23 September 2013 RUSLAN JUSUF
Ilustrasi/Admin (Kompas.com)
SETELAH sekian lama vakum dari dunia literasi, kembali terbesit dalam benak saya akan nasib situs-situs artefak peninggalan Kerajaan Lamuri yang berada di Aceh Besar. Untuk itulah, saya kembali mengangkat cagar budaya Lamuri dalam tulisan ini. Sebagai salah seorang putra Aceh, sudah seharusnya salah satu bukti sejarah endatu (leluhur), kami selamatkan dari pemusnahan secara sistematis oleh orang-orang munafik. Pada tahun 2012, gaung penyelamatan bekas Kerajaan Lamuri banyak menghiasi berbagai media cetak dan elektronik di Aceh. Mulai dari aktivis, budayawan, sejarawan hingga politisi, ”berebut” memberikan argumen yang berkeinginan agar situs Lamuri tetap dipertahankan keberadaanya serta menolak dengan keras pembangunan lapangan golf, yang rencananya akan dibangun di kawasan tersebut.
Setahun atau bahkan lebih, heboh kasus Lamuri telah berlalu. Namun, bagaimana kabarnya kini? Masih suatu tanda tanya besar. ”Angin surga” yang pernah dihembuskan oleh beberapa anggota DPR Aceh, ternyata hanyalah isapan jempol belaka. Konkritnya, hingga kini banyak peninggalan sejarah dan budaya Kerajaan Lamuri masih terbengkalai. Lokasinya ditutupi semak belukar, artefak-artefak sisa kejayaan Lamuri berserakan hingga pemugaran yang belum dilaksanakan sebagaimana janji yang pernah disampaikan oleh orang nomor satu di Aceh Besar.
1379914178872665939
Makam Maulana Qadhi Sadrul Islam Isma
Embrio Kerajaan Aceh Darussalam
Menurut salah seorang peneliti sejarah Aceh, Teungku Taqiyuddin Muhammad, Kerajaan Lamuri merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Kerajaan Aceh Darussalam merupakan salah satu dari 5 (lima) besar kekuatan Islam yang tangguh pada masanya. Kelimanya terikat dalam suatu kerja sama ekonomi, politik, militer dan kebudayaan. Antara lain, terdiri dari, 1) Kerajaan Turki Usmaniyah, yang berpusat di Istambul; 2) Kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara; 3) Kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah; 4) Kerajaan Akra di India; 5) Kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara, [lihat A. Hajsmy, "Banda Aceh Darussalam Pusat Kegiatan Ilmu dan Kebudayaan", dalam Ismail Suny (ed.), Bunga Rampai tentang Aceh, (Jakarta: Bhrata Karya Aksara, 1980), 208]. Puncak kejayaan dari Kerajaan Aceh Darussalam adalah di masa kepemimpinan Sulthan Iskandar Muda (1607-1636 M).
Mengingat jejak sejarahnya yang memberikan andil besar terhadap kemunculan Kerajaan Aceh Darussalam, maka sangat penting menjaga sisa-sisa warisan kerajaan Lamuri agar tidak lenyap. Sebab, ini merupakan bukti konkret kekayaan sejarah dan budaya Aceh.
Senada dengan Taqiyuddin, pemerhati sejarah Aceh lainnya, M Adli Abdullah, yang banyak menuliskan topik-topik mengenai budaya dan sejarah, juga mengungkapkan keprihatinan yang sama. Ia menuturkan bahwa ketidakpedulian pemerintah terhadap situs Lamuri telah menyebabkan timbulnya klaim bahwa Kerajaan Lamuri dahulunya terletak di Jambi. ”Padahal bukti-bukti sejarah menunjukkan Lamuri berada di Aceh. Maka hal ini perlu dijaga sebagai pembuktian sejarah”, pungkasnya. (tgj.co.id)
ForLamuri
Kekhawatiran akan nasib situs Lamuri yang terancam oleh pembangunan lapangan golf, maka beberapa LSM dan Ormas berinisiatif untuk mengadvokasi bekas kawasan Kerajaan Lamuri tersebut. Karena itu, dibentuklah Forum Penyelamatan Lamuri (ForLamuri).
Dalam pernyataannya, ForLamuri menegaskan bahwa pembangunan lapangan golf di kawasan seluas 300 Ha itu harus segera dihentikan. Sebab, dapat memusnahkan warisan sejarah dan budaya Kerajaan Lamuri.
