Selasa, 12 Maret 2013

Anggota DPRK Aceh Besar : Selamatkan Lamuri

THE GLOBE JOURNAL
Afifuddin Acal | The Globe Journal Selasa, 12 Maret 2013 17:27 WIB
 Ilustrasi
Aceh Besar - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK)  Aceh Besar mengatakan situs Lamuri yang terletak di Kecamatan Krueng Raya Aceh Besar mesti diselamatkan dari kerusakan dan pengalihan fungsi lahan. Apa lagi ada rencana pembangunan lapangan golf, tentunya akan merusak beberapa situs yang masih tersisa di kawasan itu.
 Hal tersebut disampaikan oleh salah seorang anggota DPRK Aceh Besar, Nourman Hidayat pada The Globe Journal Selasa (12/3/2013) di Lambaro, Aceh Besar.

"Lamuri itu harus diselamatkan. Itu cagar budaya dan juga bukti peradaban Islam di Aceh," katanya.
Rencana Pemerintah Kabupaten Aceh Besar membangun lapangan golf di kawasan situs Lamuri mendapatkan sorotan dan kritikan tajam dari Norman, yang tak lain politisi Partai Keadilan Sejahtera.

Menurut Nourman, pembangunan lapangan golf di kawasan situs Lamuri  akan menghapuskan jejak Islam di Aceh. Bahkan, Nourman menuding rencana pembangunan lapangan golf di situs Lamuri merupakan rencana pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin menghilang jejak peradaban Islam yang ada di Aceh.

Lebih lanjut Nourman katakan, membuka lapangan pekerjaan merupakan dalih tanpa alasan yang tepat. "Lamuri itu kan bisa juga dibuat tempat wisata tanpa harus menghilangkan keasliannya, kan tetap membuka lapangan pekerjaan," tukasnya.

Oleh sebab itu, ia sangat berharap pembangunan lapangan golf di kawasan situs Lamuri agar segera dihentikan. Situs tersebut mesti dijaga dan dirawat dengan baik.

"Kalau situs Lamuri rusak, jejak sejarah di Aceh itu akan terkubur dan hilang," imbuhnya. [005]

Kamis, 28 Februari 2013

"SALAM DARI LAMREH, TANAH PARA RAJA LAMURI (لامري)"

 


"SALAM DARI LAMREH, TANAH PARA RAJA LAMURI (لامري)"

Saya tengah dalam penelaahan terhadap inskripsi-inskripsi batu nisan yang berhasil didokumentasikan Tim CISAH dan MAPESA dari situs sejarah Lamreh pada awal bulan ini. Namun saya tidak dapat menahan diri untuk memberitakan seuntai kalimat yang terukir dengan kaligrafi Arab indah di salah satu batu nisan tersebut, yang berbunyi:

والبحر عميق
بلا سفن فكيف
تعبرون

(DAN LAUT TERAMAT DALAM
JIKA TANPA BAHTERA
BAGAIMANA ENGKAU AKAN MELAYARINYA)

Suatu ungkapan indah dan sangat bermakna dengan menggunakan kosakata kemaritiman. Di sini, terlihat bagaimana laut dan dunia maritim telah mengilhami suatu pengungkapan yang ditujukan sebagai pesan bahwa perjalanan hidup menuju suatu cita-cita tidak akan pernah tercapai apabila kita tidak mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam perjalanan. Dan ungkapan ini juga dapat bermakna bahwa kebahagiaan akhirat juga tidak akan diperoleh apabila kita tidak menyediakan perbekalaan yang cukup untuk itu, yakni amal.

BUKANKAH SEBUAH PESAN YANG BERGAUNG MELINTASI MASA-MASA?!
Oleh : Tgk. Taqiyuddin Muhammad

Poto di ambil dari atas bukit Lamreh,Masjid Raya, Aceh Besar 24/2/2013
— di Krueng Raya.

