Senin, 04 Februari 2013

Kerajaan Tua di Bukit Lam Reh

  • Kerajaan Tua di Bukit Lam Reh
    Kerajaan Tua di Bukit Lam Reh

Lam Reh adalah nama sebuah gampong (kampung) di Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Tempat ini dikenal di dunia internasional, karena terdapat peninggalan sejarah berupa benteng dan kompleks makam tua.

Kerajaan Lamuri
 
plak pling
Nisan plak pling di Lam Reh.

Dari isi tulisan (kaligrafi) batu nisan di kompleks makam, para peneliti arkelogi menduga, di tempat ini pernah berdiri sebuah kerajaan Islam yang umurnya lebih tua dari Kesultanan Samudera Pasai. Namanya Kerajaan/Kesultanan Lamuri.

Peneliti sejarah dan antropologi mengetahui adanya Kerajaan Lamuri dari catatan perjalanan penjelajah Cina bernama Ma-Huan yang menyebutkan nama Lam Poli.  Catatan perjalanan lain yang berasal tahun 960, juga menyebutkan sebuah tempat bernama Lanli.  Dalam Prasasti Tanjore yang ditulis tahun 1030, juga disebutkan nama IIamuri-Desam  yang menjadi wilayah taklukan Kerajaan Sriwijaya. Dalam Kitab Nagarakrtagama yang ditulis Mpu Prapanca pada tahun 1365, disebutkan nama Lamuri  sebagai taklukan Kerajaan Majapahit.

Nisan Plak Pling

Apakah Lam Poli, Lanli, Lamuri, dan IIamuri-Desam yang disebutkan di atas sama dengan Lam Reh ?
Itu sangat mungkin, karena di daerah Lam Reh terdapat situs arkeologi berupa reruntuhan benteng, jejak hunian berupa pecahan keramik, dan kompleks makam tua yang memiliki nisan bertuliskan huruf arab.
Menurut penelitian, dari sekitar 84 batu nisan yang ditemukan di 17 kompleks pemakaman, terdapat 28 batu nisan yang memiliki catatan sejarah. Dari kaligrafi di batu nisan, berhasil diungkap 10 nama orang yang diduga adalah raja.

Batu nisan di Lam Reh sangat unik. Penduduk setempat menyebutnya plak pling . Nisan plak pling biasanya digunakan pada makam penguasa atau ulama ternama pada awal penyebaran Islam di Aceh. Nisan ini bentuknya menyerupai tiang batu yang disebut lingga atau pun menhir . Nisan plak pling dihiasi relief bergambar flora, sudut geometris, dan kaligrafi arab.

Di Lam Reh terdapat makam Sultan Sulaiman bin Abdullah , yang wafat tahun 607 H (atau tahun 1211). Makam ini lebih tua dibandingkan makam Sultan Malikussaleh  di Samudera Pasai yang wafat tahun 696 H (atau tahun 1296).

Kesultanan Samudera Pasai dikenal sebagai daerah asal mula penyebaran Islam di Indonesia. Dengan penemuan batu nisan di Lam Reh yang lebih tua dari Samudera Pasai, apakah itu artinya awal peradaban Islam di Indonesia dimulai dari Lam Reh?

Tak Terawat
 
kuta lubok
Benteng Kuta Lubok di Lam Reh.

Keadaan situs Lam Reh ini tidak terawat. Padahal, situs arkeologi yang diduga berasal pada abad 9 ini merupakan situs sejarah yang sangat berharga.

Karena situs ini luput dari perhatian pemerintah, upaya melestarikan dan menggali sejarah peninggalan di Lam Reh pun terabaikan. Malah akhir-akhir ini, tempat ini pun terancam rusak dengan rencana investor dari Cina yang tertarik mengelola daerah Lam Reh untuk dijadikan lapangan golf.

Ya, Lam Reh memang indah dan strategis. Daerah ini memiliki pantai Ujoeng Batee   (ujung batu) yang indah dan langsung menghadap Laut Malaka. Bisa jadi, pada zaman dulu kala, Lam Reh memiliki pelabuhan yang sering disinggahi kapal-kapal dagang dari India, Persia, Cina, dan Eropa.

