Jumat, 07 September 2012 21:45 WIB
IKLILUDIN ARAS
BANDA ACEH – Balai Pelestarian Purbakala Aceh-Sumatera Utara telah melakukan survei permukaan di kawasan Bukit Lamreh. Dari hasil survei tersebut, Lamreh dinyatakan sebagai kawasan situs sejarah berdasarkan toponim daerah setempat, Jumat 7 September 2012. "Memang belum dilakukan survei atau kajian secara mendalam.
Namun, hal tersebut sudah menjadi bahan acuan untuk sebuah kajian atau informasi awal yang nantinya bisa memperkuat data yang ada," kata Kepala Balai Pelestarian Purbakala Aceh–Sumatera Utara, Dahlia didampingi staff Arkeologi BP3 Andi Irfan Syam.
Menurut Irfan, berdasarkan toponim daerah setempat Lamreh merupakan kawasan situs sejarah, bukan Lamuri. "Hal tersebut dikarenakan toponim kedaerahan setempat,” kata dia. Menurut Irfan, BP3 tidak melihat situs sejarah di Lamreh berdasarkan satu temuan saja melainkan dari seluruh kawasan tempat itu. Karenanya, kata dia, secara geografis bentang lahan kawasan bukit Lamreh tersebut sangat strategis.
"Diinformasikan, pada masa lampau tempat ini sebagai lokasi pertahanan atau pemukiman," ujarnya. Untuk itu, Irfan mengharapkan agar masyarakat tidak menghilangkan atau merusak situs sejarah yang ada di kawasan tersebut. "Karena nantinya bukan berhadapan dengan BP3, melainkan dengan undang-undang. Bentuk kejahatannya tergolong kepada kejahatan besar. Artinya hal tersebut bisa masuk ke ranah hukum," kata dia.[]
Minggu, 30 September 2012
Soal Bukit Lamreh, Balai Pelestarian Purbakala Aceh Tunggu Kedatangan Direktorat
Jumat, 21 September 2012 19:40 WIB
IKLILUDIN ARAS
BANDA ACEH–Status Bukit Lamreh, Aceh Besar, sampai sekarang masih kontroversi, terkait akan dijadikan sebagai lapangan golf.
Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Aceh-Sumut, Dahlia, mengatakan pihaknya sedang menunggu kedatangan tim Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Jakarta untuk meninjau situs budaya tersebut. Kata Dahlia, tim Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Jakarta segera meninjau langsung situs sejarah Bukit Lamreh dalam waktu dekat. Namun, ia belum tahu pasti kapan pelaksanaan tinjauan tersebut. "Itu baru saya dengar, kabarnya ya seperti itu.
Ada rencana orang pusat mau meninjau ke lokasi," ujarnya. Menurut dia, Bupati Aceh Besar juga sudah menyurati Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Jakarta untuk datang dan membicarakan persoalan status Bukit Lamreh. Sejauh ini, tambah Dahlia, ada yang menginginkan lapangan golf tetap dibangun di lahan tersebut. "Di sisi lain, cagar budaya juga harus dipertahankan," ucapnya.(hrn)
IKLILUDIN ARAS
BANDA ACEH–Status Bukit Lamreh, Aceh Besar, sampai sekarang masih kontroversi, terkait akan dijadikan sebagai lapangan golf.
Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Aceh-Sumut, Dahlia, mengatakan pihaknya sedang menunggu kedatangan tim Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Jakarta untuk meninjau situs budaya tersebut. Kata Dahlia, tim Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Jakarta segera meninjau langsung situs sejarah Bukit Lamreh dalam waktu dekat. Namun, ia belum tahu pasti kapan pelaksanaan tinjauan tersebut. "Itu baru saya dengar, kabarnya ya seperti itu.
Ada rencana orang pusat mau meninjau ke lokasi," ujarnya. Menurut dia, Bupati Aceh Besar juga sudah menyurati Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Jakarta untuk datang dan membicarakan persoalan status Bukit Lamreh. Sejauh ini, tambah Dahlia, ada yang menginginkan lapangan golf tetap dibangun di lahan tersebut. "Di sisi lain, cagar budaya juga harus dipertahankan," ucapnya.(hrn)
Mapesa Gelar Pertemuan Bersama MPU Aceh, Soal Bukit Lamreh
Rabu, 08 Agustus 2012 13:13 WIB
IKLILUDIN ARAS BANDA ACEH
Masyarakat Peduli Sejara Aceh (Mapesa) menggelar pertemuan dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Rabu, 8 Agustus 2012.
Kegiatan yang di ruang aula MPU Aceh, Jalan Soekarno Hatta, Lampeuneurut, Darulimarah, Aceh Besar, itu untuk membicarakan soal situs budaya bukit Lamreh yang mau dijadikan lapangan golf.
Ketua Mapesa, Mawardi Usman, menyatakan akan memaparkan persoalan bukit Lamreh yang akan dikembangkan menjadi lapangan golf oleh investor. Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah anggota Mapesa dan beberapa pegawai MPU Aceh.
Pertemuan tersebut dibuka langsung oleh Ketua MPU Aceh, Tkg. H. Gazali Muhammad Syam, didampingi wakil satu, Tgk. Muslim Ibrahim dan wakil dua Daud Zamzamy. "Kami mendukung upaya anak-anak muda dalam mepertahankan situs budaya sebagai jati diri bangsa. Silakan gali sejarah kita," kata Ketua MPU.[]
IKLILUDIN ARAS BANDA ACEH
Masyarakat Peduli Sejara Aceh (Mapesa) menggelar pertemuan dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Rabu, 8 Agustus 2012.
Kegiatan yang di ruang aula MPU Aceh, Jalan Soekarno Hatta, Lampeuneurut, Darulimarah, Aceh Besar, itu untuk membicarakan soal situs budaya bukit Lamreh yang mau dijadikan lapangan golf.
Ketua Mapesa, Mawardi Usman, menyatakan akan memaparkan persoalan bukit Lamreh yang akan dikembangkan menjadi lapangan golf oleh investor. Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah anggota Mapesa dan beberapa pegawai MPU Aceh.
Pertemuan tersebut dibuka langsung oleh Ketua MPU Aceh, Tkg. H. Gazali Muhammad Syam, didampingi wakil satu, Tgk. Muslim Ibrahim dan wakil dua Daud Zamzamy. "Kami mendukung upaya anak-anak muda dalam mepertahankan situs budaya sebagai jati diri bangsa. Silakan gali sejarah kita," kata Ketua MPU.[]
Rabu, 26 September 2012
Situs Sejarah Lamreh Belum Terdaftar pada Pemerintah
Agus Setyadi - 20/06/2012 - 07:45 WIB
BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Sekretaris Masyarakat Peduli Sejarah Aceh Muhajjir mengatakan, situs sejarah yang terdapat di perbukitan Lamreh, Aceh Besar, belum masuk dalam daftar situs purbakala di Pemerintah Aceh. “Belum terdaftar, tetapi pemerintah Indonesia telah mengetahui adanya situs sejarah di Lamreh,” kata Muhajjir kepada wartawan, Selasa (19/6).
Menurutnya, situs sejarah yang terdaftar pada pemerintah Aceh adalah benteng Inoeng Balee. Benteng Inoeng Balee juga terletak di kawasan perbukitan Lamreh Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. Di sekitar areal benteng tersebut, terdapat makam Laksamana Malahayati. Sekitar 100 hektar lahan di perbukitan Lamreh rencananya akan dijual kepada investor China untuk pembuatan lapaangan golf.
Mapesa dan Atjeh Ethnic Institute menolak rencana pemerintah ini. Sebab, di situ disebut-sebut terdapat makam Sultan Ali Mughayat Syah, raja Aceh. “Kami tidak keberatan jika lapangan golf dibangun tidak terkena pusat situs sejarah tersebut. Kalau lapangan golf dibangun berdekatan dengan situs sejarah maka pengunjung akan tambah banyak,” ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) dan Atjeh Ethnic Institute menentang tindakan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar yang menjual tanah situs sejarah di Lamreh kepada investor China untuk dijadikan lapangan golf. []
BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Sekretaris Masyarakat Peduli Sejarah Aceh Muhajjir mengatakan, situs sejarah yang terdapat di perbukitan Lamreh, Aceh Besar, belum masuk dalam daftar situs purbakala di Pemerintah Aceh. “Belum terdaftar, tetapi pemerintah Indonesia telah mengetahui adanya situs sejarah di Lamreh,” kata Muhajjir kepada wartawan, Selasa (19/6).
Menurutnya, situs sejarah yang terdaftar pada pemerintah Aceh adalah benteng Inoeng Balee. Benteng Inoeng Balee juga terletak di kawasan perbukitan Lamreh Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. Di sekitar areal benteng tersebut, terdapat makam Laksamana Malahayati. Sekitar 100 hektar lahan di perbukitan Lamreh rencananya akan dijual kepada investor China untuk pembuatan lapaangan golf.
Mapesa dan Atjeh Ethnic Institute menolak rencana pemerintah ini. Sebab, di situ disebut-sebut terdapat makam Sultan Ali Mughayat Syah, raja Aceh. “Kami tidak keberatan jika lapangan golf dibangun tidak terkena pusat situs sejarah tersebut. Kalau lapangan golf dibangun berdekatan dengan situs sejarah maka pengunjung akan tambah banyak,” ungkapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) dan Atjeh Ethnic Institute menentang tindakan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar yang menjual tanah situs sejarah di Lamreh kepada investor China untuk dijadikan lapangan golf. []
BP3 akan Segera Bahas Tanah Warga Lamreh dengan Berbagai Instansi
Senin, 23 Juli 2012 12:40 WIB
IKLILUDIN ARAS
BANDA ACEH – Kepala Balai Pelestarian Purbakala Aceh – Sumatera Utara, Dahlia, mengatakan bahwa mereka akan melakukan pertemuan dengan berbagai instansi terkait pembebasan lahan warga Desa Lamreh oleh pihak pengembang di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, untuk dijadikan lapangan golf.
Hal tersebut disampaikan Dahlia kepada The Atjeh Post, Senin, 23 Juli 2012 melalui telepon selular. Namun, hingga saat ini kata Dahlia, untuk hari dan tanggalnya belum ditetapkan. “lagi pula saat ini saya sedang di Jakarta, nanti setelah saya kembali ke Banda Aceh baru dibahas,” ujarnya.
Kepergiannya ke Jakarta, kata Dahlia, adalah dalam rangka rapat UPDT BP3 seluruh Indonesia dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. “Kegiatan ini terkait dengan fungsi dan tugas dari BP3 itu sendiri, sehingga setelah pertemuan ini diharapkan semua peserta mengetahui tugas masing-masing,” ujarnya.[]
IKLILUDIN ARAS
BANDA ACEH – Kepala Balai Pelestarian Purbakala Aceh – Sumatera Utara, Dahlia, mengatakan bahwa mereka akan melakukan pertemuan dengan berbagai instansi terkait pembebasan lahan warga Desa Lamreh oleh pihak pengembang di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, untuk dijadikan lapangan golf.
Hal tersebut disampaikan Dahlia kepada The Atjeh Post, Senin, 23 Juli 2012 melalui telepon selular. Namun, hingga saat ini kata Dahlia, untuk hari dan tanggalnya belum ditetapkan. “lagi pula saat ini saya sedang di Jakarta, nanti setelah saya kembali ke Banda Aceh baru dibahas,” ujarnya.
Kepergiannya ke Jakarta, kata Dahlia, adalah dalam rangka rapat UPDT BP3 seluruh Indonesia dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. “Kegiatan ini terkait dengan fungsi dan tugas dari BP3 itu sendiri, sehingga setelah pertemuan ini diharapkan semua peserta mengetahui tugas masing-masing,” ujarnya.[]
Masyarakat Aceh Desak Pemerintah Selamatkan Situs Lamuri
Sabtu, 22 September 2012 13:17 WIB
RUSLAN JR
SENGKETA belum selesai antara investor yang berkeinginan mendirikan lapangan golf dengan masyarakat yang menginginkan kawasan di Bukit Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar, itu dimasukkan dalam situs sejarah yang harus dilindungi. Masalah ini pun terus berlarut-larut.
Terkesan bahwa ini memang disengaja untuk mengulur–ulur waktu penghentian sepenuhnya pembangunan lapangan golf. Hingga kini belum ada keputusan final terkait masih atau tidaknya pendirian lapangan golf dilaksanakan.
Muklis Basyah selaku Bupati Aceh Besar tak ingin berkomentar lebih banyak terkait hal ini. Seperti yang diberitakan, pria yang akrab disapa Adun (abang) Muklis ini berkata akan mencari solusi. Ketegasan bupati sangatlah diperlukan karena keputusan pembatalan sebagian besar berada pada dirinya. Bila Adun Muklis memutuskan membatalkan pembangunan lapangan golf, sudah ada landasan kuat untuk segera menghentikan proyek yang dibiayai investor tersebut.
Harapan untuk pembebasan Lamuri sebelumnya sudah pernah terdengar dari gedung wakil rakyat Aceh. Abdullah Saleh, anggota DPRA dari fraksi Partai Aceh pada waktu itu berjanji masalah Lamuri akan segera mereka selesaikan. Tapi, sampai saat ini janji itu belum juga dipenuhi. Padahal ada dua LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang telah mengunjungi DPR Aceh, yaitu Masyarakat Peduli Sejarah Aceh dan The Atjeh Ethnic Institute.