Rabu, 27 Februari 2013

Makam Asy-Syahid Sultan Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad bin Sulthan Al-Malik Ash-Shalih (W. 726 H/1326 M








kan kuangkat engkau kembali ke tahtamu, rajaku
engkau penegak syariat Tuhan
engkau pencinta junjungan alam
kautebarkan cahaya dalam kegelapan
kauikuti langkah sang utusan
sampai nyawa pun tlah kaupersembahkan

lalai zamanku lupakan harimu
lalai zamanku biarkan musuh tertawa di pusaramu
tapi aku abdimu yang kan setia selalu
kan kutayangkan kembali harimu
agar jadi peringatan dan renungan
hidup, hiduplah rajaku, dalam kalbu dan pikirku

kan kuangkat tinggi-tinggi 'alammu
'alam ketauhidan dan kebenaran
'alam yang kaubela sampai nafas penghabisan
hidup, hiduplah rajaku, dalam sadar anak negeriku
hidup, hiduplah rajaku..
kan kuangkat engkau kembali ke tahtamu
dengan seizin Tuhan Yang Maha Sayang
(oleh : Paduka Raja Meugat Seukandar).

Gambar : Makam Asy-Syahid Sultan Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad bin Sulthan Al-Malik Ash-Shalih (W. 726 H/1326 M). Makam ini terbuat dari batu granit berwarna gelap. Pada nisan sebelah kepala terdapat inskripsi ayat 21 Surah At-Taubah.
Gampong Beuringen, Samudera, Aceh Utara.
Doc cisah 2010.

Nisan bersurat Kaligrafi lafadz Allah tinggalan Aceh Darussalam



Sungguh akar akan tersisa
walau pohon sudah tercabut
maka dari akarlah akan mulai tumbuh kembali
Tunas-tunas baru yang akan menjadi pohon besar
tempat menaungi berbagai hewan dan tumbuhan

Sungguh asa masih ada
Menyongsong zaman kembalinya kejayaan
Panji kan berkibar seantero Nusantara
Sebagaimana zaman telah membuktikan
Samudera Pasai dan Aceh Darussalam yang diabadikan

Akan datang masa
Bibit-bibit yang disemai kan tumbuh
menjadi pohon besar yang menjulang tinggi

Maka janganlah berputus asa untuk berharap
panji itu pasti akan berkibar kembali
Sebagaimana zaman telah membuktikan
Samudera pasai dan Aceh Darussalam yang diabadikan.

Gambar :
Nisan bersurat Kaligrafi lafadz Allah tinggalan Aceh Darussalam

Gambar : Makam Maulana Qadhi Sadrul Islam Isma'il (w. Jum'at 7 Syawwal 852 H/1448 M)







Gambar : Makam Maulana Qadhi Sadrul Islam Isma'il (w. Jum'at 7 Syawwal 852 H/1448 M), diantara beberapa syair yang terpahat pada nisan ini sekaligus menjadi pesan berharga untuk generasi, "Dunia adalah tempat bercocok tanam Akhirat, Dunia hanya sesaat, maka jadikanlah ia sebagai waktu ketaatan"
Bukit Lamreh, Kec. Masjid Raya, Kab. Aceh Besar 4/3/2012


Bacaan Inskripsi oleh : Tgk. Taqiyuddin Muhammad, Lc.

 

Nisan tinggalan di bukit Lamreh





Perlu ditegaskan bahwa Bukit Lamreh itu sangat penting...
setelah 10 raja dan beberapa Ulama terungkap lewat inskripsi pada Nisan tinggalan di bukit Lamreh yang berhasil di teliti oleh peneliti dari Central Information for Samudra Pasai Heritage Tgk. Taqiyuddin Muhammad. hari ini kembali menemukan puluhan nisan, diantara nisan-nisan penting tersebut, diantaranya ditemukan nisan yang kebanyakan tersebar di kawasan tinggalan Kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara.

Gambar : Arkheolog Deddy Satria tampak serius merubing nisan temuan hari ini, menurut beliau nisan bercorak Antropomorfik (motif dengan figur topeng atau wajah manusia) ini merupakan adanya masyarakat pendukung kebudayaan Dong Son (kebudayaan dari Vietnam Utara atau Cina Selatan), wallahu'alam
Lamreh Krueng Raya Aceh Besar 25 Januari 2013

Nisan Plakpling (nisan tinggalan khas Kerajaan Islam Lamuri)



Buah Peradaban yang menentramkan jiwa.
Setelah merentang waktu 6 abad lamanya, akankah tetap betahan???