Bagi orang biasa seperti kita, Lam Reh hanya dikenal sebagai tempat bersejarah. Tetapi bagi peneliti sejarah dan arkelologi, Lam Reh adalah tempat yang sangat berharga yang harus dilindungi karena menyimpan artefak atau benda-benda arkelogi yang bernilai sejarah.

Kalau tidak diurus dan dibiarkan begitu saja tak dirawat, sangat mungkin artefak yang usianya sudah ratusan tahun itu dijarah dan dijual ke kolektor benda antik di luar negeri.

Penelitian tentang sejarah Lam Reh masih panjang. Apakah kamu berminat menelitinya?

Editor: Sigit Wahyu, Sumber foto: ikhwanuzair.blogspot.com, wikipedia.com

Senin, 28 Januari 2013

Nisan di kompleks makam Ratu Nahrisyah


 

Kompleks makam ini berada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Bagian bawah nisan berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian mencapai 80 cm.

Dasarnya tertanam dalam tanah. Badan bagian bawah persegiempat, di tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi, sementara pada Badan bagian atas terdapat hiasan dengan sulur-suluran sederhana dengan motif bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan awan).

Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong. Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran bungong aneu abie (berudu). Kepalanya menyerupai bentuk bawang (ojief) persegi empat.

Terakhir, atapnya berbentuk persegi empat, bersusun tiga, semakin ke atas semakin mengecil.
Salah satu penyebab munculnya nisan plakpling adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisif terhadap unsur luar, meski harus melewati pengolahan, sebagai sebuah bentuk adaptasi dan seleksi.
Ingin tahu lebih lanjut tentang jenis nisan plakpling bisa kunjungi laman balarmedan.wordpress.com atau tulisan dari Jurnal LIPI.  

(*/apakabarsejarah.blogspot.com)

Nisan Plakpling, Warisan Unik Leluhur Aceh

Posted on
 

Nama Lamuri telah dikenal pada awal-awal penyebaran Islam dan cukup diperhitungkan mengingat hasil alamnya yang sangat penting dan amat laku di pasaran internasional.

Informasi awal tentang Lamuri dapat dijumpai dalam buku Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan, yang menyebut-nyebut tempat bernama Lam Poli. Selanjutnya, Negarakertagama mengatakan bahwa Lamuri merupakan sebuah negeri taklukan Majapahit. Nama Lamuri juga disebut dalam prasasti Tanjore (1030). Selain itu, catatan lain menunjukkan jika Lamuri juga disebut sebagai Rami atau Ramni (Abu Zaid Hasan) dan Lambri (Tome Pires).

Berdasarkan temuan arkeologis dan studi geologi, Edwards Mc Kinnon yang menulis kepopulerar Lambri sebagaimana disebut oleh Tome Pires, memperkirakan jika Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc Kinnon menduga terjadi pergeseran ucapan dari Lambaro menjadi Lambri.

Lain halnya dengan Codier yang berpendapat bahwa Lambri dekat dengan Aceh. Codier memperkirakan Lambri berada di suatu tempat yang bernama Lamreh di dekat Tungkup. Pendapat ini kemungkinan lebih tepat mengingat dalam bahasa-bahasa Nusantara huruf vocal i, e, u dan o seringkali mengalami pergeseran artikulasi.

Oleh karena itu, Lamreh lebih mungkin bergeser menjadi Lambri atau Lamuri. Sekarang, daerah yang disebut Lamreh tersebut menjadi bagian dari Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.
Di Lamreh inilah dapat dijumpai beberapa peninggalan sejarah, di antaranya Benteng Indrapatra, Benteng Kuta Lubuk dan Benteng Inong Balee (Benteng Malahayati).

Peninggalan lainnya berupa nisan-nisan berbentuk unik yang berlokasi di ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubuk dan Benteng Inong Balee.berdasarkan kebiasaan penduduk setempat, nisan-nisan itu disebut nisan Plakpling.

Nisan Plakpling kemungkinan merupakan bentuk peralihan dari praIslam ke Islam. Beberapa peneliti sependapat jika nisan Plakpling digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad XVI atau lebih awal. Salah satu nisan bahkan berangka tahun 680 H (1211 M).

Nisan-nisan tipe ini banyak tersebar di hampir semua tempat di Aceh. Bentuknya cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir dan dilengkapi pola hias berupa pahatan flora, geometris dan kaligrafi. Nisan-nisan tersebut merupakan kelanjutan atau bersumber pada tradisi prasejarah dan klasik. Berikut ini beberapa contoh nisan Plakpling yang terdapat di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Besar.