Kepada kedua LSM itu lagi–lagi anggota DPRA menjanjikan untuk segera menuntaskan masalah situs sejarah yang berada di Gampong Lamreh tersebut. Perihal Lamuri ini tidak boleh diabaikan begitu saja karena terkait identitas sejarah Aceh ke depan. Cukup sudah Aceh kehilangan sejarahnya. Mulai dari kawasan dalam Kesultanan Aceh Darussalam, kawasan tempat berdirinya istana Daruddonya yang telah berubah menjadi TPA (tempat pembuangan akhir), manuskrip–manuskrip yang tersebar di berbagai negara dan bukti sejarah lainnya. Suatu saat itu akan ditanyakan keberadaannya oleh generasi Aceh mendatang.
Banyak hal yang telah diupayakan oleh Mapesa dan LSM lain yang memiliki kepedulian akan keberadaan situs–situs sejarah Aceh. Mereka mengajak masyarakat agar memberikan perhatiannya pada hal yang sedang menimpa situs Lamuri ini. Tanpa peran serta dari masyarakat, tak ada gunanya imbauan yang mereka sampaikan.
Untuk mengantisipasi situs di Lamreh dari kerusakan atau kepunahan, tak ada cara lain selain menolak pembangunan lapangan golf. Bila bukan kita yang melindungi situs sejarah Aceh, lantas siapa lagi? Oleh sebab itu, marilah kita semua saling bahu-membahu menyelamatkan warisan sejarah Aceh tersebut.
Jangan biarkan tempat nenek moyang kita diobrak-abrik untuk kepentingan kapitalis–kapitalis asing yang nenek moyangnya dahulu pernah menyerang Lamuri di bawah pimpinan panglima perempuan bernama Nian Nio Lian Khi. Segera bebaskan Lamuri.
RUSLAN JR, Tokoh Masyarakat Aceh
RUSLAN JR
SENGKETA belum selesai antara investor yang berkeinginan mendirikan lapangan golf dengan masyarakat yang menginginkan kawasan di Bukit Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar, itu dimasukkan dalam situs sejarah yang harus dilindungi. Masalah ini pun terus berlarut-larut.
Terkesan bahwa ini memang disengaja untuk mengulur–ulur waktu penghentian sepenuhnya pembangunan lapangan golf. Hingga kini belum ada keputusan final terkait masih atau tidaknya pendirian lapangan golf dilaksanakan.
Muklis Basyah selaku Bupati Aceh Besar tak ingin berkomentar lebih banyak terkait hal ini. Seperti yang diberitakan, pria yang akrab disapa Adun (abang) Muklis ini berkata akan mencari solusi. Ketegasan bupati sangatlah diperlukan karena keputusan pembatalan sebagian besar berada pada dirinya. Bila Adun Muklis memutuskan membatalkan pembangunan lapangan golf, sudah ada landasan kuat untuk segera menghentikan proyek yang dibiayai investor tersebut.
Harapan untuk pembebasan Lamuri sebelumnya sudah pernah terdengar dari gedung wakil rakyat Aceh. Abdullah Saleh, anggota DPRA dari fraksi Partai Aceh pada waktu itu berjanji masalah Lamuri akan segera mereka selesaikan. Tapi, sampai saat ini janji itu belum juga dipenuhi. Padahal ada dua LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang telah mengunjungi DPR Aceh, yaitu Masyarakat Peduli Sejarah Aceh dan The Atjeh Ethnic Institute.
Kepada kedua LSM itu lagi–lagi anggota DPRA menjanjikan untuk segera menuntaskan masalah situs sejarah yang berada di Gampong Lamreh tersebut. Perihal Lamuri ini tidak boleh diabaikan begitu saja karena terkait identitas sejarah Aceh ke depan. Cukup sudah Aceh kehilangan sejarahnya. Mulai dari kawasan dalam Kesultanan Aceh Darussalam, kawasan tempat berdirinya istana Daruddonya yang telah berubah menjadi TPA (tempat pembuangan akhir), manuskrip–manuskrip yang tersebar di berbagai negara dan bukti sejarah lainnya. Suatu saat itu akan ditanyakan keberadaannya oleh generasi Aceh mendatang.
Banyak hal yang telah diupayakan oleh Mapesa dan LSM lain yang memiliki kepedulian akan keberadaan situs–situs sejarah Aceh. Mereka mengajak masyarakat agar memberikan perhatiannya pada hal yang sedang menimpa situs Lamuri ini. Tanpa peran serta dari masyarakat, tak ada gunanya imbauan yang mereka sampaikan.
Untuk mengantisipasi situs di Lamreh dari kerusakan atau kepunahan, tak ada cara lain selain menolak pembangunan lapangan golf. Bila bukan kita yang melindungi situs sejarah Aceh, lantas siapa lagi? Oleh sebab itu, marilah kita semua saling bahu-membahu menyelamatkan warisan sejarah Aceh tersebut.
Jangan biarkan tempat nenek moyang kita diobrak-abrik untuk kepentingan kapitalis–kapitalis asing yang nenek moyangnya dahulu pernah menyerang Lamuri di bawah pimpinan panglima perempuan bernama Nian Nio Lian Khi. Segera bebaskan Lamuri.
RUSLAN JR, Tokoh Masyarakat Aceh
Pemerintah Aceh Diminta Selesaikan Persoalan Situs Sejarah Lamuri
Rabu, 05 September 2012 18:15 WIB
IRMAN I.P
LHOKSEUMAWE- Pemerintah Aceh diharapkan turun tangan menyelesaikan persoalan situs sejarah di Lamreh, Aceh Besar. Pemerintah Aceh dapat membebaskan lahan lokasi situs sejarah itu dengan tidak mengecewakan warga yang hendak menjual tanah mereka.
“Lokasi itu dapat dijadikan sebagai objek tujuan wisata sejarah dan religi yang dilengkapi dengan perpustakaan dan museum, sehingga memberi faedah yang lebih besar bagi masyarakat luas dalam rangka membangun semangat kebangsaan dan keislaman yang keuntungan secara morilnya akan kembali kepada negeri yang kita cintai ini,” kata Taqiyuddin Muhammad, peneliti Sejarah Kebudayaan Islam kepada The Atjeh Post, Rabu, 5 September 2012.
Di samping itu, kata Taqiyuddin, tentunya juga keuntungan materil akan diperoleh Pemerintah Daerah yang mengelola aset parawisata yang istimewa ini. Ke depan, kata dia, diharapkan situs itu didaftarkan sebagai kota tinggalan sejarah Islam dan maritim di Asia Tenggara yang memiliki daya tarik dan keunikannya tersendiri. “Saya yakin, dengan demikian, kita telah menyelaraskan antara keharusan untuk menjaga dan menghargai tinggalan sejarah dengan keuntungan materil yang akan diperoleh oleh masyarakat setempat dan juga pemerintah daerah,” kata Taqiyuddin.
Menurut Taqiyuddin, menghargai sejarah membuat kita pantas untuk dihargai. Atas dasar itu, kata dia, membangun lapangan golf bukanlah jalan yang benar untuk menghidupkan semangat mereka yang telah tiada dan juga bukan jalan yang tepat untuk menjaga penghidupan mereka yang masih hidup.
Seperti diketahui, belum lama ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala atau BP3 Aceh – Sumut telah menetapkan kawasan perbukitan Lamreh, Krueng Raya, sebagai situs sejarah. Kawasan itu disebutkan sebagai bekas pertapakan Kerajaan Lamuri yang berdiri sebelum era Kerajaan Aceh Darussalam.[]
IRMAN I.P
LHOKSEUMAWE- Pemerintah Aceh diharapkan turun tangan menyelesaikan persoalan situs sejarah di Lamreh, Aceh Besar. Pemerintah Aceh dapat membebaskan lahan lokasi situs sejarah itu dengan tidak mengecewakan warga yang hendak menjual tanah mereka.
“Lokasi itu dapat dijadikan sebagai objek tujuan wisata sejarah dan religi yang dilengkapi dengan perpustakaan dan museum, sehingga memberi faedah yang lebih besar bagi masyarakat luas dalam rangka membangun semangat kebangsaan dan keislaman yang keuntungan secara morilnya akan kembali kepada negeri yang kita cintai ini,” kata Taqiyuddin Muhammad, peneliti Sejarah Kebudayaan Islam kepada The Atjeh Post, Rabu, 5 September 2012.
Di samping itu, kata Taqiyuddin, tentunya juga keuntungan materil akan diperoleh Pemerintah Daerah yang mengelola aset parawisata yang istimewa ini. Ke depan, kata dia, diharapkan situs itu didaftarkan sebagai kota tinggalan sejarah Islam dan maritim di Asia Tenggara yang memiliki daya tarik dan keunikannya tersendiri. “Saya yakin, dengan demikian, kita telah menyelaraskan antara keharusan untuk menjaga dan menghargai tinggalan sejarah dengan keuntungan materil yang akan diperoleh oleh masyarakat setempat dan juga pemerintah daerah,” kata Taqiyuddin.
Menurut Taqiyuddin, menghargai sejarah membuat kita pantas untuk dihargai. Atas dasar itu, kata dia, membangun lapangan golf bukanlah jalan yang benar untuk menghidupkan semangat mereka yang telah tiada dan juga bukan jalan yang tepat untuk menjaga penghidupan mereka yang masih hidup.
Seperti diketahui, belum lama ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala atau BP3 Aceh – Sumut telah menetapkan kawasan perbukitan Lamreh, Krueng Raya, sebagai situs sejarah. Kawasan itu disebutkan sebagai bekas pertapakan Kerajaan Lamuri yang berdiri sebelum era Kerajaan Aceh Darussalam.[]
Ini Saran Peneliti Soal Lahan Situs Sejarah Lamuri
Rabu, 05 September 2012 19:30 WIB
IRMAN I.P http://atjehpost.com/gallery/article/image/20120905_062144_lamreh-taufan.jpg
BANDA ACEH – Peneliti sejarah kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad menyarankan aparat Pemerintah Gampong Lamreh, Aceh Besar dan pecinta sejarah mendesak Pemerintah Daerah untuk menjamin hak-hak warga pemilik tanah lokasi situs sejarah Lamuri.
“Menuju penyelesaian yang baik, saya kira warga Gampong Lamreh diwakili Geuchik dan tokoh masyarakat bersedia duduk bermusyawarah dan bermufakat dengan berbagai pihak pemerhati dan pecinta sejarah Aceh serta tinggalan sejarahnya, terutama MAPESA dan ikut pula BP3,” kata Taqiyuddin Muhammad kepada The Atejh Post, Rabu, 5 September 2012.
Seperti diketahui, belum lama ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala atau BP3 Aceh – Sumut telah menetapkan kawasan perbukitan Lamreh, Krueng Raya, sebagai situs sejarah. Kawasan itu disebutkan sebagai bekas pertapakan Kerajaan Lamuri yang berdiri sebelum era Kerajaan Aceh Darussalam.
Menurut Taqiyuddin, mufakat itu penting untuk menuntut dan mendesak Pemerintah Aceh atau Pemerintah Aceh Besar agar segera menjamin dan memastikan pembebasan areal situs sejarah itu demi lestarinya situs sejarah.
Dengan demikian, kata dia, warga pemilik tanah situs tidak perlu diresahkan oleh kekhawatiran terkait kepentingan mereka yang tidak terpenuhi. “Kalau mereka telah bersedia melepaskan kepemilikan atas tanah itu sebenarnya sudah merupakan kesempatan baik bagi pemerintah untuk menjadikannya sebagai aset kebudayaan yang penting.
Saya kira, kita sebagai pemerhati atau peminat, perlu menempuh jalan-jalan yang baik untuk menyadarkan pemerintah serta masyarakat tentang kepentingan situs ini,” katanya. Taqiyuddin menilai inisiatif MAPESA untuk menyelenggarakan pameran kebudayaan adalah suatu hal yang pantas diapresiasikan dan didukung bersama.[]
IRMAN I.P http://atjehpost.com/gallery/article/image/20120905_062144_lamreh-taufan.jpg
BANDA ACEH – Peneliti sejarah kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad menyarankan aparat Pemerintah Gampong Lamreh, Aceh Besar dan pecinta sejarah mendesak Pemerintah Daerah untuk menjamin hak-hak warga pemilik tanah lokasi situs sejarah Lamuri.
“Menuju penyelesaian yang baik, saya kira warga Gampong Lamreh diwakili Geuchik dan tokoh masyarakat bersedia duduk bermusyawarah dan bermufakat dengan berbagai pihak pemerhati dan pecinta sejarah Aceh serta tinggalan sejarahnya, terutama MAPESA dan ikut pula BP3,” kata Taqiyuddin Muhammad kepada The Atejh Post, Rabu, 5 September 2012.
Seperti diketahui, belum lama ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala atau BP3 Aceh – Sumut telah menetapkan kawasan perbukitan Lamreh, Krueng Raya, sebagai situs sejarah. Kawasan itu disebutkan sebagai bekas pertapakan Kerajaan Lamuri yang berdiri sebelum era Kerajaan Aceh Darussalam.
Menurut Taqiyuddin, mufakat itu penting untuk menuntut dan mendesak Pemerintah Aceh atau Pemerintah Aceh Besar agar segera menjamin dan memastikan pembebasan areal situs sejarah itu demi lestarinya situs sejarah.
Dengan demikian, kata dia, warga pemilik tanah situs tidak perlu diresahkan oleh kekhawatiran terkait kepentingan mereka yang tidak terpenuhi. “Kalau mereka telah bersedia melepaskan kepemilikan atas tanah itu sebenarnya sudah merupakan kesempatan baik bagi pemerintah untuk menjadikannya sebagai aset kebudayaan yang penting.