Gambar : Nisan Plakpling (nisan tinggalan khas Kerajaan Islam Lamuri)
Lamreh Krueng Raya Aceh Besar 25 Januari 2013

Peninggalan Lamuri


Masih dari Lamreh
Saya diherankan satu hal: 


Perguruan-perguruan tinggi yang hebat dan megah di pusat Aceh, mengapa seperti tidak ada respon apa-apa mengenai situs Lamreh ini? Atau mungkin saya yang kurang informasi? Agaknya yang kedua lebih benar; saya kurang informasi. Saya akan mendamaikan diri saya dengan "agak" yang kedua ini.

Tapi tetap akan saya sarankan kepada Fakultas-fakultas di berbagai perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu-ilmu berkaitan dengan sejarah dan juga kesenian Islam agar menjadikan tapak-tapak tinggalan sejarah di Aceh sebagai lahan untuk kajian dan penelitian. Diharapkan, beberapa tahun ke depan, kita akan memperoleh data-data yang terpercaya untuk rekonstruksi sejarah Aceh, sehingga identitas yang sesungguhnya dapat dikembalikan dan dijalankan sebagai fondasi dari suatu gerak yang akan membawa Aceh kepada yang kondisi yang lebih baik. (Tgk. Taqiyuddin Muhammad)

Gambar : Arkheolog Deddy Satria sedang menjelaskan motif-motif dekorasi hasil rabingnya pada batu nisan dalam ekspedisi singkat hari ini dengan Mapesa di pesisir Lampanah Aceh Besar 01/02/2013

Nisan tinggalan Kerajaan Islam Lamuri



Soal pecundang, selalu membuatku berang, ada saja hal-hal yang mereka pertimbangkan demi bisa keluar dari permasalahan komplek bangsanya, mereka dengan ego tingginya berusaha meninggalkan misi mulia, lalu buat siapa mereka berjuang? Apa keuntungannya? Aku tak tahu...

Satu dariku sebelum pergi, merasa malu memang lebih baik, tapi perhatikan! Tanah Lamuri tak butuh siapa-siapa, tapi siapa juga yang butuh Lamuri? Siapa yang akan melihatnya dengan mata hingga rela menyisihkan lengan bajunya demi tanah yang di muliakan. Adakah disana sekelompok anak kecil? Adakah disana mereka yang berpangkat, maaf! Saatnya pecundang malu! sebuah hikayat dari Raja-Raja Pasai.

Gambar : Arkheolog Deddy Satria sedang memperhatikan sebuah nisan tinggalan Kerajaan Islam Lamuri. Ratusan nisan yang tersebar di kawasan bukit Lamreh kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal nisan-nisan ini tidak lain dan tidak bukan adalah milik para pembesar Kerajaan Lamuri yang merupakan tokoh-tokoh penyebar dan pengembang Islam tertua di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.
Bukit Lamreh Krueng Raya, Mesjid Raya, Aceh Besar (02/02/2013).

Nisan tinggalan dari Kerajaan Islam Lamuri di bukit Lamreh.

Nisan Peninggalan Lamuri



Soal pecundang, selalu membuatku berang, ada saja hal-hal yang mereka pertimbangkan demi bisa keluar dari permasalahan komplek bangsanya, mereka dengan ego tingginya berusaha meninggalkan misi mulia, lalu buat siapa mereka berjuang? Apa keuntungannya? Aku tak tahu...

Satu dariku sebelum pergi, merasa malu memang lebih baik, tapi perhatikan! Tanah Lamuri tak butuh siapa-siapa, tapi siapa juga yang...Lihat Selengkapnya

Senin, 04 Februari 2013

Kerajaan Tua di Bukit Lam Reh

  • Kerajaan Tua di Bukit Lam Reh
    Kerajaan Tua di Bukit Lam Reh

Lam Reh adalah nama sebuah gampong (kampung) di Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Tempat ini dikenal di dunia internasional, karena terdapat peninggalan sejarah berupa benteng dan kompleks makam tua.