Kompleks makam ini berada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Bagian bawah nisan berukuran, lebar 14 cm, dengan ketinggian mencapai 80 cm. Dasarnya tertanam dalam tanah. Badan bagian bawah persegiempat, di tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi, sementara pada Badan bagian atas terdapat hiasan dengan sulur-suluran sederhana dengan motif bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan awan).

Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong. Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran bungong aneu abie (berudu). Kepalanya menyerupai bentuk bawang (ojief) persegi empat. Terakhir, atapnya berbentuk persegi empat, bersusun tiga, semakin ke atas semakin mengecil.
Pecahan Alat rumah tangga, biasaya para arkeolog menyebutnya dengan tembikar
semua ini berserakan di kawasan perbukian Lamreh Atau lamuri, hal ini membuktikan bahwa daerah tersebut pernah menjadi kawasan padat penduduk
Pecahan Alat rumah tangga, biasaya para arkeolog menyebutnya dengan tembikar
semua ini  berserakan di kawasan perbukian Lamreh Atau lamuri, hal ini membuktikan bahwa daerah tersebut pernah menjadi kawasan padat penduduk

Kamis, 24 Januari 2013

Situs Kerajaan Lamuri Nyaris Musnah

Kamis, 3 Januari 2013 | 21:46 WIB

 

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Situs Kerajaan Lamuri di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, kini tidak terurus dan berserakan. Situs bekas cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam seluas 300 hektar itu kini terancam musnah seiring rencana pembangunan lapangan golf di area tersebut.

Pengamatan di Bukit Lamreh, Rabu (2/1/2012), tak tampak upaya pelestarian dari badan atau dinas terkait. Padahal, dalam setengah tahun terakhir, desakan agar kawasan itu dilestarikan menguat dari sejumlah elemen masyarakat di Aceh seiring rencana pembangunan lapangan golf.

Batu-batu nisan berhias tulisan Arab Jawi tampak berserakan. Ada pula tumpukan batu-batu yang diduga bekas fondasi bangunan kuno kompleks Kerajaan Lamuri, yang sebagian telah tertimbun tanah di areal perbukitan tersebut.

Kumpulan-kumpulan manuskrip batu itu lokasinya tak jauh dari Benteng Inong Balee, yang menjadi saksi sejarah perlawanan perempuan Aceh melawan penjajah Barat di bawah pimpinan Laksamana Malahayati. Bahkan, kondisi benteng tersebut juga tak lebih baik. Sejumlah sisi bangunan tampak rusak dan tidak ada penunjuk jalan.

Abdullah (40), warga Desa Lamreh, mengaku, pada tahun 2009, investor datang ke lokasi itu dan berencana menjadikan kawasan seluas 110 hektar di perbukitan Lamreh ini sebagai lapangan golf. Abdullah, misalnya, merelakan lahan seluas 5 hektar untuk diganti rugi sebesar Rp 500 juta.

Peneliti sejarah Aceh, Teungku Taqiyyuddin, menegaskan Lamuri merupakan sebuah peninggalan Kerajaan Islam Pra-Aceh Darussalam, baik cikal-bakal dari segi nasab maupun pengaruhnya. Sejumlah nisan di kawasan itu ternyata memiliki hubungan pengaruh dengan Kompleks Makam Tuan Di Kandang yang berada di Kampong Pande, Banda Aceh, ataupun dengan beberapa makam di Pango Raya, Ulee Kareng, Neusu, Kandang-Pidie, dan Meureuhom Daya.

”Ini merupakan petunjuk bahwa pengaruh Lamuri itu meluas dan melebur menjadi Aceh Darussalam,” lanjutnya.

Pakar sejarah Aceh dari Universitas Syiah Kuala, Adli Abdullah, meminta Pemerintah Aceh Besar menghentikan pembangunan lapangan golf di lokasi situs Kerajaan Lamuri di Lamreh. Pemerintah juga harus cepat tanggap menyelamatkan kawasan itu dan menetapkannya dalam kawasan aset sejarah yang dilindungi sebagai bukti kejayaan sejarah Aceh masa lalu. (HAN)
 
Sumber :
Kompas Cetak
 
Editor :
yunan