Saya kira, kita sebagai pemerhati atau peminat, perlu menempuh jalan-jalan yang baik untuk menyadarkan pemerintah serta masyarakat tentang kepentingan situs ini,” katanya. Taqiyuddin menilai inisiatif MAPESA untuk menyelenggarakan pameran kebudayaan adalah suatu hal yang pantas diapresiasikan dan didukung bersama.[]
Hari Kelima, Pameran Foto Sejarah Lamuri Dipenuhi Pengunjung
Selasa, 11 September 2012 22:45 WIB
IKLILUDIN ARAS
BANDA ACEH - Memasuki hari kelima, pameran foto penyelamatan kawasan situs sejarah Lamuri di Bukit Lamreh yang digelar Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) di kawasan Masjid Raya Baiturraman, antuasiasme pengunjung luar biasa.
“Artinya masyarakat selain prihatin melihat bukti sejarah yang disajikan panitia lewat foto-foto, juga bisa melihat kilas balik sejarah Aceh di masa lampau,” ujar ketua pelaksana kegiatan Edi Rahmani, kepada The Atjeh Post, Selasa 11 September 2012.
Edi mengatakan Bukit Lamreh di Krueng Raya, Aceh Besar, tersebut hanya diketahui segelintir orang saja kalau itu bukti sejarah Aceh. Ia menunjukkan beberapa temuan yang didapat di kawasan bukit itu berupa tembikar, koin, alat-alat dapur, dan bahan dasar pembuatan batu nisan berupa baru granit. Salah seorang pengunjung, Edisyah, mengatakan penting untuk melihat balik sejarah Aceh di masa lampau.
Ia mencontohkan kawasan toko Simbun Sibreh sekarang dulunya Balai Sultan Iskandar Muda. Kalau Bukit Lamreh tidak diselamatkan, kata dia, kawasan itu akan seperti balai sultan yang berubah menjadi pertokoan, dan hilang dengan sendirinya.[]
IKLILUDIN ARAS
BANDA ACEH - Memasuki hari kelima, pameran foto penyelamatan kawasan situs sejarah Lamuri di Bukit Lamreh yang digelar Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) di kawasan Masjid Raya Baiturraman, antuasiasme pengunjung luar biasa.
“Artinya masyarakat selain prihatin melihat bukti sejarah yang disajikan panitia lewat foto-foto, juga bisa melihat kilas balik sejarah Aceh di masa lampau,” ujar ketua pelaksana kegiatan Edi Rahmani, kepada The Atjeh Post, Selasa 11 September 2012.
Edi mengatakan Bukit Lamreh di Krueng Raya, Aceh Besar, tersebut hanya diketahui segelintir orang saja kalau itu bukti sejarah Aceh. Ia menunjukkan beberapa temuan yang didapat di kawasan bukit itu berupa tembikar, koin, alat-alat dapur, dan bahan dasar pembuatan batu nisan berupa baru granit. Salah seorang pengunjung, Edisyah, mengatakan penting untuk melihat balik sejarah Aceh di masa lampau.
Ia mencontohkan kawasan toko Simbun Sibreh sekarang dulunya Balai Sultan Iskandar Muda. Kalau Bukit Lamreh tidak diselamatkan, kata dia, kawasan itu akan seperti balai sultan yang berubah menjadi pertokoan, dan hilang dengan sendirinya.[]
Lamuri Kembali Digempur China
OPINI | 10 September 2012 | 16:52
ADNAN SALEH http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/09/13472706521966963556_300x225.jpg
Kehidupan ibarat roda yang berputar. Kadang di atas dan kadang di bawah atau habis hilang muncul kembali. Menarik memang bila mengaitkan sebuah roda dengan sejarah. Kisah – kisah yang pernah terjadi di masa lalu, kemungkinan akan terjadi kembali pada masa kini. Walau polanya tak lagi sama karena zaman telah berubah, namun ada kemiripan di antara keduanya.
Peristiwa yang saat ini kembali terulang tersebut adalah ‘gempuran’ China terhadap wilayah Kerajaan Lamuri yang terletak di Lamreh, Aceh Besar. Dalam beberapa riwayat tertulis bahwa dahulu pasukan dari Dinasti China dibawah pimpinan seorang panglima wanita yang bernama Nian Nio Lian Khi atau lebih akrab dikenal dengan nama Putroe Neng pernah menggempur Lamuri.
Pasukan dari Nian Nio Lian Khi pada akhirnya dikalahkan oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Panglima Meurah Johan.Inilah sedikit kisah masa lalu Lamuri yang saya muat dalam tulisan ini. Namun, apa kaitannya peristiwa saat ini dengan masa lalu Lamuri ? Lamreh, tempat dimana Kerajaan Lamuri dulunya berdiri, direncanakan akan dibangun lapangan golf yang investornya berasal dari negeri China.
Lokasi yang dipilih ternyata merupakan area inti dari Kerajaan Lamuri bertempat. Keinginan membangun lapangan golf oleh investor China itu kemudian saya istilahkan sebagai gempuran jilid 2 China ke ‘negeri’ Lamuri. Walau bentuk dari serangan kali ini bukanlah oleh bala tentara seperti yang dipimpin oleh Nian Nio Lian Khi (Putroe Neng) dahulu, tapi berbentuk buldozer atau alat – alat kontraktor lainnya yang mengancam bangunan bersejarah milik Kerajaan Lamuri.
Bila pembangunan lapangan golf jadi dilaksanakan sebagaimana yang memang telah ada dalam perencanaan, maka gempuran negeri China yang diwakili oleh investornya kali ini akan menaklukkan ‘negeri’ Lamuri hingga rata dengan harga tanahnya yang cuma Rp 17.000 per meter persegi.
Apa boleh buat, Lamuri untuk saat ini tak memiliki bala tentara untuk membendung gempuran investor China menaklukkannya dengan modal uang membeli tanah ‘negeri’ Lamuri Rp 17.000 per meter persegi dan alat – alat kontraktor yang mereka miliki. Panglima Meurah Johan yang pernah mempertahankan Lamuri dari gempuran China kini telah tiada.
Harapan ‘negeri’ Lamuri untuk terus bertahan hanyalah pada masyarakat. Bila masyarakat menyuarakan penyelamatan ‘negeri’ Lamuri, maka ‘amunisi – amunisi’ investor China akan berhenti menyalak. Pengusaha tak akan bisa berbuat banyak bila memang masyarakat bisa membuktikan ‘negeri’ Lamuri merupakan aset sejarah bangsa yang harus dilindungi.
Syukur, BP3 (Balai pelestarian peninggalan purbakala) Aceh – Sumut cepat menyikapi suara masyarakat yang menginginkan area tempat berdirinya Kerajaan Lamuri tidak dialihfungsikan menjadi lapangan golf. Kini harapan untuk menyelamatkan Lamuri dari gempuran China berada pada masyarakat.Dengan kepedulian semua pihak, maka selamatlah ‘negeri’ Lamuri dari gempuran China jilid 2. Semoga
ADNAN SALEH http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/09/13472706521966963556_300x225.jpg
Kehidupan ibarat roda yang berputar. Kadang di atas dan kadang di bawah atau habis hilang muncul kembali. Menarik memang bila mengaitkan sebuah roda dengan sejarah. Kisah – kisah yang pernah terjadi di masa lalu, kemungkinan akan terjadi kembali pada masa kini. Walau polanya tak lagi sama karena zaman telah berubah, namun ada kemiripan di antara keduanya.
Peristiwa yang saat ini kembali terulang tersebut adalah ‘gempuran’ China terhadap wilayah Kerajaan Lamuri yang terletak di Lamreh, Aceh Besar. Dalam beberapa riwayat tertulis bahwa dahulu pasukan dari Dinasti China dibawah pimpinan seorang panglima wanita yang bernama Nian Nio Lian Khi atau lebih akrab dikenal dengan nama Putroe Neng pernah menggempur Lamuri.
Pasukan dari Nian Nio Lian Khi pada akhirnya dikalahkan oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Panglima Meurah Johan.Inilah sedikit kisah masa lalu Lamuri yang saya muat dalam tulisan ini. Namun, apa kaitannya peristiwa saat ini dengan masa lalu Lamuri ? Lamreh, tempat dimana Kerajaan Lamuri dulunya berdiri, direncanakan akan dibangun lapangan golf yang investornya berasal dari negeri China.
Lokasi yang dipilih ternyata merupakan area inti dari Kerajaan Lamuri bertempat. Keinginan membangun lapangan golf oleh investor China itu kemudian saya istilahkan sebagai gempuran jilid 2 China ke ‘negeri’ Lamuri. Walau bentuk dari serangan kali ini bukanlah oleh bala tentara seperti yang dipimpin oleh Nian Nio Lian Khi (Putroe Neng) dahulu, tapi berbentuk buldozer atau alat – alat kontraktor lainnya yang mengancam bangunan bersejarah milik Kerajaan Lamuri.
Bila pembangunan lapangan golf jadi dilaksanakan sebagaimana yang memang telah ada dalam perencanaan, maka gempuran negeri China yang diwakili oleh investornya kali ini akan menaklukkan ‘negeri’ Lamuri hingga rata dengan harga tanahnya yang cuma Rp 17.000 per meter persegi.
Apa boleh buat, Lamuri untuk saat ini tak memiliki bala tentara untuk membendung gempuran investor China menaklukkannya dengan modal uang membeli tanah ‘negeri’ Lamuri Rp 17.000 per meter persegi dan alat – alat kontraktor yang mereka miliki. Panglima Meurah Johan yang pernah mempertahankan Lamuri dari gempuran China kini telah tiada.
Harapan ‘negeri’ Lamuri untuk terus bertahan hanyalah pada masyarakat. Bila masyarakat menyuarakan penyelamatan ‘negeri’ Lamuri, maka ‘amunisi – amunisi’ investor China akan berhenti menyalak. Pengusaha tak akan bisa berbuat banyak bila memang masyarakat bisa membuktikan ‘negeri’ Lamuri merupakan aset sejarah bangsa yang harus dilindungi.
Syukur, BP3 (Balai pelestarian peninggalan purbakala) Aceh – Sumut cepat menyikapi suara masyarakat yang menginginkan area tempat berdirinya Kerajaan Lamuri tidak dialihfungsikan menjadi lapangan golf. Kini harapan untuk menyelamatkan Lamuri dari gempuran China berada pada masyarakat.Dengan kepedulian semua pihak, maka selamatlah ‘negeri’ Lamuri dari gempuran China jilid 2. Semoga
Bahas Situs Lamuri, Mapesa Temui Wakil Gubernur
Kamis, 13 September 2012 12:42 WIB
IKLILUDIN ARAS
BANDA ACEH- Sejumlah anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), hari ini dijadwalkan bertemu Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Pertemuan membahas tentang upaya penyelamatan situs sejarah Kerajaan Lamuri di kawasan Bukit Lamreh, Aceh Besar.
Muhajir, Wakil Ketua Mapesa mengatakan, saat ini mereka sudah berada di Kantor Gubernur di kawasan Lampineueng, Banda Aceh. “Kami ingin meminta dukungan Pemerintah Aceh agar menjadikan kawasan Bukit Lamreh sebagai situs sejarah yang dilindungi mengingat di sana pernah berdiri Kerajaan Lamuri yang menjadi cikal bakal Kerajaan Aceh,” kata Muhajir kepada The Atjeh Post, Kamis, 13 September 2012.
Permintaan itu, kata dia, menyusul rencana Pemerintah Aceh Besat menjadikan situs Kerajaan Lamuri di Lamreh sebagai lapangan golf. "Sebelumnya kami juga sudah meminta dukungan dari Komisi A DPR Aceh. Ini demi pelestarian sejarah Aceh,” kata Muhajir. []
IKLILUDIN ARAS
BANDA ACEH- Sejumlah anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), hari ini dijadwalkan bertemu Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Pertemuan membahas tentang upaya penyelamatan situs sejarah Kerajaan Lamuri di kawasan Bukit Lamreh, Aceh Besar.
Muhajir, Wakil Ketua Mapesa mengatakan, saat ini mereka sudah berada di Kantor Gubernur di kawasan Lampineueng, Banda Aceh. “Kami ingin meminta dukungan Pemerintah Aceh agar menjadikan kawasan Bukit Lamreh sebagai situs sejarah yang dilindungi mengingat di sana pernah berdiri Kerajaan Lamuri yang menjadi cikal bakal Kerajaan Aceh,” kata Muhajir kepada The Atjeh Post, Kamis, 13 September 2012.
Permintaan itu, kata dia, menyusul rencana Pemerintah Aceh Besat menjadikan situs Kerajaan Lamuri di Lamreh sebagai lapangan golf. "Sebelumnya kami juga sudah meminta dukungan dari Komisi A DPR Aceh. Ini demi pelestarian sejarah Aceh,” kata Muhajir. []
Asal Usul Lamuri SEBUAH KERAJAAN ISLAM
“Riwayat Aceh Besar tak lekang dari Lamuri, kota bandar Kerjaan Indra Purba sebelum kerajaan Aceh Darussalam terbentuk.” Kerajaan Lamuri dipimpin oleh raja-raja dari Dinasti Maharaja (Meurah) Syahir Dauliy.
Orang luar (pendatang) menyebutkan dengan Lam Oerit atau Lamuri, terletak dekat Kampung Lam Krak, Kecamatan Suka Makmur sekarang (Teuku Iskandar menyebutkan Lamreh, dekat Krueng Raya).
Menurut sejarawan Aceh, M. Junus Djamil (1972), keberadaan Kerajaan Lamuri dijelaskan dalam Hikayat Raja Masah, Hikayat Syiah Hudan (Teungku Lam Peuneu'euen), riwayat asal usul sukee lhee reutoh, riwayat Putroe Neng (Raja Seudue), serta hasil penelitian Ceng Oi dari Cina pada 1919. Pada 414 H (1024 M) Lamuri diserang oleh Raja Rajendra Cola Dewa dari India. Menghadapi serangan itu, Lamuri membuat pertahanan di Mampreh.