ForLamuri meminta agar pemerintah Aceh Besar melindungi cagar budaya Lamuri. Khusus untuk investor pembangunan lapangan golf, ForLamuri mendesak agar lokasi pembangunan dipindahkan ke wilayah lain yang tidak menyimpan warisan sejarah Aceh. Ini dikarenakan, jika pembangunan lapangan golf dianggap ”sangat penting”, maka carilah kawasan yang cocok, tapi tidak menganggu peninggalan budaya dan sejarah Aceh serta masyarakat di sekitarnya.
Masih terbengkalai
Walau telah mendapat perhatian dan desakan yang luas agar situs Lamuri dipugar dan dijadikan cagar budaya, tapi kenyataannya hingga kini belum ada reaksi cepat dari pihak-pihak terkait. Sisa-sisa Kerajaan Lamuri seperti, makam, nisan plak-pling dan artefak-artefak, masih saja berserakan dan terbengkalai. Semak belukar masih terlihat ”mengepung” area tersebut. Bagaimanakah kelanjutannya? Belum ada jawaban yang pasti.
Masyarakat yang pro dan kontra pembangunan lapangan golf sama-sama teguh dengan pendiriannya masing-masing. Pemerintah Aceh Besar terkesan lepas tangan dalam hal ini. Mediasi yang pernah digagas di HOTEL The Pade, layaknya ”gencatan senjata”. Penetapan kawasan bekas berdirinya Kerajaan Lamuri masih harus ”menunggu” hasil penelitian yang mendalam. Kapankah penelitian itu akan selesai? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Semoga kepentingan pihak tertentu untuk meraup rupiah, tidak menyebabkan warisan sejarah dan budaya Lamuri musnah dari bumi Aceh. Karena, bila ini terjadi, ke manakah generasi Aceh akan pergi untuk menelusuri jejak sejarah endatunya?
Ruslan
Rabu, 22 Oktober 2014
Sejarah (Aceh) Nisan Lamuri, Saksi Kejayaan Masa Lalu
28 Januari 2014 RUSLAN JUSUF
13909276671910327192
Salah satu Nisan Plak pling sisa Kerajaan Lamuri (Sumber: http://seputaraceh.com/wp-content/uploads/2012/11/Nisan-Lamreh.jpg)
BERADA di Lamreh, Aceh Besar, atau sekitar 30 km dari Banda Aceh; Dahulu berdiri suatu Kerajaan yang dinamakan Lamuri. Banyak versi tentang nama Kerajaan tersebut. Ada yang menyebutnya Ramni, Lambri, Lan-li, Lan-wu-li, dan tentu saja Lamuri.
Masa lalu tentang Kerajaan ini, dapat dilihat lebih jelas melalui batu nisan makam pembesarnya, benteng pertahanan dan sisa-sisa keramik yang tersebar luas tak beraturan, pada bekas wilayah Kerajaan tersebut. Ada beberapa literatur dan catatan yang membahas tentang sejarah Kerajaan Lamuri. Khususnya, dituliskan oleh para penjelajah yang pernah singgah dan tinggal di sana.
Kerajaan Lamuri, juga pernah di invasi oleh Kerajaan Chola (300 SM – 1279 M) yang pusatnya berada di wilayah Selatan anak benua India – kini masuk dalam wilayah administrasi Negara Federal India, di bagian Selatan yang banyak di huni oleh etnis Tamil – untuk memperluas wilayahnya.
Wilayah tempat dahulunya menjadi pusat Pemerintahan Lamuri yang luasnya sekitar 300 Ha, kondisinya sungguh memprihatinkan. Banyak artefak nisan-nisan yang menjadi saksi kejayaan masa lalu Lamuri, terbengkalai dan berserakan begitu saja. Tanpa ada perhatian yang memadai dari pihak pembuat kebijakan di Pemerintahan. Bahkan sebelumnya, hendak dijadikan sebagai lapangan golf. Walaupun akhirnya tidak terlaksana. Kondisi ini juga ditayangkan oleh salah satu media swasta tersohor di Indonesia, dalam acara MELAWAN LUPA: LAMURI, KEJAYAAN YANG TERLUPAKAN (1, 2, 3) – [metrotvnews.com, 08/01/2014].