Kerajaan Lamuri
 
plak pling
Nisan plak pling di Lam Reh.

Dari isi tulisan (kaligrafi) batu nisan di kompleks makam, para peneliti arkelogi menduga, di tempat ini pernah berdiri sebuah kerajaan Islam yang umurnya lebih tua dari Kesultanan Samudera Pasai. Namanya Kerajaan/Kesultanan Lamuri.

Peneliti sejarah dan antropologi mengetahui adanya Kerajaan Lamuri dari catatan perjalanan penjelajah Cina bernama Ma-Huan yang menyebutkan nama Lam Poli.  Catatan perjalanan lain yang berasal tahun 960, juga menyebutkan sebuah tempat bernama Lanli.  Dalam Prasasti Tanjore yang ditulis tahun 1030, juga disebutkan nama IIamuri-Desam  yang menjadi wilayah taklukan Kerajaan Sriwijaya. Dalam Kitab Nagarakrtagama yang ditulis Mpu Prapanca pada tahun 1365, disebutkan nama Lamuri  sebagai taklukan Kerajaan Majapahit.

Nisan Plak Pling

Apakah Lam Poli, Lanli, Lamuri, dan IIamuri-Desam yang disebutkan di atas sama dengan Lam Reh ?
Itu sangat mungkin, karena di daerah Lam Reh terdapat situs arkeologi berupa reruntuhan benteng, jejak hunian berupa pecahan keramik, dan kompleks makam tua yang memiliki nisan bertuliskan huruf arab.
Menurut penelitian, dari sekitar 84 batu nisan yang ditemukan di 17 kompleks pemakaman, terdapat 28 batu nisan yang memiliki catatan sejarah. Dari kaligrafi di batu nisan, berhasil diungkap 10 nama orang yang diduga adalah raja.

Batu nisan di Lam Reh sangat unik. Penduduk setempat menyebutnya plak pling . Nisan plak pling biasanya digunakan pada makam penguasa atau ulama ternama pada awal penyebaran Islam di Aceh. Nisan ini bentuknya menyerupai tiang batu yang disebut lingga atau pun menhir . Nisan plak pling dihiasi relief bergambar flora, sudut geometris, dan kaligrafi arab.

Di Lam Reh terdapat makam Sultan Sulaiman bin Abdullah , yang wafat tahun 607 H (atau tahun 1211). Makam ini lebih tua dibandingkan makam Sultan Malikussaleh  di Samudera Pasai yang wafat tahun 696 H (atau tahun 1296).

Kesultanan Samudera Pasai dikenal sebagai daerah asal mula penyebaran Islam di Indonesia. Dengan penemuan batu nisan di Lam Reh yang lebih tua dari Samudera Pasai, apakah itu artinya awal peradaban Islam di Indonesia dimulai dari Lam Reh?

Tak Terawat
 
kuta lubok
Benteng Kuta Lubok di Lam Reh.

Keadaan situs Lam Reh ini tidak terawat. Padahal, situs arkeologi yang diduga berasal pada abad 9 ini merupakan situs sejarah yang sangat berharga.

Karena situs ini luput dari perhatian pemerintah, upaya melestarikan dan menggali sejarah peninggalan di Lam Reh pun terabaikan. Malah akhir-akhir ini, tempat ini pun terancam rusak dengan rencana investor dari Cina yang tertarik mengelola daerah Lam Reh untuk dijadikan lapangan golf.

Ya, Lam Reh memang indah dan strategis. Daerah ini memiliki pantai Ujoeng Batee   (ujung batu) yang indah dan langsung menghadap Laut Malaka. Bisa jadi, pada zaman dulu kala, Lam Reh memiliki pelabuhan yang sering disinggahi kapal-kapal dagang dari India, Persia, Cina, dan Eropa.

Bagi orang biasa seperti kita, Lam Reh hanya dikenal sebagai tempat bersejarah. Tetapi bagi peneliti sejarah dan arkelologi, Lam Reh adalah tempat yang sangat berharga yang harus dilindungi karena menyimpan artefak atau benda-benda arkelogi yang bernilai sejarah.