Penduduk negeri itu diungsikan ke Gle Weung. Serangan Raja Rajendra itu pun dapat dipatahkan. Riwayat perang tersebut disusun dalam Hikayat Prang Raja Kula, yang menyebutkan bahwa setelah perang terjadilah perpecahan karena ada sebagian wilayah yang dicaplok, seperti Indra Jaya/Kerajaan Seudu yang diserang oleh armada China pimpinan Liang Khie dengan Laksamana O Nga.
Beberapa generasi Liang Khie telah menguasai negeri Seudu/Panton Bie (Cantoli), di antaranya yang terkenal adalah Putri Nian Nio Liang Khie (Putroe Neng). Pada masa Putroe Neng berkuasa, ia melakukan penyerangan ke Lamuri yang saat itu diperintah oleh Maharaja Indra Sakti.
Pada masa itulah datang ke Lamuri rombongan Syeh Abdullah Kan'an yang dikenal sebagai Teungku Lampeu'neuen atau Syiah Hudan, yang membawa ajaran Islam ke daerah tersebut. Syeh berangkat bersama rombongan dari Bayeuen (Peureulak) yang merupakan murid dari Dayah Cot Kala. Atas izin Maharaja Indra Sakti, rombongan mubaligh itu menetap di daerah Mampreh.
Suatu ketika syiah Hudan menawarkan bantuannya kepada Maharaja Indra Sakti untuk menghadapi serangan Putroe Neng. Tawaran itu diterima dan kelompok Syiah Hudan berperang dengan pasukan Liang khie . setelah perang itu dimenangkan oleh Syiah Hudan, Putroe Neng berdamai dengan pihak Syiah Hudan. Karena kemenangan itu, Maharaja Indra Sakti dan rakyatnya kemudian memeluk Islam.
Perjalanan selanjutnya , kerajaan ini runtuh dengan Bangkitnya kerajaan Aceh Darussalam, yang berbilang abad kemudian juga runtuh akibat ekspansi Belanda.
Setelah Belanda meninggalkan nusantara dan Indonesia lahir, Provinsi Aceh dibentuk. Dan wilayah bekas Kerajaan Lamuri kini menjadi bagiaan dari Kabupaten Aceh Besar. Sebelum dikeluarkan Undang- Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956, Kabupaten Aceh Besar merupakan daerah yang terdiri atas tiga kewedanan , yaitu kewedanan Seulimeum , Kewedanan Lhok Nga, dan Kewedanaan Sabang.
Sejak keluarnya UU tersebut Kabupaten Aceh Besar disahkan menjadi daerah otonom dengan ibukota Banda Aceh yang merupakan wilayah hukum Kotamadya Banda Aceh. Usaha untuk memisahkan ibukota Kabupaten Aceh Besar dengan Kotamadya Banda Aceh telah dirintis sejak 1969.
Saat itu, Indrapuri, lebih kurang 25 kilometer dari Kota Banda Aceh ditawarkan sebagai ibukota Kabupaten Aceh Besar. Namun, tawaran tersebut tidak dapat terwujud. Selanjutnya, tahun 1976 usaha pemindahan tersebut dilanjutkan lagi. Kemukiman Jantho ditawarkan sebagai calon ibukota.
Baru tahun 1979 usaha tersebut terkabulkan dengan keluarnya Peraturan Pemerintah RI Nomor 35 Tahun 1979. Setelah keluarnya PP tersebut aktivitas perkantoran secara bertahap dipindahkan ke Kota Jantho. Peresmian ibukota baru tersebut dilakukan oleh Supardjo Rustam, Menteri Dalam Negeri, tanggal 3 Mei 1984.
[ Iskandar Norman /Pikiran Merdeka] http://profillamuri.blogspot.com/2012/07/asal-usul-lamuri-sebuah-kerajaan-islam.html
Orang luar (pendatang) menyebutkan dengan Lam Oerit atau Lamuri, terletak dekat Kampung Lam Krak, Kecamatan Suka Makmur sekarang (Teuku Iskandar menyebutkan Lamreh, dekat Krueng Raya).
Menurut sejarawan Aceh, M. Junus Djamil (1972), keberadaan Kerajaan Lamuri dijelaskan dalam Hikayat Raja Masah, Hikayat Syiah Hudan (Teungku Lam Peuneu'euen), riwayat asal usul sukee lhee reutoh, riwayat Putroe Neng (Raja Seudue), serta hasil penelitian Ceng Oi dari Cina pada 1919. Pada 414 H (1024 M) Lamuri diserang oleh Raja Rajendra Cola Dewa dari India. Menghadapi serangan itu, Lamuri membuat pertahanan di Mampreh.
Penduduk negeri itu diungsikan ke Gle Weung. Serangan Raja Rajendra itu pun dapat dipatahkan. Riwayat perang tersebut disusun dalam Hikayat Prang Raja Kula, yang menyebutkan bahwa setelah perang terjadilah perpecahan karena ada sebagian wilayah yang dicaplok, seperti Indra Jaya/Kerajaan Seudu yang diserang oleh armada China pimpinan Liang Khie dengan Laksamana O Nga.
Beberapa generasi Liang Khie telah menguasai negeri Seudu/Panton Bie (Cantoli), di antaranya yang terkenal adalah Putri Nian Nio Liang Khie (Putroe Neng). Pada masa Putroe Neng berkuasa, ia melakukan penyerangan ke Lamuri yang saat itu diperintah oleh Maharaja Indra Sakti.
Pada masa itulah datang ke Lamuri rombongan Syeh Abdullah Kan'an yang dikenal sebagai Teungku Lampeu'neuen atau Syiah Hudan, yang membawa ajaran Islam ke daerah tersebut. Syeh berangkat bersama rombongan dari Bayeuen (Peureulak) yang merupakan murid dari Dayah Cot Kala. Atas izin Maharaja Indra Sakti, rombongan mubaligh itu menetap di daerah Mampreh.
Suatu ketika syiah Hudan menawarkan bantuannya kepada Maharaja Indra Sakti untuk menghadapi serangan Putroe Neng. Tawaran itu diterima dan kelompok Syiah Hudan berperang dengan pasukan Liang khie . setelah perang itu dimenangkan oleh Syiah Hudan, Putroe Neng berdamai dengan pihak Syiah Hudan. Karena kemenangan itu, Maharaja Indra Sakti dan rakyatnya kemudian memeluk Islam.
Perjalanan selanjutnya , kerajaan ini runtuh dengan Bangkitnya kerajaan Aceh Darussalam, yang berbilang abad kemudian juga runtuh akibat ekspansi Belanda.
Setelah Belanda meninggalkan nusantara dan Indonesia lahir, Provinsi Aceh dibentuk. Dan wilayah bekas Kerajaan Lamuri kini menjadi bagiaan dari Kabupaten Aceh Besar. Sebelum dikeluarkan Undang- Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956, Kabupaten Aceh Besar merupakan daerah yang terdiri atas tiga kewedanan , yaitu kewedanan Seulimeum , Kewedanan Lhok Nga, dan Kewedanaan Sabang.
Sejak keluarnya UU tersebut Kabupaten Aceh Besar disahkan menjadi daerah otonom dengan ibukota Banda Aceh yang merupakan wilayah hukum Kotamadya Banda Aceh. Usaha untuk memisahkan ibukota Kabupaten Aceh Besar dengan Kotamadya Banda Aceh telah dirintis sejak 1969.
Saat itu, Indrapuri, lebih kurang 25 kilometer dari Kota Banda Aceh ditawarkan sebagai ibukota Kabupaten Aceh Besar. Namun, tawaran tersebut tidak dapat terwujud. Selanjutnya, tahun 1976 usaha pemindahan tersebut dilanjutkan lagi. Kemukiman Jantho ditawarkan sebagai calon ibukota.
Baru tahun 1979 usaha tersebut terkabulkan dengan keluarnya Peraturan Pemerintah RI Nomor 35 Tahun 1979. Setelah keluarnya PP tersebut aktivitas perkantoran secara bertahap dipindahkan ke Kota Jantho. Peresmian ibukota baru tersebut dilakukan oleh Supardjo Rustam, Menteri Dalam Negeri, tanggal 3 Mei 1984.
[ Iskandar Norman /Pikiran Merdeka] http://profillamuri.blogspot.com/2012/07/asal-usul-lamuri-sebuah-kerajaan-islam.html
NISAN DARI KERAJAAN LAMURI DAN SAMUDERA PASAI DI NEUSU ACEH
Hasil Survey Awal di Lingkungan Mesjid Babul Jannah Neusu Aceh,
Banda Aceh, tahun 2012 Deddy Satria Arkeolog Independen Aceh (Gambar tanpa skala oleh Deddy Satria, 2012) Penataan kelompok makam bersama (a) dan batu nisan kuno dari lingkungan Mesjid Babul Jannah, Neusu Aceh, Banda Aceh.
Makam dan batu nisan kuno jenis tipe pasai dan plakpleng; (b) kelompok makam VIII dengan delapan makam, (c) kelompok makam V dengan lima makam dan (d) kelompok makam VII dengan tujuh makam.
Penamaan kelompok makam berdasarkan jumlah temuan makam dengan penanda batu nisan jenis tersebut di atas. Penamaan batu nisan tipe Pasai digunakan di sini untuk membedakan rancangan bentuk dan gaya seni pahat batu nisan dengan batu nisan dari periode Aceh Darussalam secara kronologis.
Para peneliti batu nisan kuno Aceh, kususnya Hasan M. Ambary (1984) dan Othman M. Yatim (1988), dalam klasifikasi dan tipologi menghasilkan beberapa kelompok dan penyebutan atau istilah untuk batu nisan kuno Aceh.
Namun baik Ambary maupun Othman tidak membedakan batu nisan kuno di Aceh dalam periodesasi sejarah Aceh, yang dalam kenyataannya kedua periode tersebut cukup berbeda dan masing-masing berkembang secara mandiri, walaupun masih saling berhubungan.
Batu nisan dari masa Samudera Pasai maupun dari masa Aceh Darussalam termasuk batu nisan ‘Tipe Aceh’ dalam tipologi Ambary (Hasan M. Ambary, L‘art Funeire Musulman en Indonesie des Origines aux XIXa Siecle, Etude Epigraphique et Typologique, These Pourle Doctorat de Troisieme Cycle, EHESS, Paris, 1984.) atau ‘Batu Aceh’ dalam tipologi Ohtman (Othman M. Yatim, Batu Aceh: Early Islamic in Paninsular Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1988.).
Secara kronologis, dalam penyusunan periodesasi sejarah Aceh dikenal dua periode sejarah yang berbeda, yaitu sejarah kebudayaan Islam Samudera Pasai dan Aceh Darussalam. Samudera Pasai dalam kajian sejarah perkembangan kebudayaan Islam di nusantara merupakan kesultanan Islam pertama di kawasan Nusantara yang berhasil menggembangkan kebudayaan Islam.
Salah satu hasil budaya Islam masa Samudera Pasai yang cukup dikenal yaitu batu nisan, selain koin emas, dengan persebaran dan pengaruhnya yang cukup luas dari Semenanjung Melayu hingga pulau Jawa. Pengaruh itu cukup kuat di kawasan Selat Malaka hingga mempengaruhi Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh Darussalam sebagai pewaris dan melanjutkan kebudayaan Islam Pasai.
Batu nisan dalam tipe Aceh atau ‘Batu Aceh’ secara kronologis juga dapat dibedakan menjadi dua periodesasi sejarah tersebut. Pertama, batu nisan dari periode Kesultanan Samudera Pasai (sejak akhir abad ke-13 M hingga digabungkan ke dalam wilayah Kesultanan Aceh Darussalam tahun 1524 M.) dan kedua batu nisan dari periode Kesultanan Aceh Darussalam (sejak awal abad ke-16 M. hingga 1900-an M.).
Batu nisan dari periode Kesultanan Aceh Darussalam merupakan kelanjutan dari batu nisan periode Samudera Pasai. Namun demikian, batu nisan dari Aceh Darussalam mengalami perkembangan yang sangat berarti dalam rancangan bentuk batu nisan, gaya seni hias, dan penggunaan khat dalam kaligrafi Islam.
Walaupun pada masa awal perkembangannya, batu nisan Aceh Darussalam banyak mengukuti rancangan bentuk batu nisan Samudera Pasai akhir, terutama dalam hal rancangan bentuk batu nisan dan motif hias. Batu nisan dari Neusu Aceh merupakan batu nisan dari masa peralihan dari sejarah kebudayaan Islam Pasai akhir ke masa awal munculnya Kesultanan Aceh.
Secara morfologis, terutama rancangan bentuk batu nisan dan penggunaan elemen motif, mempunyai banyak kesamaan dengan tradisi pembuatan batu nisan dari masa Samudera Pasai atau ‘Batu Pasai’. Namun mengalami sedikit perbedaan pada gaya seni pahat dan rancangan motif hias dan gaya kaligrafi Islam.
Selain itu, bahan batuan yang digunakan sangat berbeda dengan bahan batuan Tuffa berwarna keabuan yang bertektur agak kasar biasa digunakan pada batu nisan dari masa Samudera Pasai. Jenis batuan yang biasa digunakan untuk batu nisan masa Aceh Darussam berwarna krem kecoklatan dan bertekstur halus. MAKAM VIII NEUSU ACEH Makam di sini berjumlah delapan, diantaranya enam batu nisan ‘Batu Pasai’ dan dua jenis batu nisan plakpleng.
Lima dari batu nisan mengandung kaligrafi dan motif hias. Makam Fahr ad Din Kolofon Fahr ad Din & surah al Ikhlas (112); 1-4 (Kemurnian Tauhid). “ﻓﻬﺭﺍﻟﺩﻴﻥ” Jenis khat pada kolofon segitiga Harf an Nar, ‘berujung lidah api’ Kolofon dengan nama tokoh Nasr ad Din; “ﻨﺴﺭﻭﺍﻟﺩﻴﻥ” Penulisan khat dengan tehnik dekoratif yang bersifat ornamental pada kolofon bagian kaki batu nisan menggunakan motif tetumbuhan, tunas, daun dan bunga.
Motif pada bagian kaki batu nisan Makam nomor 7 ; Nasr ad Din, Batu nisan kepala, sisi (atas) U-T dan (bawah) S-B Khat ditulis dalam penataan panil berbentuk grid, panil terbagi dalam sembilan kotak, untuk menghasilkan kesan teratur pada bidang batu nisan yang sempit menjadikannya tampak padat.
Tehnik menghias dengan rancangan kaligrafi Islam ini biasa dan menjadi salah satu ciri dalam seni hias Islam. Tradisi menghias batu nisan seperti ini juga dikenal pada seni pahat batu nisan Samudera Pasai, walaupun sangat jarang ditemukan.
Rancangan khat dengan deretan garis vertical serupa tirai bagi huruf bulat dan melengkung. Makam nomor 7 ; Nasr ad Din, Batu nisan kaki, sisi utara KALIMAH SYAHADAH; ”Laa Ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah”. Isi teks epitap ini sangat dominan pada batu nisan tipe batu Pasai dari Nausu Aceh.
Delapan batu nisan yang dijadikan pengamatan, termasuk dua batu nisan jenis tipe plakpleng, hanya dua batu nisan yang tidak mengandung teks ini. Yaitu, batu nisan pada makam ‘Fahr ad Din’ dan makam ‘Nasr ad Din’. ﻻﺍﻠﻪﺍﻻﺍﻠﻟﻪ, ﻤﺤﻤﺩ ﺭﺴﻭﻻﺍﻠﻟﻪ Hal yang sangat menarik dari teks ini yaitu cara merancang khat kaligrafi dengan berbagai tehnik dan metode.
Formula susunan huruf, menggayakan huruf atau kalimat/kata tertentu dan memberikan makna kusus dengan tehnik styler. Tema ‘kemurnian tauhid’ menjadi isi teks epitap pada batu nisan tipe Pasai dan juga plak pleng di Neusu Aceh. Ini juga dapat dilihat isi teks dengan ‘kalimah syahadah’ penulisannya kadang berulang dan sebuah makam, makam Nasr ad Din, dengan kutipan surah al Ikhlas (112) ayat 1 hingga 4. Isi teks seperti ini sesuat menjadi biasa pada batu nisan di Aceh.
Makam nomor 4 dan 5; ‘Kalimah Syahadah’. Batu nisan bagian kepala makam sisi selatan. Nama Tokoh Nasr ad Din dan Fahr ad Din. Pembacaan terhadap teks epitap yang unik ini memang masih perlu ditinjauan. Kedua batu nisan pada makam ini mengandung penanda atau banyak hal yang mengarah kepada satu petunjuk kedua tokoh ini sangat penting semasa hidupnya.
Teks epitapnya tidak memberikan penjelasan apa pun tentang kedudukan dan peran tokoh dalam kehidupannya. Selain kolofon yang mengandung nama tokoh, teks epitap dengan kutipan ayat al Qur’an, Surah al Ikhlas (112) pada batu nisan Fahr ad Din dan kutipan ayat yang belum terbaca pada batu nisan Nasr ad Din, suatu temuan yang tidak biasa di Makam VIII Neusu Aceh.
Isi teks epitap kutipan ayat al Qur’an tersebut cukup penting dan sedikit memberikan penjelasan bahwa kedua tokoh tersebut orang yang cukup taat menjalankan ajaran Islam. Selain itu, kolofon dengan nama yang disamarkan dalam tradisi kebudayaan dunia Islam hanya dibuat oleh dan untuk tokoh yang cukup terhormat dalam masyarakat Islam, seperti para imam (pemimpin) dan ulama.
Bentuk kolofon segitiga atau kolofon persegi empat biasa ditemukan dalam teks Islam, terutama dalam tradisi penulisan teks Islam di wilayah persebaran kebudayaan Persia Islam(Yasin Hamid Safadi, Kaligrafi Islam, Thames and Hudson Limited, London, 1978, p. 94-95). Batu Pasai di pemakaman ini, enam makam -selain dua makam dengan jenis batu nisan plakpleng, cenderung tidak dihias kecuali kaligrafi Islam dengan teks epitap berisi ‘kalimah syahadah’.
Teks epitap hanya di pahat pada batu nisan bagian kepala makam sisi selatan pada panil pensegi panjang satu kolom sederhana yang dibuatkan pada bagian badan bawah atau kaki batu nisan. Ini salah satu ciri yang sering ditemukan pada batu nisan di Neusu Aceh. Rancangan motif hias, berupa tetumbuhan, pola geometric, dan arabesque, juga jarang ditemukan pada batu nisan di sini.
Terutama pada makam Nasr ad Din yaitu makam nomor 7 dari Makam VIII Neusu Aceh dan makam nomor 3 dari Makam V Neusu Aceh. Kedua makam tersebut diduga kuat sebagai makam tokoh yang sangat penting sehingga penanda makamnya dengan batu nisan yang dihias dengan seni pahat timbul.
Rancangan bentuk dan gaya motif hias yang khas ini dibuat kusus sebagai penanda untuk membedakan dengan batu nisan pada makam lainnya. MAKAM V NEUSU ACEH Makam bersama ini terdiri dari lima makam dengan batu nisan yang dipahat, satu diantaranya (makam nomor 3) dihias dengan pahat timbul kaligrafi Islam yang padat dan motif hias.
Makam nomor 3, baik batu untuk kepala dan kaki, dihias dengan motif dan kaligrafi dengan rancangan bergaya batu nisan tipe Aceh Darussalam dari masa periode awal, tahun 1500-1530 M. Atas. Kepala; sisi timur (T) dan barat (B) Bawah. Kaki sisi timur (T) dan sisi barat (B); ‘Amir Salam ?’ Tehnik penulisan huruf secara vertical, sehingga terkesan terbalik, dan penulisan penggalan hurufnya pun terbalik tidak mengikuti struktur kalimat.
Cara penulisan ini dimaksudkan untuk menghasilkan rancangan dengan dampak yang menarik, seperti Muhammad yang divariasikan rancangan bentuk dan penulisannya. Tehnik penulisan ini telah dikenal sejak masa Samudera Pasai. MAKAM VII NEUSU ACEH Dua batu nisan dengan Batu Pasai, salah satunya mengandung teks epitep berisi kalimah syahadah, dan sebuah batu nisan jenis plakpleng dengan teks epitap yang ditulis secara terbalik.
Batu Pasai di sini tidak ada hal yang berbeda dari batu nisan di kedua makam lain. MAKAM TUAN IBNU SYAMSU SYAH Batu nisan bagian kepala nisan sisi utara dan selatan Makam Tuan Ibnu Syamsu Syah ini berada sedikit jauh dari lokasi tiga kelompok makam di atas. Di makam ini hanya ditemukan satu makam dengan batu nisan kuno berukir dari periode yang sama dengan batu nisan kuno di atas.
Nama tokoh ditulis dengan menggunakan susunan kalimat yang sangat baku dan sering ditemukan pada batu nisan kuno di Aceh. Isi teks epitap secara berurutan meliputi; (i) diawali dengan kalimat pembuka ‘inilah kubur …’, lalu diikuti dengan (ii) nama tokoh dan kadang dengan gelar, kemudian (iii) pujian untuk tokoh dan atau keterangan waktu kematian dalam hitungan hijriah.
Teks epitap dipahat dalam panil yang dibagi dalam tiga kolom, nama tokoh ditulis pada kolom I dengan isi teks; ﻫﺫﺍﻟﻗﺒﺭﺘﻭﻥ ﺍﺒﻥ ﺸﻤﺱ ﺸﺎﻩ “Inilah kubur Tuan Ibnu Syamsu Syah” Kata ‘Tuan’ yang disandang tokoh dalam tradisi teks Melayu klasik, menunjukkan dia seorang ‘majikan’ yang memiliki hamba sahaya atau budak. Atau dengan kata lain, dia seorang pemimpin seperti seorang penguasa ‘raja’ yang mempunyai beberapa hamba.
Namun anehnya tokoh ini hanya dimakamkan seorang diri, tanpa pendamping dari masanya, selain batu nisan ini juga banyak ditemukan makam kuno lain, namun secara kronologis berasal dari masa yang lebih kemudian. Sementara nama tokoh ‘Ibnu Syamsu Syah’ atau ‘anak Syamsu Syah’ mengingatkan pada nama seorang tokoh yang dipahatkan pada salah satu makam di Makam Mahkota Alam, Ilie, Ulee Kareng, Banda Aceh.
Di makam ini terdapat beberapa makam tokoh keluarga Kesultanan Aceh Darussalam dari abad ke-16 M., salah satu tokoh utama bernama Raja Syamsu Syah bin Munawwar Syah yang wafat tahun 1530 M. Nama Syamsu Syah juga ditemukan pada makam keluarga Sultan Aceh Darussalam yang lain dari abad ke-16 M., yaitu Makam Kandang XII.
Di makam ini terdapat makam pendiri Kesultanan Aceh Darussalam dan pemersatu wilayah yang kemudian hari dikenal sebagai Aceh, yaitu makam Sultan ‘Ali Mughayah Syah bin Syamsu Syah bin Munawwar Syah yang wafat tahun 1530 M. Bila benar Tuan Ibnu Syamsu Syah dari Neusu Aceh sebagai putra Raja Syamsu Syah dan menjadi saudara seayah Sultan ‘Ali Mughayah Syah, maka tokoh ini merupakan salah satu dari keluarga Sultan Aceh Darussalam dari Dinasti Mahkota Alam (1497 M. hingga 1571/2 M.).
jika ini benar ini sungguh menarik karena dapat memberi gambaran geneologis keluarga Sultan Aceh dari periode awal yang masih belum terungkap. Batu nisan makam Tuan Ibnu Syamsu Syah secara morfologis memiliki rancangan bentuk dan dihias dengan motif yang sangat sederhana, berbeda dengan makam-makam para pangeran yang berukuran besar dan sangat mencolok.
Namun dari aspek kaligrafi Islam, rancangan khat yang digunakan memiliki kesamaan dengan periode makam keluarga sultan Aceh, yaitu menggunakan jenis khat Tsulust ornamental dengan penggayaan (styler) huruf menjadi tunas-tunas daun dan bunga. JENIS BATU NISAN PLAK PLENG Jenis batu nisan plakpleng secara morfologis sangat berbeda dengan batu nisan dari Periode Samudera Pasai dan Aceh Darussalam.
Rancangan bentuknya menyerupai tiang tugu batu yang diukir dan dipenuhi oleh motif hias yang dipahat dalam dengan tema bunga berukuran besar seperti teratai biru atau lotus dan melati atau jasmin. Bentuk dan gaya kaligrafi Islamnya juga sangat berbeda, menggunakan jenis khat Tsulust-Naskhi dengan garis vertical yang melebar dengan ujung-ujung terpotong tajam.
Hanya ada tiga batu nisan plakpleng dari Neusu Aceh. Persebaran batu nisan jenis plakpleng dengan rancangan bentuk dan gaya motif hias serta gaya dan jenis khat kaligrafi Islam cukup luas di Banda Aceh dan Aceh Besar, seperti Kampung Pande, Kampung Tibang, Mukim Tanjong-Tungkop, Kampong Ilie di Mukim Ule Kareng, Mukim Lamrung, dan Mukim Siron.
Rancangan bentuk motif dan gaya seni pahat batu nisan ini sering ditemukan dan secara kronologis yang lebih awal yaitu akhir abad ke-15 M hingga awal abad ke-16 M. Jenis batu nisan plakpleng dari Kampung Pande berasal dari pertengahan akhir abad ke-15 M., yaitu 1460-an M. Guillot & Kalus yang telah membaca teks epitap berhasil membaca beberapa batu nisan jenis ini di Kampung Pande, terutama lima batu nisan yang berada di pemakaman Tuan di Kandang dengan kode TK (Cloude Guillot & Ludvik Kalus, ’Les Monuments Foneraires et l’Histoire du Sultanate de Pase a Sumatra’, Cahierd’ Archipel 37, Paris, 2008, p.326-336).
Batu nisan tersebut yaitu, (i) TK I/03, tahun 849 H. atau 1446 M.; (ii) TK I/04, tahun 865 H. atau 1460 M., (iii) TK I/05, tahun 888 H. atau 1483-1484 M.; (iv) TK I/07, tahun 862 H. atau 1458 M.; (v) TK I/19, tahun 865 H. atau 1461 M. Periode batu nisan plang pleng yaitu dari tahun 1446 s/d 1484 M. Plakpleng dengan teks epitap ‘Kalimah Syahadah’ dari Makam VIII Neusu Aceh Batu nisan jenis plakpleng dengan teks epitap, mungkin kalimah syahadah, ditulis secara terbalik.
Dari Makam VII Neusu Aceh Deddy Satria Arkeolog Independen Aceh REFERENSI: · Achmad Cholid Sodrie, ‘Nisan-Nisan Samudera Pasai’, Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 1992, p. 53-59. · Cloude Guilot dan Ludvik Kalus, ‘Les Monuments Foneraires et l’Histoire du Sultananate de Pase a Sumatera’, Cahierd’ Archipel 37, Paris, 2008. ·
David T. Rice, Islamic Art, Thames and Hudson Limited, London, 1996. · Dalu Lones, ‘The Elements of Decoration: Surface, Pattern dan Light’, Architecture of the Islamic World, (Edited by George Michell), Thames and Hudson, London, 1991.
Hasan M. Ambary, L‘art Funeire Musulman en Indonesie des Origines aux XIXa Siecle, Etude Epigraphique et Typologique, These Pourle Doctorat de Troisieme Cycle, EHESS, Paris, 1984. · Oleg Graber, The Formation of Islamic Art, New Heaven and London, Yale University Press, London, 1973. ·
Othman M. Yatim, Batu Aceh: Early Islamic in Paninsular Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1988. · Othman M. Yatim dan Abdul Halim Nasir, Epigrafi Islam Terawal di Nusantara, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1990. · Yasin Hamid Safadi, Kaligrafi Islam, Thames and Hudson Limited, London, 1978.
http://mizuarmahdi.blogspot.com/2012/01/batu-nisan-tipe-pasai-dari-neusu-aceh.html
Banda Aceh, tahun 2012 Deddy Satria Arkeolog Independen Aceh (Gambar tanpa skala oleh Deddy Satria, 2012) Penataan kelompok makam bersama (a) dan batu nisan kuno dari lingkungan Mesjid Babul Jannah, Neusu Aceh, Banda Aceh.
Makam dan batu nisan kuno jenis tipe pasai dan plakpleng; (b) kelompok makam VIII dengan delapan makam, (c) kelompok makam V dengan lima makam dan (d) kelompok makam VII dengan tujuh makam.
Penamaan kelompok makam berdasarkan jumlah temuan makam dengan penanda batu nisan jenis tersebut di atas. Penamaan batu nisan tipe Pasai digunakan di sini untuk membedakan rancangan bentuk dan gaya seni pahat batu nisan dengan batu nisan dari periode Aceh Darussalam secara kronologis.
Para peneliti batu nisan kuno Aceh, kususnya Hasan M. Ambary (1984) dan Othman M. Yatim (1988), dalam klasifikasi dan tipologi menghasilkan beberapa kelompok dan penyebutan atau istilah untuk batu nisan kuno Aceh.
Namun baik Ambary maupun Othman tidak membedakan batu nisan kuno di Aceh dalam periodesasi sejarah Aceh, yang dalam kenyataannya kedua periode tersebut cukup berbeda dan masing-masing berkembang secara mandiri, walaupun masih saling berhubungan.
Batu nisan dari masa Samudera Pasai maupun dari masa Aceh Darussalam termasuk batu nisan ‘Tipe Aceh’ dalam tipologi Ambary (Hasan M. Ambary, L‘art Funeire Musulman en Indonesie des Origines aux XIXa Siecle, Etude Epigraphique et Typologique, These Pourle Doctorat de Troisieme Cycle, EHESS, Paris, 1984.) atau ‘Batu Aceh’ dalam tipologi Ohtman (Othman M. Yatim, Batu Aceh: Early Islamic in Paninsular Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1988.).
Secara kronologis, dalam penyusunan periodesasi sejarah Aceh dikenal dua periode sejarah yang berbeda, yaitu sejarah kebudayaan Islam Samudera Pasai dan Aceh Darussalam. Samudera Pasai dalam kajian sejarah perkembangan kebudayaan Islam di nusantara merupakan kesultanan Islam pertama di kawasan Nusantara yang berhasil menggembangkan kebudayaan Islam.
Salah satu hasil budaya Islam masa Samudera Pasai yang cukup dikenal yaitu batu nisan, selain koin emas, dengan persebaran dan pengaruhnya yang cukup luas dari Semenanjung Melayu hingga pulau Jawa. Pengaruh itu cukup kuat di kawasan Selat Malaka hingga mempengaruhi Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh Darussalam sebagai pewaris dan melanjutkan kebudayaan Islam Pasai.
Batu nisan dalam tipe Aceh atau ‘Batu Aceh’ secara kronologis juga dapat dibedakan menjadi dua periodesasi sejarah tersebut. Pertama, batu nisan dari periode Kesultanan Samudera Pasai (sejak akhir abad ke-13 M hingga digabungkan ke dalam wilayah Kesultanan Aceh Darussalam tahun 1524 M.) dan kedua batu nisan dari periode Kesultanan Aceh Darussalam (sejak awal abad ke-16 M. hingga 1900-an M.).
Batu nisan dari periode Kesultanan Aceh Darussalam merupakan kelanjutan dari batu nisan periode Samudera Pasai. Namun demikian, batu nisan dari Aceh Darussalam mengalami perkembangan yang sangat berarti dalam rancangan bentuk batu nisan, gaya seni hias, dan penggunaan khat dalam kaligrafi Islam.
Walaupun pada masa awal perkembangannya, batu nisan Aceh Darussalam banyak mengukuti rancangan bentuk batu nisan Samudera Pasai akhir, terutama dalam hal rancangan bentuk batu nisan dan motif hias. Batu nisan dari Neusu Aceh merupakan batu nisan dari masa peralihan dari sejarah kebudayaan Islam Pasai akhir ke masa awal munculnya Kesultanan Aceh.
Secara morfologis, terutama rancangan bentuk batu nisan dan penggunaan elemen motif, mempunyai banyak kesamaan dengan tradisi pembuatan batu nisan dari masa Samudera Pasai atau ‘Batu Pasai’. Namun mengalami sedikit perbedaan pada gaya seni pahat dan rancangan motif hias dan gaya kaligrafi Islam.
Selain itu, bahan batuan yang digunakan sangat berbeda dengan bahan batuan Tuffa berwarna keabuan yang bertektur agak kasar biasa digunakan pada batu nisan dari masa Samudera Pasai. Jenis batuan yang biasa digunakan untuk batu nisan masa Aceh Darussam berwarna krem kecoklatan dan bertekstur halus. MAKAM VIII NEUSU ACEH Makam di sini berjumlah delapan, diantaranya enam batu nisan ‘Batu Pasai’ dan dua jenis batu nisan plakpleng.
Lima dari batu nisan mengandung kaligrafi dan motif hias. Makam Fahr ad Din Kolofon Fahr ad Din & surah al Ikhlas (112); 1-4 (Kemurnian Tauhid). “ﻓﻬﺭﺍﻟﺩﻴﻥ” Jenis khat pada kolofon segitiga Harf an Nar, ‘berujung lidah api’ Kolofon dengan nama tokoh Nasr ad Din; “ﻨﺴﺭﻭﺍﻟﺩﻴﻥ” Penulisan khat dengan tehnik dekoratif yang bersifat ornamental pada kolofon bagian kaki batu nisan menggunakan motif tetumbuhan, tunas, daun dan bunga.
Motif pada bagian kaki batu nisan Makam nomor 7 ; Nasr ad Din, Batu nisan kepala, sisi (atas) U-T dan (bawah) S-B Khat ditulis dalam penataan panil berbentuk grid, panil terbagi dalam sembilan kotak, untuk menghasilkan kesan teratur pada bidang batu nisan yang sempit menjadikannya tampak padat.
Tehnik menghias dengan rancangan kaligrafi Islam ini biasa dan menjadi salah satu ciri dalam seni hias Islam. Tradisi menghias batu nisan seperti ini juga dikenal pada seni pahat batu nisan Samudera Pasai, walaupun sangat jarang ditemukan.
Rancangan khat dengan deretan garis vertical serupa tirai bagi huruf bulat dan melengkung. Makam nomor 7 ; Nasr ad Din, Batu nisan kaki, sisi utara KALIMAH SYAHADAH; ”Laa Ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah”. Isi teks epitap ini sangat dominan pada batu nisan tipe batu Pasai dari Nausu Aceh.
Delapan batu nisan yang dijadikan pengamatan, termasuk dua batu nisan jenis tipe plakpleng, hanya dua batu nisan yang tidak mengandung teks ini. Yaitu, batu nisan pada makam ‘Fahr ad Din’ dan makam ‘Nasr ad Din’. ﻻﺍﻠﻪﺍﻻﺍﻠﻟﻪ, ﻤﺤﻤﺩ ﺭﺴﻭﻻﺍﻠﻟﻪ Hal yang sangat menarik dari teks ini yaitu cara merancang khat kaligrafi dengan berbagai tehnik dan metode.
Formula susunan huruf, menggayakan huruf atau kalimat/kata tertentu dan memberikan makna kusus dengan tehnik styler. Tema ‘kemurnian tauhid’ menjadi isi teks epitap pada batu nisan tipe Pasai dan juga plak pleng di Neusu Aceh. Ini juga dapat dilihat isi teks dengan ‘kalimah syahadah’ penulisannya kadang berulang dan sebuah makam, makam Nasr ad Din, dengan kutipan surah al Ikhlas (112) ayat 1 hingga 4. Isi teks seperti ini sesuat menjadi biasa pada batu nisan di Aceh.
Makam nomor 4 dan 5; ‘Kalimah Syahadah’. Batu nisan bagian kepala makam sisi selatan. Nama Tokoh Nasr ad Din dan Fahr ad Din. Pembacaan terhadap teks epitap yang unik ini memang masih perlu ditinjauan. Kedua batu nisan pada makam ini mengandung penanda atau banyak hal yang mengarah kepada satu petunjuk kedua tokoh ini sangat penting semasa hidupnya.
Teks epitapnya tidak memberikan penjelasan apa pun tentang kedudukan dan peran tokoh dalam kehidupannya. Selain kolofon yang mengandung nama tokoh, teks epitap dengan kutipan ayat al Qur’an, Surah al Ikhlas (112) pada batu nisan Fahr ad Din dan kutipan ayat yang belum terbaca pada batu nisan Nasr ad Din, suatu temuan yang tidak biasa di Makam VIII Neusu Aceh.
Isi teks epitap kutipan ayat al Qur’an tersebut cukup penting dan sedikit memberikan penjelasan bahwa kedua tokoh tersebut orang yang cukup taat menjalankan ajaran Islam. Selain itu, kolofon dengan nama yang disamarkan dalam tradisi kebudayaan dunia Islam hanya dibuat oleh dan untuk tokoh yang cukup terhormat dalam masyarakat Islam, seperti para imam (pemimpin) dan ulama.
Bentuk kolofon segitiga atau kolofon persegi empat biasa ditemukan dalam teks Islam, terutama dalam tradisi penulisan teks Islam di wilayah persebaran kebudayaan Persia Islam(Yasin Hamid Safadi, Kaligrafi Islam, Thames and Hudson Limited, London, 1978, p. 94-95). Batu Pasai di pemakaman ini, enam makam -selain dua makam dengan jenis batu nisan plakpleng, cenderung tidak dihias kecuali kaligrafi Islam dengan teks epitap berisi ‘kalimah syahadah’.
Teks epitap hanya di pahat pada batu nisan bagian kepala makam sisi selatan pada panil pensegi panjang satu kolom sederhana yang dibuatkan pada bagian badan bawah atau kaki batu nisan. Ini salah satu ciri yang sering ditemukan pada batu nisan di Neusu Aceh. Rancangan motif hias, berupa tetumbuhan, pola geometric, dan arabesque, juga jarang ditemukan pada batu nisan di sini.
Terutama pada makam Nasr ad Din yaitu makam nomor 7 dari Makam VIII Neusu Aceh dan makam nomor 3 dari Makam V Neusu Aceh. Kedua makam tersebut diduga kuat sebagai makam tokoh yang sangat penting sehingga penanda makamnya dengan batu nisan yang dihias dengan seni pahat timbul.
Rancangan bentuk dan gaya motif hias yang khas ini dibuat kusus sebagai penanda untuk membedakan dengan batu nisan pada makam lainnya. MAKAM V NEUSU ACEH Makam bersama ini terdiri dari lima makam dengan batu nisan yang dipahat, satu diantaranya (makam nomor 3) dihias dengan pahat timbul kaligrafi Islam yang padat dan motif hias.
Makam nomor 3, baik batu untuk kepala dan kaki, dihias dengan motif dan kaligrafi dengan rancangan bergaya batu nisan tipe Aceh Darussalam dari masa periode awal, tahun 1500-1530 M. Atas. Kepala; sisi timur (T) dan barat (B) Bawah. Kaki sisi timur (T) dan sisi barat (B); ‘Amir Salam ?’ Tehnik penulisan huruf secara vertical, sehingga terkesan terbalik, dan penulisan penggalan hurufnya pun terbalik tidak mengikuti struktur kalimat.
Cara penulisan ini dimaksudkan untuk menghasilkan rancangan dengan dampak yang menarik, seperti Muhammad yang divariasikan rancangan bentuk dan penulisannya. Tehnik penulisan ini telah dikenal sejak masa Samudera Pasai. MAKAM VII NEUSU ACEH Dua batu nisan dengan Batu Pasai, salah satunya mengandung teks epitep berisi kalimah syahadah, dan sebuah batu nisan jenis plakpleng dengan teks epitap yang ditulis secara terbalik.
Batu Pasai di sini tidak ada hal yang berbeda dari batu nisan di kedua makam lain. MAKAM TUAN IBNU SYAMSU SYAH Batu nisan bagian kepala nisan sisi utara dan selatan Makam Tuan Ibnu Syamsu Syah ini berada sedikit jauh dari lokasi tiga kelompok makam di atas. Di makam ini hanya ditemukan satu makam dengan batu nisan kuno berukir dari periode yang sama dengan batu nisan kuno di atas.