Informasi awal tentang keberadaan Lamuri dapat dijumpai pada catatan Cina, oleh seorang perantau Muslim, Ma-Huan dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan disebutkan terdapat nama Lam-Poli. De Casparis menyatakan nama Poli dapat disamakan dengan Puri, lengkapnya Lam-Poli atau Lam-puri—Dalam-Puri — Lamri, namun sampai sejauh mana persamaan Poli dengan Lamuri belum dapat dipastikan. Dalam catatan lain yang berasal dari tahun 960 M, tersebut nama Lanli sebagai sebuah tempat persinggahan utusan-utusan dari Persia saat kembali dari Cina setelah menempuh perjalanan selama 40 hari menunggu musim yang baik untuk melanjutkan perjalanan pulang ke negerinya (Montana, 1996/1997:84).
Edwards Mc. Kinnon menulis tentang kepopuleran Lambri, yang terletak di ujung utara Aceh. Mengutip dari berbagai tulisan tentang Lambri, ia menyebutkan bahwa pada tahun 916 M, Lambri telah disebut oleh Abu Zaid Hasan sebagai Rami/Ramni. Kepopuleran Ramni banyak diperbincangkan oleh para ahli, termasuk Tome Pires dalam bukunya “The Suma Oriental of Tome Pires”. Berdasarkan temuan arkeolgis berupa keramik Cina dan studi geologi, Mc. Kinnon berkesimpulan bahwa Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc. Kinnon menduga terjadi pergeseran ucapan menjadi Lambri (Kinnon,1988:103-121).
Codier yang mengutip pandangan Groeneveldt, yang berpendapat bahwa Lambri dekat dengan Aceh. Selanjutnya Codier memperkirakan Lambri terletak di suatu tempat yang bernama Lamreh dekat dengan Tungkop. Pendapat Codier ini kemungkinan lebih tepat, mengingat dalam bahasa-bahasa nusantara, vokal i dan e lebih mungkin mengalami pergeseran artikulasi, demikian juga dengan vokal u dan o, sehingga ucapan Lamreh lebih mungkin bergeser menjadi Lamri, Lamuri ataupun Lambri (Montana,1996/1997:85).
Dari catatan lain disebutkan, bahwa “penduduk Lan-wu-li sebagian berdiam di bukit-bukit dan jumlah mereka sedikit”. Hal ini menunjukkan bahwa Lamuri tidaklah terletak di lembah Aceh, tetapi pada sejalur pantai kecil yang diperkirakan berada di daerah sekitar Krueng Raya. Meskipun pusat kerajaannya sempit namun wilayah kekuasaannya meluas sampai ke sebagian lembah Aceh (Iskandar,1973: 28-30).
Beberapa peninggalan arkeologis sampai saat ini masih dapat kita temukan di sekitar Krueng Raya. Peninggalan-peninggalan arkeologis tersebut, tampak cukup megah di sepanjang daratan sempit di daerah yang saat ini disebut gampong (desa) Lamreh.
Nisan Plak Pling, Sebagian Bukti Arkeologis Lamuri
Gampong Lamreh terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Di Lamreh ini, tepatnya berada ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubok dengan Benteng Inong Balee, terdapat beberapa buah nisan yang memiliki bentuk unik. Batu nisan tersebut secara umum berbentuk batu tegak atau tugu persegi empat yang makin keatas makin meruncing, membentuk piramida. Berdasarkan informasi penduduk, batu nisan tersebut dinamakan nisan Plak pling. Beberapa peneliti sependapat bahwa nisan-nisan tersebut digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad ke-16 atau lebih awal dari itu (Montana,1996/1997: 90).
Bentuk nisan ini cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir. Nisan-nisan tersebut memiliki bentuk yang bersumber pada tradisi sebelumnya, pra-sejarah dan klasik. Nisan tersebut dilengkapi dengan pola hias, berupa pahatan flora, geometris atau kaligrafi.
Salah satu penyebab munculnya nisan tipe-tipe lokal (plakpling) adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisive terhadap anasir yang datang dari luar. Kreativitas mengubah dan menggubah anasir asing menjadi anasir nusantara merupakan strategi adaptasi. Corak lokal merupakan wujud dari kebebasan seniman ataupun model yang berkembang dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. Perkembangan bentuk dari yang sederhana sampai pada yang rumit adalah sebagai respon dari pengetahuan, teknologi yang mereka peroleh (Ambary,1991:1–21).
Nisan plak pling terdapat hampir diseluruh wilayah Aceh, dengan populasi terbanyak di Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Menilik bentuk dari nisan-nisan tipe ini, kemungkinan nisan ini merupakan tipe nisan yang dipakai berkelanjutan, mulai dari masa-masa awal kedatangan Islam sampai pada beberapa abad sesudahnya. Nisan tipe ini masih digunakan berdampingan dengan periode sesudahnya, walaupun pada masa itu telah terjadi perubahan trend tipe nisan, yaitu nisan tipe Gujarat atau tipe-tipe “Batu Aceh” lainnya.
Keberadaan nisan – nisan plak pling di Aceh adalah bukti bahwa kejayaan masa lalu Aceh sangat mengagumkan. Namun, jangan membandingkannya dengan kondisi saat ini. Sebab, jangankan meraih kembali kejayaan yang telah hilang, merawat warisan sejarah pun Pemerintah masih belum mampu.
Ruslan Jusuf
13909276671910327192
Salah satu Nisan Plak pling sisa Kerajaan Lamuri (Sumber: http://seputaraceh.com/wp-content/uploads/2012/11/Nisan-Lamreh.jpg)
BERADA di Lamreh, Aceh Besar, atau sekitar 30 km dari Banda Aceh; Dahulu berdiri suatu Kerajaan yang dinamakan Lamuri. Banyak versi tentang nama Kerajaan tersebut. Ada yang menyebutnya Ramni, Lambri, Lan-li, Lan-wu-li, dan tentu saja Lamuri.
Masa lalu tentang Kerajaan ini, dapat dilihat lebih jelas melalui batu nisan makam pembesarnya, benteng pertahanan dan sisa-sisa keramik yang tersebar luas tak beraturan, pada bekas wilayah Kerajaan tersebut. Ada beberapa literatur dan catatan yang membahas tentang sejarah Kerajaan Lamuri. Khususnya, dituliskan oleh para penjelajah yang pernah singgah dan tinggal di sana.
Kerajaan Lamuri, juga pernah di invasi oleh Kerajaan Chola (300 SM – 1279 M) yang pusatnya berada di wilayah Selatan anak benua India – kini masuk dalam wilayah administrasi Negara Federal India, di bagian Selatan yang banyak di huni oleh etnis Tamil – untuk memperluas wilayahnya.
Wilayah tempat dahulunya menjadi pusat Pemerintahan Lamuri yang luasnya sekitar 300 Ha, kondisinya sungguh memprihatinkan. Banyak artefak nisan-nisan yang menjadi saksi kejayaan masa lalu Lamuri, terbengkalai dan berserakan begitu saja. Tanpa ada perhatian yang memadai dari pihak pembuat kebijakan di Pemerintahan. Bahkan sebelumnya, hendak dijadikan sebagai lapangan golf. Walaupun akhirnya tidak terlaksana. Kondisi ini juga ditayangkan oleh salah satu media swasta tersohor di Indonesia, dalam acara MELAWAN LUPA: LAMURI, KEJAYAAN YANG TERLUPAKAN (1, 2, 3) – [metrotvnews.com, 08/01/2014].
Informasi awal tentang keberadaan Lamuri dapat dijumpai pada catatan Cina, oleh seorang perantau Muslim, Ma-Huan dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan disebutkan terdapat nama Lam-Poli. De Casparis menyatakan nama Poli dapat disamakan dengan Puri, lengkapnya Lam-Poli atau Lam-puri—Dalam-Puri — Lamri, namun sampai sejauh mana persamaan Poli dengan Lamuri belum dapat dipastikan. Dalam catatan lain yang berasal dari tahun 960 M, tersebut nama Lanli sebagai sebuah tempat persinggahan utusan-utusan dari Persia saat kembali dari Cina setelah menempuh perjalanan selama 40 hari menunggu musim yang baik untuk melanjutkan perjalanan pulang ke negerinya (Montana, 1996/1997:84).
Edwards Mc. Kinnon menulis tentang kepopuleran Lambri, yang terletak di ujung utara Aceh. Mengutip dari berbagai tulisan tentang Lambri, ia menyebutkan bahwa pada tahun 916 M, Lambri telah disebut oleh Abu Zaid Hasan sebagai Rami/Ramni. Kepopuleran Ramni banyak diperbincangkan oleh para ahli, termasuk Tome Pires dalam bukunya “The Suma Oriental of Tome Pires”. Berdasarkan temuan arkeolgis berupa keramik Cina dan studi geologi, Mc. Kinnon berkesimpulan bahwa Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc. Kinnon menduga terjadi pergeseran ucapan menjadi Lambri (Kinnon,1988:103-121).
Codier yang mengutip pandangan Groeneveldt, yang berpendapat bahwa Lambri dekat dengan Aceh. Selanjutnya Codier memperkirakan Lambri terletak di suatu tempat yang bernama Lamreh dekat dengan Tungkop. Pendapat Codier ini kemungkinan lebih tepat, mengingat dalam bahasa-bahasa nusantara, vokal i dan e lebih mungkin mengalami pergeseran artikulasi, demikian juga dengan vokal u dan o, sehingga ucapan Lamreh lebih mungkin bergeser menjadi Lamri, Lamuri ataupun Lambri (Montana,1996/1997:85).
Dari catatan lain disebutkan, bahwa “penduduk Lan-wu-li sebagian berdiam di bukit-bukit dan jumlah mereka sedikit”. Hal ini menunjukkan bahwa Lamuri tidaklah terletak di lembah Aceh, tetapi pada sejalur pantai kecil yang diperkirakan berada di daerah sekitar Krueng Raya. Meskipun pusat kerajaannya sempit namun wilayah kekuasaannya meluas sampai ke sebagian lembah Aceh (Iskandar,1973: 28-30).
Beberapa peninggalan arkeologis sampai saat ini masih dapat kita temukan di sekitar Krueng Raya. Peninggalan-peninggalan arkeologis tersebut, tampak cukup megah di sepanjang daratan sempit di daerah yang saat ini disebut gampong (desa) Lamreh.
Nisan Plak Pling, Sebagian Bukti Arkeologis Lamuri
Gampong Lamreh terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Di Lamreh ini, tepatnya berada ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubok dengan Benteng Inong Balee, terdapat beberapa buah nisan yang memiliki bentuk unik. Batu nisan tersebut secara umum berbentuk batu tegak atau tugu persegi empat yang makin keatas makin meruncing, membentuk piramida. Berdasarkan informasi penduduk, batu nisan tersebut dinamakan nisan Plak pling. Beberapa peneliti sependapat bahwa nisan-nisan tersebut digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad ke-16 atau lebih awal dari itu (Montana,1996/1997: 90).
Bentuk nisan ini cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir. Nisan-nisan tersebut memiliki bentuk yang bersumber pada tradisi sebelumnya, pra-sejarah dan klasik. Nisan tersebut dilengkapi dengan pola hias, berupa pahatan flora, geometris atau kaligrafi.
Salah satu penyebab munculnya nisan tipe-tipe lokal (plakpling) adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisive terhadap anasir yang datang dari luar. Kreativitas mengubah dan menggubah anasir asing menjadi anasir nusantara merupakan strategi adaptasi. Corak lokal merupakan wujud dari kebebasan seniman ataupun model yang berkembang dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. Perkembangan bentuk dari yang sederhana sampai pada yang rumit adalah sebagai respon dari pengetahuan, teknologi yang mereka peroleh (Ambary,1991:1–21).
Nisan plak pling terdapat hampir diseluruh wilayah Aceh, dengan populasi terbanyak di Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Menilik bentuk dari nisan-nisan tipe ini, kemungkinan nisan ini merupakan tipe nisan yang dipakai berkelanjutan, mulai dari masa-masa awal kedatangan Islam sampai pada beberapa abad sesudahnya. Nisan tipe ini masih digunakan berdampingan dengan periode sesudahnya, walaupun pada masa itu telah terjadi perubahan trend tipe nisan, yaitu nisan tipe Gujarat atau tipe-tipe “Batu Aceh” lainnya.
Keberadaan nisan – nisan plak pling di Aceh adalah bukti bahwa kejayaan masa lalu Aceh sangat mengagumkan. Namun, jangan membandingkannya dengan kondisi saat ini. Sebab, jangankan meraih kembali kejayaan yang telah hilang, merawat warisan sejarah pun Pemerintah masih belum mampu.
Ruslan Jusuf
Langganan:
Komentar (Atom)