Kalau tidak diurus dan dibiarkan begitu saja tak dirawat, sangat mungkin artefak yang usianya sudah ratusan tahun itu dijarah dan dijual ke kolektor benda antik di luar negeri.

Penelitian tentang sejarah Lam Reh masih panjang. Apakah kamu berminat menelitinya?

Editor: Sigit Wahyu, Sumber foto: ikhwanuzair.blogspot.com, wikipedia.com

Senin, 28 Januari 2013

Nisan di kompleks makam Ratu Nahrisyah


 

Kompleks makam ini berada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Bagian bawah nisan berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian mencapai 80 cm.

Dasarnya tertanam dalam tanah. Badan bagian bawah persegiempat, di tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi, sementara pada Badan bagian atas terdapat hiasan dengan sulur-suluran sederhana dengan motif bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan awan).

Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong. Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran bungong aneu abie (berudu). Kepalanya menyerupai bentuk bawang (ojief) persegi empat.

Terakhir, atapnya berbentuk persegi empat, bersusun tiga, semakin ke atas semakin mengecil.
Salah satu penyebab munculnya nisan plakpling adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisif terhadap unsur luar, meski harus melewati pengolahan, sebagai sebuah bentuk adaptasi dan seleksi.
Ingin tahu lebih lanjut tentang jenis nisan plakpling bisa kunjungi laman balarmedan.wordpress.com atau tulisan dari Jurnal LIPI.  

(*/apakabarsejarah.blogspot.com)

Nisan Plakpling, Warisan Unik Leluhur Aceh

Posted on
 

Nama Lamuri telah dikenal pada awal-awal penyebaran Islam dan cukup diperhitungkan mengingat hasil alamnya yang sangat penting dan amat laku di pasaran internasional.

Informasi awal tentang Lamuri dapat dijumpai dalam buku Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan, yang menyebut-nyebut tempat bernama Lam Poli. Selanjutnya, Negarakertagama mengatakan bahwa Lamuri merupakan sebuah negeri taklukan Majapahit. Nama Lamuri juga disebut dalam prasasti Tanjore (1030). Selain itu, catatan lain menunjukkan jika Lamuri juga disebut sebagai Rami atau Ramni (Abu Zaid Hasan) dan Lambri (Tome Pires).

Berdasarkan temuan arkeologis dan studi geologi, Edwards Mc Kinnon yang menulis kepopulerar Lambri sebagaimana disebut oleh Tome Pires, memperkirakan jika Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc Kinnon menduga terjadi pergeseran ucapan dari Lambaro menjadi Lambri.

Lain halnya dengan Codier yang berpendapat bahwa Lambri dekat dengan Aceh. Codier memperkirakan Lambri berada di suatu tempat yang bernama Lamreh di dekat Tungkup. Pendapat ini kemungkinan lebih tepat mengingat dalam bahasa-bahasa Nusantara huruf vocal i, e, u dan o seringkali mengalami pergeseran artikulasi.

Oleh karena itu, Lamreh lebih mungkin bergeser menjadi Lambri atau Lamuri. Sekarang, daerah yang disebut Lamreh tersebut menjadi bagian dari Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.
Di Lamreh inilah dapat dijumpai beberapa peninggalan sejarah, di antaranya Benteng Indrapatra, Benteng Kuta Lubuk dan Benteng Inong Balee (Benteng Malahayati).

Peninggalan lainnya berupa nisan-nisan berbentuk unik yang berlokasi di ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubuk dan Benteng Inong Balee.berdasarkan kebiasaan penduduk setempat, nisan-nisan itu disebut nisan Plakpling.

Nisan Plakpling kemungkinan merupakan bentuk peralihan dari praIslam ke Islam. Beberapa peneliti sependapat jika nisan Plakpling digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad XVI atau lebih awal. Salah satu nisan bahkan berangka tahun 680 H (1211 M).

Nisan-nisan tipe ini banyak tersebar di hampir semua tempat di Aceh. Bentuknya cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir dan dilengkapi pola hias berupa pahatan flora, geometris dan kaligrafi. Nisan-nisan tersebut merupakan kelanjutan atau bersumber pada tradisi prasejarah dan klasik. Berikut ini beberapa contoh nisan Plakpling yang terdapat di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Besar.

