Rabu, 27 Februari 2013

Nisan tinggalan Kerajaan Islam Lamuri



Soal pecundang, selalu membuatku berang, ada saja hal-hal yang mereka pertimbangkan demi bisa keluar dari permasalahan komplek bangsanya, mereka dengan ego tingginya berusaha meninggalkan misi mulia, lalu buat siapa mereka berjuang? Apa keuntungannya? Aku tak tahu...

Satu dariku sebelum pergi, merasa malu memang lebih baik, tapi perhatikan! Tanah Lamuri tak butuh siapa-siapa, tapi siapa juga yang butuh Lamuri? Siapa yang akan melihatnya dengan mata hingga rela menyisihkan lengan bajunya demi tanah yang di muliakan. Adakah disana sekelompok anak kecil? Adakah disana mereka yang berpangkat, maaf! Saatnya pecundang malu! sebuah hikayat dari Raja-Raja Pasai.

Gambar : Arkheolog Deddy Satria sedang memperhatikan sebuah nisan tinggalan Kerajaan Islam Lamuri. Ratusan nisan yang tersebar di kawasan bukit Lamreh kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal nisan-nisan ini tidak lain dan tidak bukan adalah milik para pembesar Kerajaan Lamuri yang merupakan tokoh-tokoh penyebar dan pengembang Islam tertua di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.
Bukit Lamreh Krueng Raya, Mesjid Raya, Aceh Besar (02/02/2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar