Kompleks makam ini berada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera,
Kabupaten Aceh Utara. Bagian bawah nisan berukuran, lebar 14 cm, dengan
ketinggian mencapai 80 cm.
Dasarnya tertanam dalam tanah. Badan bagian bawah persegiempat, di
tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi, sementara pada Badan
bagian atas terdapat hiasan dengan sulur-suluran sederhana dengan motif
bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan awan).
Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong.
Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran
bungong aneu abie (berudu). Kepalanya menyerupai bentuk bawang (ojief)
persegi empat.
Terakhir, atapnya berbentuk persegi empat, bersusun tiga,
semakin ke atas semakin mengecil.
Salah satu penyebab munculnya nisan plakpling adalah karena latar
belakang sejarah budaya nusantara yang permisif terhadap unsur luar,
meski harus melewati pengolahan, sebagai sebuah bentuk adaptasi dan
seleksi.
Ingin tahu lebih lanjut tentang jenis nisan plakpling bisa kunjungi laman balarmedan.wordpress.com atau tulisan dari Jurnal LIPI.
Nama
Lamuri telah dikenal pada awal-awal penyebaran Islam dan cukup
diperhitungkan mengingat hasil alamnya yang sangat penting dan amat laku
di pasaran internasional.
Informasi awal tentang Lamuri dapat dijumpai dalam buku Ma Huan,
Ying-yai Sheng-lan, yang menyebut-nyebut tempat bernama Lam Poli.
Selanjutnya, Negarakertagama mengatakan bahwa Lamuri merupakan sebuah
negeri taklukan Majapahit. Nama Lamuri juga disebut dalam prasasti
Tanjore (1030). Selain itu, catatan lain menunjukkan jika Lamuri juga
disebut sebagai Rami atau Ramni (Abu Zaid Hasan) dan Lambri (Tome
Pires).
Berdasarkan temuan arkeologis dan studi geologi, Edwards Mc Kinnon
yang menulis kepopulerar Lambri sebagaimana disebut oleh Tome Pires,
memperkirakan jika Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu,
berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc Kinnon menduga
terjadi pergeseran ucapan dari Lambaro menjadi Lambri.
Lain halnya dengan Codier yang berpendapat bahwa Lambri dekat dengan
Aceh. Codier memperkirakan Lambri berada di suatu tempat yang bernama
Lamreh di dekat Tungkup. Pendapat ini kemungkinan lebih tepat mengingat
dalam bahasa-bahasa Nusantara huruf vocal i, e, u dan o seringkali
mengalami pergeseran artikulasi.
Oleh karena itu, Lamreh lebih mungkin
bergeser menjadi Lambri atau Lamuri. Sekarang, daerah yang disebut
Lamreh tersebut menjadi bagian dari Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten
Aceh Besar.
Di Lamreh inilah dapat dijumpai beberapa peninggalan sejarah, di
antaranya Benteng Indrapatra, Benteng Kuta Lubuk dan Benteng Inong Balee
(Benteng Malahayati).
Peninggalan lainnya berupa nisan-nisan berbentuk
unik yang berlokasi di ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubuk dan
Benteng Inong Balee.berdasarkan kebiasaan penduduk setempat, nisan-nisan
itu disebut nisan Plakpling.
Nisan Plakpling kemungkinan merupakan bentuk peralihan dari praIslam
ke Islam. Beberapa peneliti sependapat jika nisan Plakpling digunakan
pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad
XVI atau lebih awal. Salah satu nisan bahkan berangka tahun 680 H (1211
M).
Nisan-nisan tipe ini banyak tersebar di hampir semua tempat di Aceh.
Bentuknya cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir dan
dilengkapi pola hias berupa pahatan flora, geometris dan kaligrafi.
Nisan-nisan tersebut merupakan kelanjutan atau bersumber pada tradisi
prasejarah dan klasik. Berikut ini beberapa contoh nisan Plakpling yang
terdapat di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Besar.
Kompleks makam ini berada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera,
Kabupaten Aceh Utara. Bagian bawah nisan berukuran, lebar 14 cm, dengan
ketinggian mencapai 80 cm. Dasarnya tertanam dalam tanah. Badan bagian
bawah persegiempat, di tiap sisi terdapat panil-panil berisi kaligrafi,
sementara pada Badan bagian atas terdapat hiasan dengan sulur-suluran
sederhana dengan motif bungong awan si tangke (unsur tunggal hiasan
awan).
Di bagian tengah terdapat panil yang dibiarkan dalam keadaan kosong.
Terpisah dari bagian kepala terdapat panil horisontal berisi ukiran
bungong aneu abie (berudu). Kepalanya menyerupai bentuk bawang (ojief)
persegi empat. Terakhir, atapnya berbentuk persegi empat, bersusun tiga,
semakin ke atas semakin mengecil.
Pecahan Alat rumah tangga, biasaya para arkeolog menyebutnya dengan tembikar
semua ini berserakan di kawasan perbukian Lamreh Atau lamuri, hal ini
membuktikan bahwa daerah tersebut pernah menjadi kawasan padat penduduk
BANDA ACEH, KOMPAS.com - Situs Kerajaan Lamuri di
Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, kini tidak terurus dan
berserakan. Situs bekas cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam seluas 300
hektar itu kini terancam musnah seiring rencana pembangunan lapangan
golf di area tersebut.
Pengamatan di Bukit Lamreh, Rabu
(2/1/2012), tak tampak upaya pelestarian dari badan atau dinas terkait.
Padahal, dalam setengah tahun terakhir, desakan agar kawasan itu
dilestarikan menguat dari sejumlah elemen masyarakat di Aceh seiring
rencana pembangunan lapangan golf.
Batu-batu nisan berhias
tulisan Arab Jawi tampak berserakan. Ada pula tumpukan batu-batu yang
diduga bekas fondasi bangunan kuno kompleks Kerajaan Lamuri, yang
sebagian telah tertimbun tanah di areal perbukitan tersebut.
Kumpulan-kumpulan
manuskrip batu itu lokasinya tak jauh dari Benteng Inong Balee, yang
menjadi saksi sejarah perlawanan perempuan Aceh melawan penjajah Barat
di bawah pimpinan Laksamana Malahayati. Bahkan, kondisi benteng tersebut
juga tak lebih baik. Sejumlah sisi bangunan tampak rusak dan tidak ada
penunjuk jalan.
Abdullah (40), warga Desa Lamreh, mengaku, pada
tahun 2009, investor datang ke lokasi itu dan berencana menjadikan
kawasan seluas 110 hektar di perbukitan Lamreh ini sebagai lapangan
golf. Abdullah, misalnya, merelakan lahan seluas 5 hektar untuk diganti
rugi sebesar Rp 500 juta.
Peneliti sejarah Aceh, Teungku
Taqiyyuddin, menegaskan Lamuri merupakan sebuah peninggalan Kerajaan
Islam Pra-Aceh Darussalam, baik cikal-bakal dari segi nasab maupun
pengaruhnya. Sejumlah nisan di kawasan itu ternyata memiliki hubungan
pengaruh dengan Kompleks Makam Tuan Di Kandang yang berada di Kampong
Pande, Banda Aceh, ataupun dengan beberapa makam di Pango Raya, Ulee
Kareng, Neusu, Kandang-Pidie, dan Meureuhom Daya.
”Ini merupakan petunjuk bahwa pengaruh Lamuri itu meluas dan melebur menjadi Aceh Darussalam,” lanjutnya.
Pakar
sejarah Aceh dari Universitas Syiah Kuala, Adli Abdullah, meminta
Pemerintah Aceh Besar menghentikan pembangunan lapangan golf di lokasi
situs Kerajaan Lamuri di Lamreh. Pemerintah juga harus cepat tanggap
menyelamatkan kawasan itu dan menetapkannya dalam kawasan aset sejarah
yang dilindungi sebagai bukti kejayaan sejarah Aceh masa lalu. (HAN)