Nama tokoh ditulis dengan menggunakan susunan kalimat yang sangat baku dan sering ditemukan pada batu nisan kuno di Aceh. Isi teks epitap secara berurutan meliputi; (i) diawali dengan kalimat pembuka ‘inilah kubur …’, lalu diikuti dengan (ii) nama tokoh dan kadang dengan gelar, kemudian (iii) pujian untuk tokoh dan atau keterangan waktu kematian dalam hitungan hijriah.
Teks epitap dipahat dalam panil yang dibagi dalam tiga kolom, nama tokoh ditulis pada kolom I dengan isi teks; ﻫﺫﺍﻟﻗﺒﺭﺘﻭﻥ ﺍﺒﻥ ﺸﻤﺱ ﺸﺎﻩ “Inilah kubur Tuan Ibnu Syamsu Syah” Kata ‘Tuan’ yang disandang tokoh dalam tradisi teks Melayu klasik, menunjukkan dia seorang ‘majikan’ yang memiliki hamba sahaya atau budak. Atau dengan kata lain, dia seorang pemimpin seperti seorang penguasa ‘raja’ yang mempunyai beberapa hamba.
Namun anehnya tokoh ini hanya dimakamkan seorang diri, tanpa pendamping dari masanya, selain batu nisan ini juga banyak ditemukan makam kuno lain, namun secara kronologis berasal dari masa yang lebih kemudian. Sementara nama tokoh ‘Ibnu Syamsu Syah’ atau ‘anak Syamsu Syah’ mengingatkan pada nama seorang tokoh yang dipahatkan pada salah satu makam di Makam Mahkota Alam, Ilie, Ulee Kareng, Banda Aceh.
Di makam ini terdapat beberapa makam tokoh keluarga Kesultanan Aceh Darussalam dari abad ke-16 M., salah satu tokoh utama bernama Raja Syamsu Syah bin Munawwar Syah yang wafat tahun 1530 M. Nama Syamsu Syah juga ditemukan pada makam keluarga Sultan Aceh Darussalam yang lain dari abad ke-16 M., yaitu Makam Kandang XII.
Di makam ini terdapat makam pendiri Kesultanan Aceh Darussalam dan pemersatu wilayah yang kemudian hari dikenal sebagai Aceh, yaitu makam Sultan ‘Ali Mughayah Syah bin Syamsu Syah bin Munawwar Syah yang wafat tahun 1530 M. Bila benar Tuan Ibnu Syamsu Syah dari Neusu Aceh sebagai putra Raja Syamsu Syah dan menjadi saudara seayah Sultan ‘Ali Mughayah Syah, maka tokoh ini merupakan salah satu dari keluarga Sultan Aceh Darussalam dari Dinasti Mahkota Alam (1497 M. hingga 1571/2 M.).
jika ini benar ini sungguh menarik karena dapat memberi gambaran geneologis keluarga Sultan Aceh dari periode awal yang masih belum terungkap. Batu nisan makam Tuan Ibnu Syamsu Syah secara morfologis memiliki rancangan bentuk dan dihias dengan motif yang sangat sederhana, berbeda dengan makam-makam para pangeran yang berukuran besar dan sangat mencolok.
Namun dari aspek kaligrafi Islam, rancangan khat yang digunakan memiliki kesamaan dengan periode makam keluarga sultan Aceh, yaitu menggunakan jenis khat Tsulust ornamental dengan penggayaan (styler) huruf menjadi tunas-tunas daun dan bunga. JENIS BATU NISAN PLAK PLENG Jenis batu nisan plakpleng secara morfologis sangat berbeda dengan batu nisan dari Periode Samudera Pasai dan Aceh Darussalam.
Rancangan bentuknya menyerupai tiang tugu batu yang diukir dan dipenuhi oleh motif hias yang dipahat dalam dengan tema bunga berukuran besar seperti teratai biru atau lotus dan melati atau jasmin. Bentuk dan gaya kaligrafi Islamnya juga sangat berbeda, menggunakan jenis khat Tsulust-Naskhi dengan garis vertical yang melebar dengan ujung-ujung terpotong tajam.
Hanya ada tiga batu nisan plakpleng dari Neusu Aceh. Persebaran batu nisan jenis plakpleng dengan rancangan bentuk dan gaya motif hias serta gaya dan jenis khat kaligrafi Islam cukup luas di Banda Aceh dan Aceh Besar, seperti Kampung Pande, Kampung Tibang, Mukim Tanjong-Tungkop, Kampong Ilie di Mukim Ule Kareng, Mukim Lamrung, dan Mukim Siron.
Rancangan bentuk motif dan gaya seni pahat batu nisan ini sering ditemukan dan secara kronologis yang lebih awal yaitu akhir abad ke-15 M hingga awal abad ke-16 M. Jenis batu nisan plakpleng dari Kampung Pande berasal dari pertengahan akhir abad ke-15 M., yaitu 1460-an M. Guillot & Kalus yang telah membaca teks epitap berhasil membaca beberapa batu nisan jenis ini di Kampung Pande, terutama lima batu nisan yang berada di pemakaman Tuan di Kandang dengan kode TK (Cloude Guillot & Ludvik Kalus, ’Les Monuments Foneraires et l’Histoire du Sultanate de Pase a Sumatra’, Cahierd’ Archipel 37, Paris, 2008, p.326-336).
Batu nisan tersebut yaitu, (i) TK I/03, tahun 849 H. atau 1446 M.; (ii) TK I/04, tahun 865 H. atau 1460 M., (iii) TK I/05, tahun 888 H. atau 1483-1484 M.; (iv) TK I/07, tahun 862 H. atau 1458 M.; (v) TK I/19, tahun 865 H. atau 1461 M. Periode batu nisan plang pleng yaitu dari tahun 1446 s/d 1484 M. Plakpleng dengan teks epitap ‘Kalimah Syahadah’ dari Makam VIII Neusu Aceh Batu nisan jenis plakpleng dengan teks epitap, mungkin kalimah syahadah, ditulis secara terbalik.
Dari Makam VII Neusu Aceh Deddy Satria Arkeolog Independen Aceh REFERENSI: · Achmad Cholid Sodrie, ‘Nisan-Nisan Samudera Pasai’, Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 1992, p. 53-59. · Cloude Guilot dan Ludvik Kalus, ‘Les Monuments Foneraires et l’Histoire du Sultananate de Pase a Sumatera’, Cahierd’ Archipel 37, Paris, 2008. ·
David T. Rice, Islamic Art, Thames and Hudson Limited, London, 1996. · Dalu Lones, ‘The Elements of Decoration: Surface, Pattern dan Light’, Architecture of the Islamic World, (Edited by George Michell), Thames and Hudson, London, 1991.
Hasan M. Ambary, L‘art Funeire Musulman en Indonesie des Origines aux XIXa Siecle, Etude Epigraphique et Typologique, These Pourle Doctorat de Troisieme Cycle, EHESS, Paris, 1984. · Oleg Graber, The Formation of Islamic Art, New Heaven and London, Yale University Press, London, 1973. ·
Othman M. Yatim, Batu Aceh: Early Islamic in Paninsular Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1988. · Othman M. Yatim dan Abdul Halim Nasir, Epigrafi Islam Terawal di Nusantara, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1990. · Yasin Hamid Safadi, Kaligrafi Islam, Thames and Hudson Limited, London, 1978.
http://mizuarmahdi.blogspot.com/2012/01/batu-nisan-tipe-pasai-dari-neusu-aceh.html
LAMURI CIKAL BAKAL KERAJAAN ACEH DARUSSALAM
Awal mula perkembangan kerajaan Lamuri dan letak Geografisnya. Kerajaan La muri juga dikenal dengan banyak nama, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Indra Purba
2. Poli
3. Lamuri ( seperti yang disebutkan oleh Marcopolo)
4. Ramini/Ramni atau Rami ( seperti yang disebutkan oleh pedagang atau ulama Arab yaitu Abu Zayd Hasan,Sulayman ataupun Ibnu Batuthah )
5. Lan-li, Lan-wuli dan Nanpoli ( seperti yang disebut oleh orang Tionghoa.
Berita tentang kerajaan Lamuri diperoleh dari suatu prasasti, yang di tulis pada masa raja Rajendra Cola I pada tahun 1030 di Tanjore ( India Selatan ) serangan Rajendra Cola I, mengakibatkan beberapa kerajaan di Sumatera dan semenanjung Melayu menjadi lemah (1023/1024) dan disebutkan bahwa Rajendra Cola I mengalahkan Ilmauridacam ( Lamuri ) yang telah memberikan perlawanan yang hebat dan dapat dikalahkan dalam suatu pertempuran habis-habisan.
Penyerangan terhadap Lamuri di ujung pulau Sumatera dilakukan karena kerajaan Lamuri merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya yang sebelumnya juga mendapatkan serangan dari kerajaan Cola pada tahun 1017M dan tahun 1023/1024M.
maka dapat disimpulkan bahwa kerajaan ini diperkirakan sudah mulai berdiri pada abad ke IX dan sudah mempunyai angkatan perang yang kuat dan hebat, dibuktikan ketika dengan susah payah diserang oleh kerajaan Cola barulah dapat dikalah kan oleh prajurit kerajaan Cola. Ini membuktikan bahwa kerajaan Lamuri adalah suatu kerajaan yang mempunyai pemerintahan yang teratur dan kuat pada zamannya.
Tentu saja untuk mengatur pemerintahan yang teratur dan kuat angkatan perangnya Lamuri memerlukan sumber-sumber kekayaan yang dihasilkan dari kegiatan perekonomian,pertanian dan lain-lain.
Tentang nama Lamuri diperoleh banyak versi, ada Lamuri seperti yang disebutkan oleh Marcopolo, ada Ramini atau Ramni sebagaimana yang disebutkan oleh orang-orang Arab, sejarah Melayu pun menyebut Lamuri dan orang-orang Tionghoa menyebut Lan-li,Lan-wuli dan Nanpoli.
Seorang saudagar Arab yang bernama Ibnu Khurdadbah (885) menyebutkan bahwa Ramni mempunyai hasil alam berupa kemenyan,bambu,kelapa,gula,beras,kayu cendana. Sedangkan saudagar Sulaiman (851) ketika setelah melewati lautan India bahwa daerah yang dikunjungi nya adalah Ramni.
Abu Zayd Hasan (916) menyebut Rami,juga menceritakan tentang hasil alam dari Rami/Lamuri yaitu kapur barus dan kemenyan, demikian juga dengan Mas’udi (945) dia menyebut Al-Ramin, dimana didapati tambang emas dan letaknya dekat dengan daerah Fansur/Barus yang termasyur dengan kapurnya. Seorang muslim Parsi yang bernama Buzurg ( 955).
Tatkala menunjuk Sriwijaya menyebutkan letaknya di Selatan Lamuri. Dan menurut Buzurg, dari pantai Barus dapat dilakukan perjalanan darat ke Lamuri. Dr. Solomon Muller menulis berita tertentu tentang suatu kerajaan di ujung pulau Sumatera, bersumber dari abad ke-9. dia mengutip Renaudot dalam “ Anciannes relations des Indes et de la Chine” Paris 1718.
Dalam buku ini diperkenalkan nama dua pulau yaitu Ramni dan Fantsoer, dan diceritakan letaknya antara laut Harkand (India) dengan laut Sjalahath ( selat Malaka) di daerah Ramni juga terdapat binatang gajah, dan di perintah oleh berbagai kekuasaan. Sedangkan Fansur disebut kaya dengan kapurnya dan tambang emas.
Telah diceritakan tentang Lamuri atau Lamri atau nama lain yang mirip,terletak di ujung Sumatera utara yaitu di Aceh Besar sekarang. Dan telah diceritakan bahwa Lamuri pun ikut terpukul oleh serangan dari Rajendra Cola I, walaupun tidak sampai runtuh pada tahun 1023 dan 1024.
Dan kira-kira 75 tahun kemudian kerajaan Majapahit melakukan serangan ke Sumatera, diantara yang diserang termasuk kerajaan Samudera Pasai dan Lamuri. Sesudah serangan Majapahit, Lamuri juga pernah didatangi oleh Laksamana Cheng Ho (1414 ) Dari akibat peristiwa yang berlangsung dalam lebih kurang tiga abad ( serangan Cola,serangan
Majapahit dan akhirnya Cheng Ho ) tentunya Lamuri pada akhirnya menjadi lemah. Timbullah di bekasnya beberapa kampong yang akhirnya bersatu atau disatukan kembali dibawah kekuasaan seorang raja, dan kemudian terdengarlah berbagai nama disamping akan lenyapnya Lamuri, diantaranya Darul Kamal, Meukuta Alam, Aceh Darussalam dan juga disebut nama Darud Dunia.
sumber : http://ababil.blogdetik.com/2010/03/21/lamuri-cikal-bakal-kerajaan-aceh-darussalam/
1. Indra Purba
2. Poli
3. Lamuri ( seperti yang disebutkan oleh Marcopolo)
4. Ramini/Ramni atau Rami ( seperti yang disebutkan oleh pedagang atau ulama Arab yaitu Abu Zayd Hasan,Sulayman ataupun Ibnu Batuthah )
5. Lan-li, Lan-wuli dan Nanpoli ( seperti yang disebut oleh orang Tionghoa.
Berita tentang kerajaan Lamuri diperoleh dari suatu prasasti, yang di tulis pada masa raja Rajendra Cola I pada tahun 1030 di Tanjore ( India Selatan ) serangan Rajendra Cola I, mengakibatkan beberapa kerajaan di Sumatera dan semenanjung Melayu menjadi lemah (1023/1024) dan disebutkan bahwa Rajendra Cola I mengalahkan Ilmauridacam ( Lamuri ) yang telah memberikan perlawanan yang hebat dan dapat dikalahkan dalam suatu pertempuran habis-habisan.