Kompleks makam ini berada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Bagian bawah nisan berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian mencapai 80 cm. Dasarnya tertanam dalam tanah. Badan bagian bawah persegiempat, di tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi, sementara pada Badan bagian atas terdapat hiasan dengan sulur-suluran sederhana dengan motif bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan awan).

Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong. Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran bungong aneu abie (berudu). Kepalanya menyerupai bentuk bawang (ojief) persegi empat. Terakhir, atapnya berbentuk persegi empat, bersusun tiga, semakin ke atas semakin mengecil.
Pecahan Alat rumah tangga, biasaya para arkeolog menyebutnya dengan tembikar
semua ini berserakan di kawasan perbukian Lamreh Atau lamuri, hal ini membuktikan bahwa daerah tersebut pernah menjadi kawasan padat penduduk
Pecahan Alat rumah tangga, biasaya para arkeolog menyebutnya dengan tembikar
semua ini  berserakan di kawasan perbukian Lamreh Atau lamuri, hal ini membuktikan bahwa daerah tersebut pernah menjadi kawasan padat penduduk

Kamis, 24 Januari 2013

Situs Kerajaan Lamuri Nyaris Musnah

Kamis, 3 Januari 2013 | 21:46 WIB

 

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Situs Kerajaan Lamuri di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, kini tidak terurus dan berserakan. Situs bekas cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam seluas 300 hektar itu kini terancam musnah seiring rencana pembangunan lapangan golf di area tersebut.

Pengamatan di Bukit Lamreh, Rabu (2/1/2012), tak tampak upaya pelestarian dari badan atau dinas terkait. Padahal, dalam setengah tahun terakhir, desakan agar kawasan itu dilestarikan menguat dari sejumlah elemen masyarakat di Aceh seiring rencana pembangunan lapangan golf.

Batu-batu nisan berhias tulisan Arab Jawi tampak berserakan. Ada pula tumpukan batu-batu yang diduga bekas fondasi bangunan kuno kompleks Kerajaan Lamuri, yang sebagian telah tertimbun tanah di areal perbukitan tersebut.

Kumpulan-kumpulan manuskrip batu itu lokasinya tak jauh dari Benteng Inong Balee, yang menjadi saksi sejarah perlawanan perempuan Aceh melawan penjajah Barat di bawah pimpinan Laksamana Malahayati. Bahkan, kondisi benteng tersebut juga tak lebih baik. Sejumlah sisi bangunan tampak rusak dan tidak ada penunjuk jalan.

Abdullah (40), warga Desa Lamreh, mengaku, pada tahun 2009, investor datang ke lokasi itu dan berencana menjadikan kawasan seluas 110 hektar di perbukitan Lamreh ini sebagai lapangan golf. Abdullah, misalnya, merelakan lahan seluas 5 hektar untuk diganti rugi sebesar Rp 500 juta.

Peneliti sejarah Aceh, Teungku Taqiyyuddin, menegaskan Lamuri merupakan sebuah peninggalan Kerajaan Islam Pra-Aceh Darussalam, baik cikal-bakal dari segi nasab maupun pengaruhnya. Sejumlah nisan di kawasan itu ternyata memiliki hubungan pengaruh dengan Kompleks Makam Tuan Di Kandang yang berada di Kampong Pande, Banda Aceh, ataupun dengan beberapa makam di Pango Raya, Ulee Kareng, Neusu, Kandang-Pidie, dan Meureuhom Daya.

”Ini merupakan petunjuk bahwa pengaruh Lamuri itu meluas dan melebur menjadi Aceh Darussalam,” lanjutnya.

Pakar sejarah Aceh dari Universitas Syiah Kuala, Adli Abdullah, meminta Pemerintah Aceh Besar menghentikan pembangunan lapangan golf di lokasi situs Kerajaan Lamuri di Lamreh. Pemerintah juga harus cepat tanggap menyelamatkan kawasan itu dan menetapkannya dalam kawasan aset sejarah yang dilindungi sebagai bukti kejayaan sejarah Aceh masa lalu. (HAN)
 
Sumber :
Kompas Cetak
 
Editor :
yunan