40), warga Desa Lamreh, mengaku, pada tahun 2009, investor datang ke lokasi itu dan berencana menjadikan kawasan seluas 110 hektar di perbukitan Lamreh ini sebagai lapangan golf. Abdullah, misalnya, merelakan lahan seluas 5 hektar untuk diganti rugi sebesar Rp 500 juta.
Peneliti sejarah Aceh, Teungku Taqiyyuddin, menegaskan Lamuri merupakan sebuah peninggalan Kerajaan Islam Pra-Aceh Darussalam, baik cikal-bakal dari segi nasab maupun pengaruhnya. Sejumlah nisan di kawasan itu ternyata memiliki hubungan pengaruh dengan Kompleks Makam Tuan Di Kandang yang berada di Kampong Pande, Banda Aceh, ataupun dengan beberapa makam di Pango Raya, Ulee Kareng, Neusu, Kandang-Pidie, dan Meureuhom Daya.
”Ini merupakan petunjuk bahwa pengaruh Lamuri itu meluas dan melebur menjadi Aceh Darussalam,” lanjutnya.
Pakar sejarah Aceh dari Universitas Syiah Kuala, Adli Abdullah, meminta Pemerintah Aceh Besar menghentikan pembangunan lapangan golf di lokasi situs Kerajaan Lamuri di Lamreh. Pemerintah juga harus cepat tanggap menyelamatkan kawasan itu dan menetapkannya dalam kawasan aset sejarah yang dilindungi sebagai bukti kejayaan sejarah Aceh masa lalu. (HAN)
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
yunan
Langganan:
Postingan (Atom)