Penyerangan terhadap Lamuri di ujung pulau Sumatera dilakukan karena kerajaan Lamuri merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya yang sebelumnya juga mendapatkan serangan dari kerajaan Cola pada tahun 1017M dan tahun 1023/1024M.
maka dapat disimpulkan bahwa kerajaan ini diperkirakan sudah mulai berdiri pada abad ke IX dan sudah mempunyai angkatan perang yang kuat dan hebat, dibuktikan ketika dengan susah payah diserang oleh kerajaan Cola barulah dapat dikalah kan oleh prajurit kerajaan Cola. Ini membuktikan bahwa kerajaan Lamuri adalah suatu kerajaan yang mempunyai pemerintahan yang teratur dan kuat pada zamannya.
Tentu saja untuk mengatur pemerintahan yang teratur dan kuat angkatan perangnya Lamuri memerlukan sumber-sumber kekayaan yang dihasilkan dari kegiatan perekonomian,pertanian dan lain-lain.
Tentang nama Lamuri diperoleh banyak versi, ada Lamuri seperti yang disebutkan oleh Marcopolo, ada Ramini atau Ramni sebagaimana yang disebutkan oleh orang-orang Arab, sejarah Melayu pun menyebut Lamuri dan orang-orang Tionghoa menyebut Lan-li,Lan-wuli dan Nanpoli.
Seorang saudagar Arab yang bernama Ibnu Khurdadbah (885) menyebutkan bahwa Ramni mempunyai hasil alam berupa kemenyan,bambu,kelapa,gula,beras,kayu cendana. Sedangkan saudagar Sulaiman (851) ketika setelah melewati lautan India bahwa daerah yang dikunjungi nya adalah Ramni.
Abu Zayd Hasan (916) menyebut Rami,juga menceritakan tentang hasil alam dari Rami/Lamuri yaitu kapur barus dan kemenyan, demikian juga dengan Mas’udi (945) dia menyebut Al-Ramin, dimana didapati tambang emas dan letaknya dekat dengan daerah Fansur/Barus yang termasyur dengan kapurnya. Seorang muslim Parsi yang bernama Buzurg ( 955).
Tatkala menunjuk Sriwijaya menyebutkan letaknya di Selatan Lamuri. Dan menurut Buzurg, dari pantai Barus dapat dilakukan perjalanan darat ke Lamuri. Dr. Solomon Muller menulis berita tertentu tentang suatu kerajaan di ujung pulau Sumatera, bersumber dari abad ke-9. dia mengutip Renaudot dalam “ Anciannes relations des Indes et de la Chine” Paris 1718.
Dalam buku ini diperkenalkan nama dua pulau yaitu Ramni dan Fantsoer, dan diceritakan letaknya antara laut Harkand (India) dengan laut Sjalahath ( selat Malaka) di daerah Ramni juga terdapat binatang gajah, dan di perintah oleh berbagai kekuasaan. Sedangkan Fansur disebut kaya dengan kapurnya dan tambang emas.
Telah diceritakan tentang Lamuri atau Lamri atau nama lain yang mirip,terletak di ujung Sumatera utara yaitu di Aceh Besar sekarang. Dan telah diceritakan bahwa Lamuri pun ikut terpukul oleh serangan dari Rajendra Cola I, walaupun tidak sampai runtuh pada tahun 1023 dan 1024.
Dan kira-kira 75 tahun kemudian kerajaan Majapahit melakukan serangan ke Sumatera, diantara yang diserang termasuk kerajaan Samudera Pasai dan Lamuri. Sesudah serangan Majapahit, Lamuri juga pernah didatangi oleh Laksamana Cheng Ho (1414 ) Dari akibat peristiwa yang berlangsung dalam lebih kurang tiga abad ( serangan Cola,serangan
Majapahit dan akhirnya Cheng Ho ) tentunya Lamuri pada akhirnya menjadi lemah. Timbullah di bekasnya beberapa kampong yang akhirnya bersatu atau disatukan kembali dibawah kekuasaan seorang raja, dan kemudian terdengarlah berbagai nama disamping akan lenyapnya Lamuri, diantaranya Darul Kamal, Meukuta Alam, Aceh Darussalam dan juga disebut nama Darud Dunia.
sumber : http://ababil.blogdetik.com/2010/03/21/lamuri-cikal-bakal-kerajaan-aceh-darussalam/
Senin, 10 September 2012
Sejarah Aceh Terancam Punah
ADNAN SALEH 10 September 2012 | 08:57
http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/09
/13472420771393640821_300x185.32258064516.jpg
Baru – baru ini, banyak kabar yang diberitakan oleh situs media online di Aceh menyebutkan bahwa tempat yang memiliki peran penting dalam sejarah Aceh akan di ubah menjadi lapangan golf. Pembangunan lapangan golf tersebut di danai oleh investor yang berasal dari negara China. Tak ayal, setelah diketahui oleh sebagian masyarakat, protes – protes pun bermunculan.
Masyarakat khawatir bila nantinya lapangan golf jadi dibangun, maka situs sejarah Aceh akan ikut menghilang. MAPESA (masyarakat peduli sejarah Aceh) dan Ethnic Aceh Institute merupakan bagian dari beberapa LSM yang khawatir bila pembangunan lapangan golf ini jadi dilaksanakan.
Memang wajar kekhawatiran yang mereka sampaikan. Karena di Lamreh, Aceh Besar, tempat keberadaan situs sejarah Lamuri ternyata banyak terdapat artefak – artefak bersejarah yang masih terkubur dan memiliki nilai sejarah yang penting. Bila tak dicegah, maka salah satu bagian penting dari sejarah Aceh akan rata dengan tanah.
Namun, sikap yang justru mendukung pembangunan lapangan golf ternyata disuarakan oleh bupati Aceh Besar yang baru terpilih, Muklis Basyah. Bupati yang di usung oleh partai aceh ini bahkan meminta investor dan perusahaan pelaksana untuk melanjutkan pembangunan lapangan golf.
Walau demikian, suara penolakan dari masyarakat juga tak kalah dibandingkan dukungan yang diberikan oleh bupati kepada pihak investor. Sangat disesalkan memang rencana pembangunan di wilayah yang dahulunya berdiri kerajaan Lamuri tersebut.
Tanah itu sendiri dibeli dengan harga yang sangat murah, yakni Rp 17.000,-. Padahal banyak peneliti yang pernah mengunjungi situs bersejarah itu menyimpulkan bahwa Kerajaan Lamuri merupakan cikal bakal lahirnya Kerajaan Aceh Darussalam yang menjadi kebanggaan rakyat Aceh.
Untunglah BP3I telah turun ke lapangan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam agar nantinya dapat dimasukkan dalam cagar budaya untuk dilindungi. Saat ini aktifitas dari perusahaan investor telah berhenti. Mereka sedang menunggu kesimpulan dari para peneliti dari BP3I.
13472421601452735379 Ilustrasi Mereka adalah PA Bagi masyarakat yang menganggap bahwa situs Lamuri itu penting untuk di jaga, apapun alasan yang diberikan oleh Bupati Aceh Besar maupun investor pembangunan lapangan golf sungguh tidak dapat diterima(sejatinya memang demikian).
Karena investor bisa saja menjadi perusak artefak sejarah Aceh bila tetap melakukan pembangunan di lokasi itu. Seharusnya Bupati Aceh Besar juga meninjau ulang keinginannya itu. Kalau tidak, maka Bupati sama saja menjadi bagian dari PA (perusak artefak) itu sendiri.
Kalau pun pembangunan lapangan golf dianggap sangat penting oleh Muklis Basyah, seharusnya dibangun pada lokasi lain. Bukan ditempat yang memiliki nilai sejarah tersebut. Bila alasan ekonomi menjadi landasan Muklis Basyah tetap bersikukuh mendukung investor, alangkah baiknya bila pembangunan di arahkan pada sektor wisata sejarah dan budaya tanpa harus merusak artefak sejarah. Wisatawan pasti akan berdatangan asalkan tempat wisata itu memang nyaman untuk dikunjungi.
Sudah banyak terjadi dimana – mana, kalau para PA hanya mementingkan keuntungan bisnis pribadi belaka tanpa mau melihat sisi kepentingan lain dari masyarakat dan bangsa ke depan. Mereka PA biasanya beranggapan untuk apa menjaga batu tua yang tak ada gunanya.
Mungkin dalam benak para PA yang ada hanyalah “asal fulus lanjut terus”. Semoga Muklis Basyah selaku Bupati Aceh Besar mengakomodir keinginan masyarakat untuk menghentikan para PA tersebut.
Kalau memang hendak melanjutkan pembangunan lapangan golf, alangkah baiknya dicari tempat lain yang tak memiliki nilai sejarah. Apalagi area lahan tidur di Aceh Besar masih begitu luas. Dengan demikian kekhawatiran masyarakat pun bisa diminimalisir. Mari selamatkan situs sejarah Lamuri di Aceh Besar dari tangan jahat PA.
Adnan Saleh
http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/09
/13472420771393640821_300x185.32258064516.jpg
Baru – baru ini, banyak kabar yang diberitakan oleh situs media online di Aceh menyebutkan bahwa tempat yang memiliki peran penting dalam sejarah Aceh akan di ubah menjadi lapangan golf. Pembangunan lapangan golf tersebut di danai oleh investor yang berasal dari negara China. Tak ayal, setelah diketahui oleh sebagian masyarakat, protes – protes pun bermunculan.
Masyarakat khawatir bila nantinya lapangan golf jadi dibangun, maka situs sejarah Aceh akan ikut menghilang. MAPESA (masyarakat peduli sejarah Aceh) dan Ethnic Aceh Institute merupakan bagian dari beberapa LSM yang khawatir bila pembangunan lapangan golf ini jadi dilaksanakan.
Memang wajar kekhawatiran yang mereka sampaikan. Karena di Lamreh, Aceh Besar, tempat keberadaan situs sejarah Lamuri ternyata banyak terdapat artefak – artefak bersejarah yang masih terkubur dan memiliki nilai sejarah yang penting. Bila tak dicegah, maka salah satu bagian penting dari sejarah Aceh akan rata dengan tanah.
Namun, sikap yang justru mendukung pembangunan lapangan golf ternyata disuarakan oleh bupati Aceh Besar yang baru terpilih, Muklis Basyah. Bupati yang di usung oleh partai aceh ini bahkan meminta investor dan perusahaan pelaksana untuk melanjutkan pembangunan lapangan golf.
Walau demikian, suara penolakan dari masyarakat juga tak kalah dibandingkan dukungan yang diberikan oleh bupati kepada pihak investor. Sangat disesalkan memang rencana pembangunan di wilayah yang dahulunya berdiri kerajaan Lamuri tersebut.
Tanah itu sendiri dibeli dengan harga yang sangat murah, yakni Rp 17.000,-. Padahal banyak peneliti yang pernah mengunjungi situs bersejarah itu menyimpulkan bahwa Kerajaan Lamuri merupakan cikal bakal lahirnya Kerajaan Aceh Darussalam yang menjadi kebanggaan rakyat Aceh.
Untunglah BP3I telah turun ke lapangan untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam agar nantinya dapat dimasukkan dalam cagar budaya untuk dilindungi. Saat ini aktifitas dari perusahaan investor telah berhenti. Mereka sedang menunggu kesimpulan dari para peneliti dari BP3I.
13472421601452735379 Ilustrasi Mereka adalah PA Bagi masyarakat yang menganggap bahwa situs Lamuri itu penting untuk di jaga, apapun alasan yang diberikan oleh Bupati Aceh Besar maupun investor pembangunan lapangan golf sungguh tidak dapat diterima(sejatinya memang demikian).
Karena investor bisa saja menjadi perusak artefak sejarah Aceh bila tetap melakukan pembangunan di lokasi itu. Seharusnya Bupati Aceh Besar juga meninjau ulang keinginannya itu. Kalau tidak, maka Bupati sama saja menjadi bagian dari PA (perusak artefak) itu sendiri.
Kalau pun pembangunan lapangan golf dianggap sangat penting oleh Muklis Basyah, seharusnya dibangun pada lokasi lain. Bukan ditempat yang memiliki nilai sejarah tersebut. Bila alasan ekonomi menjadi landasan Muklis Basyah tetap bersikukuh mendukung investor, alangkah baiknya bila pembangunan di arahkan pada sektor wisata sejarah dan budaya tanpa harus merusak artefak sejarah. Wisatawan pasti akan berdatangan asalkan tempat wisata itu memang nyaman untuk dikunjungi.
Sudah banyak terjadi dimana – mana, kalau para PA hanya mementingkan keuntungan bisnis pribadi belaka tanpa mau melihat sisi kepentingan lain dari masyarakat dan bangsa ke depan. Mereka PA biasanya beranggapan untuk apa menjaga batu tua yang tak ada gunanya.
Mungkin dalam benak para PA yang ada hanyalah “asal fulus lanjut terus”. Semoga Muklis Basyah selaku Bupati Aceh Besar mengakomodir keinginan masyarakat untuk menghentikan para PA tersebut.
Kalau memang hendak melanjutkan pembangunan lapangan golf, alangkah baiknya dicari tempat lain yang tak memiliki nilai sejarah. Apalagi area lahan tidur di Aceh Besar masih begitu luas. Dengan demikian kekhawatiran masyarakat pun bisa diminimalisir. Mari selamatkan situs sejarah Lamuri di Aceh Besar dari tangan jahat PA.
Adnan Saleh
Senin, 03 September 2012
Langganan:
Komentar (Atom)